Jumat, 30 Oktober 2015

Hadits Arbain Ke 1 Tentang Niat dan Ikhlas "Innamal A'malu Binniyat"

Hadits Arbain Ke 1 Tentang Niat dan Ikhlas



عن أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول " إنما الأعمال بالنيات , وإنما لكل امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله , ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها و امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه " متفق عليه

Terjemahan:

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu 'anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”.

Berikut ini Video Kajian Hadits Arbain ke 1 yang disampaikan oleh ustazd Abdul Somad LC MA






[Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits yaitu Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari (orang Bukhara) dan Abul Husain Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi di dalam kedua kitabnya yang paling shahih di antara semua kitab hadits. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907]
armaila Hadits Arbain Ke 1 Tentang Niat dan Ikhlas


Penjelasan:

Hadits ini adalah Hadits shahih yang telah disepakati keshahihannya, ketinggian derajatnya dan didalamnya banyak mengandung manfaat. Imam Bukhari telah meriwayatkannya pada beberapa bab pada kitab shahihnya, juga Imam Muslim telah meriwayatkan hadits ini pada akhir bab Jihad.

Hadits ini salah satu pokok penting ajaran islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’I berkata : “Hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu.” Begitu pula kata imam Baihaqi dll. Hal itu karena perbuatan manusia terdiri dari niat didalam hati, ucapan dan tindakan. Sedangkan niat merupakan salah satu dari tiga bagian itu. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, “Hadits ini mencakup tujuh puluh bab fiqih”, sejumlah Ulama’ mengatakan hadits ini mencakup sepertiga ajaran islam.

Para ulama gemar memulai karangan-karangannya dengan mengutip hadits ini. Di antara mereka yang memulai dengan hadits ini pada kitabnya adalah Imam Bukhari. Abdurrahman bin Mahdi berkata : “bagi setiap penulis buku hendaknya memulai tulisannya dengan hadits ini, untuk mengingatkan para pembacanya agar meluruskan niatnya”.

Hadits ini dibanding hadits-hadits yang lain adalah hadits yang sangat terkenal, tetapi dilihat dari sumber sanadnya, hadits ini adalah hadits ahad, karena hanya diriwayatkan oleh Umar bin Khaththab dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh ‘Alqamah bin Abi Waqash, kemudian hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dan selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa’id Al Anshari, kemudian barulah menjadi terkenal pada perawi selanjutnya. Lebih dari 200 orang rawi yang meriwayatkan dari Yahya bin Sa’id dan kebanyakan mereka adalah para Imam.


Pertama : Kata “Innamaa” bermakna “hanya/pengecualian” , yaitu menetapkan sesuatu yang disebut dan mengingkari selain yang disebut itu. Kata “hanya” tersebut terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian secara mutlak dan terkadang dimaksudkan sebagai pengecualian yang terbatas. Untuk membedakan antara dua pengertian ini dapat diketahui dari susunan kalimatnya.
Misalnya, kalimat pada firman Allah : “Innamaa anta mundzirun” (Engkau (Muhammad) hanyalah seorang penyampai ancaman). (QS. Ar-Ra’d : 7)
Kalimat ini secara sepintas menyatakan bahwa tugas Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam hanyalah menyampaikan ancaman dari Allah, tidak mempunyai tugas-tugas lain. Padahal sebenarnya beliau mempunyai banyak sekali tugas, seperti menyampaikan kabar gembira dan lain sebagainya. Begitu juga kalimat pada firman Allah : “Innamal hayatud dunyaa la’ibun walahwun” à “Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan dan permainan”. (QS. Muhammad : 36)
Kalimat ini (wallahu a’lam) menunjukkan pembatasan berkenaan dengan akibat atau dampaknya, apabila dikaitkan dengan hakikat kehidupan dunia, maka kehidupan dapat menjadi wahana berbuat kebaikan. Dengan demikian apabila disebutkan kata “hanya” dalam suatu kalimat, hendaklah diperhatikan betul pengertian yang dimaksudkan.

Pada Hadits ini, kalimat “Segala amal hanya menurut niatnya” yang dimaksud dengan amal disini adalah semua amal yang dibenarkan syari’at, sehingga setiap amal yang dibenarkan syari’at tanpa niat maka tidak berarti apa-apa menurut agama islam. Tentang sabda Rasulullah, “semua amal itu tergantung niatnya” ada perbedaan pendapat para ulama tentang maksud kalimat tersebut. Sebagian memahami niat sebagai syarat sehingga amal tidak sah tanpa niat, sebagian yang lain memahami niat sebagai penyempurna sehingga amal itu akan sempurna apabila ada niat.


Kedua : Kalimat “Dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya” oleh Khathabi dijelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan pengertian yang berbeda dari sebelumnya. Yaitu menegaskan sah tidaknya amal bergantung pada niatnya. Juga Syaikh Muhyidin An-Nawawi menerangkan bahwa niat menjadi syarat sahnya amal. Sehingga seseorang yang meng-qadha sholat tanpa niat maka tidak sah Sholatnya, walahu a’lam

Ketiga : Kalimat “Dan Barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya” menurut penetapan ahli bahasa Arab, bahwa kalimat syarat dan jawabnya, begitu pula mubtada’ (subyek) dan khabar (predikatnya) haruslah berbeda, sedangkan di kalimat ini sama. Karena itu kalimat syarat bermakna niat atau maksud baik secara bahasa atau syari’at, maksudnya barangsiapa berhijrah dengan niat karena Allah dan Rosul-Nya maka akan mendapat pahala dari hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya.

Hadits ini memang muncul karena adanya seorang lelaki yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah untuk mengawini perempuan bernama Ummu Qais. Dia berhijrah tidak untuk mendapatkan pahala hijrah karena itu ia dijuluki Muhajir Ummu Qais. Wallahu a’lam

Anda Bukan Teroris Kalau Ngebom Asalkan Anda Bukan Muslim

Ada apa dengan negeri ini? Anda Bukan Teroris Kalau Ngebom Asalkan Anda Bukan Muslim. Lihatlah bagaimana negara menyikapi pelaku kejahatan ini.

Anda Bukan Teroris Kalau Ngebom Asalkan Anda Bukan Muslim


Teori Terorisme BNPT Tersandung di Mal Alam Sutera



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus pengeboman Mall Ala Sutera seakan merevisi segala teori tentang terorisme yang pakem serta identik dengan penyalahgunaan nama umat Islam.

“Media akhirnya seperti gagap untuk menata ulang opini, bahkan sebagian pengamat yang sebagian besar memegang pakem metode framework analisis kultural juga kelu lidahnya. Bisa jadi, BNPT juga mules perutnya karena teori terorisme yang diusung selama ini tersandung di Alam Sutera,” tegas Direktur Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya, Jumat (30/10).

Dalam isu terorisme, ia menilai bahwa rakyat Indonesia selama ini dalam sudut pandang yang tendensius dan stigmatis. Begitu mendengar teroris maka tergambar sosok pelakunya seorang Muslim, berjenggot, jidat hitam, celana cingkrang, keluarganya bercadar, memandang Barat (AS) sebagai musuh.

Walhasil, UU Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Terorisme pun diterapkan untuk menjerat hal-hal dengan identifikasi tadi.

“Jadi, terorisme akan selalu dimaknai sebagai produk radikalisme dalam agama Islam.Terorisme di Indonesia itu identik dengan Islam, ini secara simpel dikonstruksi oleh pihak pemerintah melalui aparaturnya dan diaminkan sebagian besar media,” cecar Harits.

Maka, ia pun kembali mengajak publik mencermati kembali definisi terorisme yang lekat dengan radikalisme Islam setelah kasus Leopard dan Mall Alam Sutera.

“Rakyat sekarang tahu, orang Kristen atau non-Muslim di Indonesia juga sama potensialnya bisa hadir di tengah masyarakat menjadi sosok-sosok teroris yang sangat berbahaya sekalipun terkesan ramah,” jelas Harits.
sumber : http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/10/30/nx0isi346-teori-terorisme-bnpt-tersandung-di-mall-alam-sutera

Kapolri: Pengeboman Alam Sutera Bukan Terorisme


TEMPO.CO, Banda Aceh - Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan pengeboman Mal Alam Sutera tidak ada kaitannya dengan terorisme. ”Motifnya pemerasan, kriminal murni,” katanya dalam kunjungan ke Banda Aceh, Kamis, 29 Oktober 2015.
teroris akhir zaman


Menurut dia, sejauh ini belum bisa ditemukan adanya jaringan terorisme dalam kasus tersebut. Pelakunya juga sudah ditangkap. Dia sebelumnya sudah tiga kali melakukan percobaan pengeboman di mal yang sama. Tapi dua sebelumnya tidak sempat meledak.

Badrodin menambahkan, sebelum meletakkan bom, pelaku tersebut sudah mengirim e-mail ke pemilik mal untuk menyiapkan dana. ”Kalau tidak (diberi), akan diletakkan bom di situ. Motifnya pemerasan.”

sumber : http://nasional.tempo.co/read/news/2015/10/29/078714193/kapolri-pengeboman-alam-sutera-bukan-terorisme


Leo, Pelaku Bom Alam Sutera Beragama Katolik, Kapolri: Bukan Terorisme!


BANDA ACEH (Panjimas.com) – Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan pengeboman Mal Alam Sutera tidak ada kaitannya dengan terorisme. ”Motifnya pemerasan, kriminal murni,” katanya dalam kunjungan ke Banda Aceh, Kamis, 29 Oktober 2015 seperti dikutip Tempo.

Menurut dia, sejauh ini belum bisa ditemukan adanya jaringan terorisme dalam kasus tersebut. Pelakunya juga sudah ditangkap. Dia sebelumnya sudah tiga kali melakukan percobaan pengeboman di mal yang sama. Tapi dua sebelumnya tidak sempat meledak.

Badrodin menambahkan, sebelum meletakkan bom, pelaku tersebut sudah mengirim e-mail ke pemilik mal untuk menyiapkan dana. ”Kalau tidak (diberi), akan diletakkan bom di situ. Motifnya pemerasan.”

Proses identifikasi tersangka, menurut dia, sudah dilakukan sejak dulu. Dari temuan bom kedua sudah diselidiki dan dideteksi dengan melihat CCTV di tempat kejadian dan sekitarnya. Polisi kemudian mengumpulkan bukti-bukti lain untuk menguatkan kecurigaan terhadap pelaku. ”Belum sampai bukti lain ditemukan, kemarin terjadi lagi,” ucapnya.

Ketika ditanya soal identitas pelaku, Kapolri enggan menjawab. Dia hanya mengatakan pelaku adalah pegawai perusahaan yang gedungnya berada di sebelah mal tersebut. ”Ini pemerasan karena kita sempat memasukkan uang Rp 1 juta,” tuturnya.

Sosok Pelaku Bom Alam Sutera

Berdasarkan informasi yang diperoleh CNN Indonesia, Leopard merupakan alumni STTIKOM Insan Unggul Jurusan Manajemen Informastik Konsentrasi Informatika & Komputer tahun 2005, lulus tahun 2008.

Leopard lahir di Rangkas Bitung, 3 Agustus 1986. Saat SMA, Leopard tercatat sebagai siswa di Krakatau Steel Cilegon lulus tahun 2005, dan sebelumnya menjadi siswa di SMP Mardi Yuana Cilegon. Dari data yang diperoleh, lelaki beragama Katolik ini tercatat tinggal di Perumahan Griya Serdang Indah Blok B16 Nomor 16, Cilegon, Banten, dan sudah menikah.

Polda Metro Jaya mengungkapkan, bom yang diduga diledakan Leopard menggunakan teknologi terbaru. Leopard yang kini ditetapkan tersangka disebut pernah membuat empat bom sebelum meledakannya di toilet mal tersebut.
Leopard teroris international


Menurut Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti, polisi telah mendapatkan gambaran utuh mengenai latar belakang Leopard. “Pelaku sudah membuat lima bom, ada dua bom diledakan, dua bom gagal meledak, dan satu bom berhasil dijinakan,” ujar Krishna dalam konferensi pers di Markas Polda Metro Jaya hari ini, Kamis (29/10).

Bom yang disebut Krishna berhasil dijinakan adalah bom di Mal Alam Sutera sebelumnya yaitu 6 Juli 2015. Satu bom yang diletakan di mal yang sama bahkan pernah tak bisa meledak. Satu bom lain yang tidak meledak adalah di tong sampah, lagi-lagi di mal yang sama.

Leopard ditangkap di Kompleks Banten Indah Permai, Kota Serang, Banten, Rabu lalu (28/10). Bom disebut dirakit di dalam kamar tidur. [AW/Tempo, CNN]

sumber : http://panjimas.com/news/2015/10/30/leo-pelaku-bom-alam-sutera-beragama-katolik-kapolri-bukan-terorisme/

Empat Kali Lakukan Pengeboman Mall Alam Sutera, Leopard Tak Disebut Teroris


Polisi akhirnya berhasil mengungkap dan menangkap pelaku pengeboman di Mall Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten. Pelaku bernama Leopard Wisnu Kumala warga Serang, Banten. Meskipun telah empat kali melakukan pengeboman, pria Non-Muslim itu tak disebut teroris.

“Pelaku tidak terkait dengan jaringan-jaringan terorisme yang telah terpetakan sebelumnya. Dia adalah pelaku tunggal,” kata Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian.
Leopard teroris sadis


Menurut polisi, Leopard telah membuat lima bom. Dua bom telah diledakkan, dua bom gagal meledak dan satu bom lagi masih disimpannya untuk aksi berikutnya.

Pada 6 Juli 2015, Leopard mengincar area Food Hall Mall Alam Sutera sebagai sasaran aksi terornya. Pria berusia 29 tahun itu menaruh bom di dekat cairan pembasmi serangga di area itu namun gagal meledak. Seandainya meledak, menurut Leopard, efek ledakannya akan besar karena dekat cairan pembasmi serangga dan juga akan menimbulkan efek gas beracun.

Pada 9 Juli 2015, Leopard kembali menjalankan aksi terornya. Ia menaruh bom di toilet pria di Mall Alam Sutera. Tidak seperti bom pertama yang gagal meledak, bom kedua ini berhasil meledak dan membuat kaca toilet pecah.

Pada pertengahan Oktober 2015, Leopard menaruh bom di tong sampah Mall Alam Sutera. Namun bom tersebut juga gagal meledak.

Pada 28 Oktober 2015, Leopard menaruh bom di tong sampah toilet kantin di Mall Alam Sutera. Bom tersebut meledak dan melukai seorang karyawan. [Siyasa/Bersamadakwah]

sumber : http://bersamadakwah.net/empat-kali-lakukan-pengeboman-mall-alam-sutera-leopard-tak-disebut-teroris/

Rabu, 28 Oktober 2015

Cerpen Islami Di Balik Awan

Cerpen Islami Di Balik Awan | Malam yang kelam dihiasi oleh rintikan hujan. Malam ini ustad Syahrir menanyakan padaku apa impian terbesarku? Aku hanya terdiam, tak menjawab.
“Vita, kenapa kamu tidak menjawab?” tanya ustad Syahrir padaku.
“Hmm saya bingung ustad, saya tidak tahu apa impian terbesar saya.”
“ustad dulu juga pernah ditanyakan hal seperti ini oleh guru ngaji ustad.”
“Lalu, jawaban ustad apa?” tanyaku penuh penasaran.
Ustad menjawab, “Menjadi anak yang berguna bagi semua orang, setidaknya bagi orang-orang yang ustad sayangi, terutama orang yang telah melahirkan ustad.”
Aku terharu mendengar jawaban dari ustad Syahrir, dan terbukti sekarang impian terbesar ustad Syahrir telah tercapai. Beliau menjadi anak kebanggaan bagi orangtuanya dan keluarganya, menjadi orang yang terhormat di desa, menjadi ustad teladan bagi murid-muridnya dan juga menjadi ustad favoritku.
armaila.com - Cerpen Islami Di Balik Awan

==================
Cerpen Islami Hikmah di Balik Cobaan Berat
kumpulan cerpen islami asma nadia
cerpen islami pernikahan
cerpen islami lucu
cerpen islami helvy tiana rosa
cerpen islami terbaru
kumpulan cerpen islami
cerpen cinta islami
 ==================

Ketika aku berbaring di tempat tidur, aku masih teringat pertanyaan ustad Syahrir padaku. Sebenarnya impian terbesarku selama ini adalah kasih sayang dari Ibu dan membuat Ibu selalu bisa tersenyum karenaku. Tapi aku tidak ingin memberitahu ustad Syahrir, karena aku tahu pasti ustad Syahrir bilang kalau Ibuku sayang padaku. Padahal selama ini hatiku mengalami musim kemarau, haus akan kasih sayang dari seorang Ibu. Aku hanya dapat meluapkan isi hatiku ini pada sahabatku, diary. Ku akhiri diary-ku malam ini dengan harapan agar esok hari aku dapat membuat Ibuku tersenyum karenaku.
Aku terbangun dari lelapku ketika terdengar kumandang adzan di surau. Lalu ku langkahkan kakiku ke sumur untuk mengambil wudu. Setiap selesai salat, selalu ku panjatkan doa utamaku untuk orangtuaku. ustad Syahrir selalu berpesan, ketika berdoa utamakanlah memanjat doa untuk kedua orangtua, setelah itu baru untuk diri sendiri dan orang lain. Ketika hendak ke sekolah, aku berpamitan pada orangtuaku. Kebetulan Ibuku lagi berada di dapur. Dan Ayahku belum pulang dari surau.
“Bu, Vita berangkat sekolah dulu ya?”
“Iya.”
Hanya dengan jawaban, “iya.” Rasanya hatiku terkikis oleh percikan api. Ibuku tidak peduli aku sudah makan atau belum. Dan aku mencoba untuk berpikir positif. Mungkin Ibu lupa menanyakannya, karena sibuk membereskan rumah.
Sepulang sekolah, rumahku kosong, tak satupun orang berada di rumah. Aku sangat lelah dan sepertinya aku meriang. Aku yang masih mengenakan seragam sekolah, tidak menyadari bahwa aku terlelap di sofa. Beberapa menit kemudian, aku dikejutkan oleh teriakan Ibuku.
“Vita, bangun!”
“Iya bu,” aku menjawab dengan lesu. Ibu menyuruhku untuk membereskan rumah. Meskipun aku sangat lesu, namun aku akan berusaha untuk terus memenuhi perintah Ibu agar Ibu senang padaku dan bisa tersenyum karenaku.
Ketika sedang membereskan rumah, tidak sengaja aku menjatuhkan vas bunga besar yang membuat kakiku terluka terkena pecahan beling vas itu. Aku tidak sanggup berjalan lagi, kakiku telah berlumuran dengan darah. Lalu Ibu menghampiriku, dan kaget melihatku. Bukannya khawatir akan kakiku, Ibu malah merepetiku karena aku telah menjatuhkan vas besar kesayangan Ibu itu.
“Vita, kamu tahu berapa harga vas itu? 5 juta. Kamu kira gampang apa dapat uang sebanyak itu? Dasar anak tak berguna, selalu nyusahin orangtua,” kata Ibu dengan kasar padaku.
Hatiku seperti kertas yang terenyah ketika mendegar kalimat yang dilontarkan oleh Ibu, “Dasar anak tak berguna, selalu nyusahin orangtua.” Kalimat itu adalah kalimat yang ketiga kalinya ku dengar dari mulut Ibu untukku. Dan suasana pun berubah ketika Ayah datang. Ayah kaget melihat kakiku yang berlumuran darah dan wajahku yang tampak sangat pucat. Wajahku memang sudah pucat sebelum kakiku terluka, ditambah lagi karena aku takut akan darah.
“Bu, kenapa kamu malah marah-marah? Lihat kaki Vita sudah berlumuran darah begini! Seharusnya kamu lebih mengkhawatirkan keadaan Vita daripada vas itu,” kata Ayah pada Ibu sambil menggopohku.
Aku merasa senang karena Ayah masih mengkhawatirkan keadaanku, tidak seperti Ibu yang sama sekali tidak peduli akan keadaanku. Dan Ayah mengobati lukaku, sedangkan Ibu mengurung diri di kamar.
Terdengar lantang kumandang adzan magrib, aku langsung bergegas salat, meskipun kakiku masih terasa sakit. Setelah salat, ku renungkan kejadian demi kejadian dari bangun tidur hingga sekarang di atas sajadah. Terbenak raut wajah Ibu saat melontarkan kalimat, “kau anak tak berguna, selalu nyusahin orangtua,” terbesit tanya di hatiku.
“apakah aku anak kandungnya?” Semakin ku renungi sikap demi sikap Ibu terhadapku, semakin sesak dadaku dan semakin tak sanggup ku menahan air mata. Ibuku memang sejak kecil telah hidup tanpa seorang Ibu, Nenek meninggal ketika usia Ibu 5 tahun. Tapi yang menjadi pertanyaan, lebih menyakitkan mana, hidup tanpa seorang Ibu sejak kecil atau hidup dengan seorang Ibu yang hanya memandang kita sebelah mata? Tak sanggup kuutarakan perasaanku saat ini pada siapapun, bahkan diary sekalipun.
Malam ini aku memutuskan untuk tidur di sajadah, karena hatiku terasa lebih tenang. Detik demi detik, dan menit bergantikan menit, aku semakin terhanyut dalam tatihku. Dalam lelap, aku bertemu dengan Nenekku (Ibu dari Ibuku). Nenek berkata padaku.
“Vita, Nenek senang bisa melihat wajahmu. Nenek tahu kamu kecewa pada Ibumu, tapi sebenarnya Ibumu sesosok yang penyayang bagi anaknya. Ibumu bersikap begitu padamu agar kamu bisa hidup mandiri dan mudah merelakan kepergiannya. Kamu anak yang saleha, gapailah cita-citamu setinggi mungkin. Buktikan bahwa kamu dapat menggapai cita-citamu, itu akan membuat Ibumu tersenyum karenamu. Jagalah dirimu baik-baik, nak. Jangan pernah bosan panjatkan doa untuk Ibumu, agar dia tenang bersamaku.” Aku hanya terdiam membisu, dan berderai air mata. Dan tiba-tiba Nenek menjauh dari pandanganku dengan lambaian tangan.
Aku pun terbangun dengan cucuran keringat berlumuran di sekujur tubuhku. Aku teringat akan pesan Nenek, “Jangan pernah bosan panjatkan doa untuk Ibumu, agar dia tenang bersamaku.” Setelah ku cerna perkataan Nenek beberapa kali, akhirnya aku pun dapat mengerti maksud dari perkataan Nenek. Ternyata Ibu telah tiada, Ibu telah meninggalkanku dan Ayah. Ternyata selama ini, aku hanya terhanyut dalam ilusi-ilusi atas perlakuan Ibu yang melukai hatiku selama berada di sisiku.
Sekarang aku yakin, Ibu memang menyayangiku. Ibu bersikap demikian karena Ibu ingin melatihku agar aku bisa hidup mandiri tanpa kehadirannya dan dapat menggapai cita-citaku setinggi mungkin.
Aku menceritakan mimpiku semalam pada ustad Syahrir, dan ustad Syahrir tersenyum karenaku.
“Apakah sekarang kamu sudah tahu apa impian terbesarmu?”
Dan sekarang tak dapat ku pungkiri lagi, impian terbesarku adalah, “selalu dapat membuat Ibuku tersenyum karenaku, dan menjadi anak yang berguna bagi semua orang yang ku kenal dan mengenalku.”
Akan ku jadikan ustad Syahrir sebagai inspirasi dan motivasiku. Walaupun impianku masih di balik awan, aku yakin suatu saat awan itu akan berjalan untuk membuka pintu yang dapat mewujudkan impianku menjadi kenyataan. Tak akan pernah ku merasa bosan memanjatkan doa untuk Ibuku.
“Semoga Ibu tenang di alam sana, dan dapat selalu tersenyum karenaku. Suatu saat kita pasti akan bertemu kembali bu, tunggu aku di surga sana. Aku sayang Ibu karena Allah.”

Cerpen Karangan: Sarah Ferwinda
Facebook: Sarah Fer Winda

Cerpen Islami Aku Ingin Kembali

Cerpen Islami Aku Ingin Kembali | Setangkai bunga anggrek putih yang sangat aku kagumi memberikan kesejukan hati di kala aku memandangnya. Tapi kali ini bunga anggrek putih yang indah itu tak cukup mampu memberi ketenangan pada jiwaku yang sedang kalut dan kusam diterpa badai ketidakberdayaanku sebagai manusia.
Waktu terasa begitu cepat hingga aku benar–benar berada di ujung senja, di mana setiap manusia akan pulang dari setiap kesibukannya, hewan akan kembali ke kandangnya bahkan burung segera pulang ke sarangnya. Aku, aku tak tahu ke mana aku harus kembali, setelah aku pergi, kepulanganku sebelumnya bukanlah seperti kepulanganku saat ini. Kepulanganku saat ini mengukir perih yang dalam, lebih pada kata menyesal. Ya, aku menyesal mengapa nanti, sekarang aku betul-betul memulangkan raga dan jiwaku ke rumah ini. Setelah banyak hal yang ku lewatkan kenapa aku tersadar baru saja.
Armaila.com - Cerpen Islami Aku Ingin Kembali

==================
Cerpen Islami Hikmah di Balik Cobaan Berat
kumpulan cerpen islami asma nadia
cerpen islami pernikahan
cerpen islami lucu
cerpen islami helvy tiana rosa
cerpen islami terbaru
kumpulan cerpen islami
cerpen cinta islami
 ==================

Tidak kemarin, tidak sebulan yang lalu dan mengapa tidak setahun yang lalu. Aku merasa tragis dengan diriku sendiri, aku merasa keji dan merasa suram dengan semua perjalananku. Haruskah aku mengatakan benci pada takdir, tidak aku tak ingin menjadi manusia hina di hadapan Tuhan. Aku hanyalah sebulir makhluk yang merasa terasing dari diriku sendiri, aku merasa raga dan jiwaku tak menyatu seolah keduanya berjalan saling membelakangi, kehendak ragaku tak selalu sama dengan kehendak hatiku hingga akhirnya aku sadar bahwa hati selalu benar, dia dekat dengan pemiliknya, ambisi dan emosi telah mengusai dan mengalahkanku, dan saat ini aku tahu bahwa aku benar–benar kalah.
Ibu, aku tahu aku tak pantas minta maaf saat ini karena mungkin waktunya telah tertutup semenjak kepergianmu, aku tahu kita telah terpisah alam. Ruang dan jarak yang lalu selalu ku buat tak sama dengan ruang dan jarak pemisah kita saat ini. Realita ini terlalu rumit untuk aku terima, bukan karena aku tidak ikhlas akan takdir yang memisahkan kita, tapi perih ini adalah perih yang ku buat beberapa tahun aku menjadi anakmu. Penyesalan yang sampai saat ini belum bisa menghapus luka dan perih di hati ini.
Terbayang wajah Ibuku yang selalu memberi kasih sayangnya untukku, tepat di halaman rumah saat ku langkahkan kaki menaiki sebuah mobil rental untuk memuaskan hasrat dan ambisiku untuk mengejar mimpi di sebuah kota yang sangat jauh dari kampung halamanku. Ku tatap lagi wajahnya yang kusam dan mata yang sembab akibat menangisi kepergianku. Kakak tertuaku masih sabar menenangkannya sementara aku terus melaju bersama mobil itu menuju sebuah kota yang sampai saat ini aku tidak tahu kenapa aku harus terdampar di sini, dengan berbagai teka–teki kehidupan dari sejak awal sampai hari ini aku masih terus bertanya.
Setahun setelah aku meninggalkan Ibuku, aku mengalami kegagalan dalam studiku, di sinilah aku banyak mengukir kebohongan demi kebohongan dan akhirnya kebohongan itu membawa malapetaka, suatu kebodohan yang mungkin saat ini tak penting lagi untuk aku uraikan, hingga pada akhirnya aku berusaha keras untuk merubah diri mejadi lebih baik. Tragisnya di saat aku dalam keadaan lapang dan lebih dekat dengan Tuhan dengan berbagai aktivitas kerohanianku, muncul sebuah nasib yang memaksaku untuk menerimanya.
Ku putar balik memori, mengulang kembali tayangan masa lalu, begitu tegakah aku, begitu burukkah aku hingga aku tak memahami posisi Ibuku yang sedang menahan rasa sakit melawan penyakit kanker paru–paru yang merenggutnya. Aku membentaknya dengan nada keras ketika beliau tak memenuhi apa yang aku inginkan, begitu sadiskah aku sebagai seorang anak yang tak menghargainya di saat dia bicara dan mencoba akrab denganku, dan begitu durhakakah aku ketika seorang Ibu itu sedang berada pada stadium akhir penyakit kanker paru–parunya, aku justru meninggalkannya, dan sempat membentaknya dengan suara kasarku.
Sungguh aku tidak tahu Ibu, aku menyesal, dan aku muak dengan diriku sendiri. Aku mencintaimu, hanya saja terkadang masa lalu kita yang begitu kusam kebenarannya, selalu datang mengundang amarah dan ketidaksadaranku sebagai seorang anak. Masa lalu yang aku benci, masa lalu saat di usiaku yang masih membutuhkanmu kenapa kau tinggalkan aku, kemudian tiba–tiba kau datang dengan suami barumu, aku tidak terima saat itu. Enam tahun aku kehilangan kasih sayang, kasih sayang yang seharusnya ada untukku saat itu. Masih terukir dalam memoriku ketika Ibuku masuk ke dalam rumah dengan membawa seorang laki–laki yang telah menikahinya. Seolah bumi akan runtuh mendengar penjelasan Ibuku, penjelasan yang sangat aku benci, penjelasan yang membuat aku menjadi anak yang kasar.
“Rani ini Om Muksin, ayo salim dia Bapak barumu nak.”
Dengan rasa kesal aku menendang pintu dan berlari ke luar tanpa menyalami tangan laki–laki itu. Ibu mengejarku, menenangkanku lalu merayuku untuk bisa menerima status Om Muksin, hati tak rela, tapi aku tahu aku hanyalah seorang anak berusia delapan tahun waktu itu.
“Pak, ini Rani anakku.”
“Eh Rani, sini sama om!”
Begitu polosnya aku membiarkan tangan Om Muksin menggendongku, aku tidak butuh seorang Ayah baru, keberadaan Ibu saat itu yang aku butuhkan. Andaikan saat itu Ibu tak pergi meninggalkanku, dan membiarkanku hidup sampai remaja dengan Kakak, mungkin aku akan tumbuh dengan baik dengan asuhan seorang Ibu, aku tak akan tumbuh menjadi sosok yang keras kepala dan kasar. Tapi sayangnya Ibu pergi meninggalkanku selama kurang lebih enam tahun, dan ketika aku duduk di bangku kelas satu sekolah menengah atas, akhirnya Ibu pulang. Ya, Ibuku pulang ke rumah kami tanpa Om Muksin, dan yang lebih menambah kebencian dan kebekuan luka di hatiku, Ibu pulang karena telah diceraikan oleh Om Muksin seseorang yang telah ia pilih dan membiarkan aku tumbuh tanpa perhatiannya.
“Ada apalagi bu, kenapa pulang?”
“Rani Ibu sekarang seorang janda, Ibu kembali ke sini untuk mengurusmu.”
“Aku tahu mengurus diri sendiri bu.” Dengan dinginnya aku lontarkan bahasa itu.
Sejak hari itu Ibuku banyak mengalah padaku, memperlakukan aku sebaik yang aku mau. Ibu lebih banyak diam ketika aku mengomel jika ada yang salah dengan ucapan Ibu. Ibu kembali, tapi aku merasa sama saja, toh aku sudah besar, aku sudah pandai memasak, menyetrika baju sendiri dan pekerjaan rumah yang lain aku sudah bisa, beda dengan enam tahun yang lalu, baju sekolahku nyaris tak pernah disetrika, Kakak memasak dan mengurusiku dengan apa yang dia bisa, jika Kakak merasa cape dengan kerewelan dan kekanak-kanakanku aku akan menerima pukulan darinya.
Mungkin sebagian orang atau teman–teman menilai aku sebagai seorang yang kasar dan keras, aku tak mengelak, aku sadar lingkungan dan keadaan telah membentuk pribadiku, membentuk emosionalku, dan mengarahkan aku pada sebuah ambisi yang sampai hari ini mengambang tak jelas arahnya. Aku berambisi ingin menjadi seorang pilot dengan harapan bahwa aku akan selalu berada di atas awan, jarang pulang dan dirindukan oleh setiap keluarga, tapi sayang nasib justru mengantarkan aku pada sebuah organisasi pembangun jiwa, dengan konsep dan prinsip alqur’an dan sunnah Rasulullah saw, di sinilah aku tahu bahwa aku berada pada kesalahan yang besar.
Hingga pada akhirnya aku tersesat dengan ambisiku, masalah mulai bermunculan, namun aku bangga karena beberapa masalah yang tergolong berat berhasil aku lewati, namun ujian kali ini adalah sebuah ujian yang mengantarkan aku pada berbagai usaha pembenaran diriku di masa lalu, berusaha membenarkan kesalahan yang ku buat di hadapan Ibuku, namun sekali lagi waktu tak pernah bisa kompromi, aku terlalu banyak menyia–nyiakannya.
Dan suatu hari aku mendapati gambar diriku yang pupus, penyesalan kini menyertaiku. Aku tak melihat akhir dari hembusan napas Ibuku, dan yang sangat aku sesalkan, aku sungguh tidak tahu bahwa terakhir kali aku mencium Ibuku dan pergi meninggalkannya adalah sisa dari empat belas hari yang ingin dia habiskan bersamaku, hanya saja aku menolak permintaannya dengan alasan bahwa aku memiliki urusan kuliah yang tidak bisa aku lewatkan. Sungguh aku tidak tahu bahwa paru-paru Ibuku sudah parah dan sedang berada di titik stadium akhir.
Waktu tak mungkin kembali, sekalipun airmata berlinang dengan darah. Sekalipun maaf bisa diperoleh dengan taubat apakah ada yang bisa memulangkan waktu kemarin? tidak, tidak ada yang mampu. Akhirnya aku benar–benar terpisah darinya, bukan karena kebencian tapi takdir, dia yang kini telah pergi bukan aku yang meninggalkannya seperti beberapa tahun yang aku lakukan untuk menghindarinya. Saat ku terima telepon dari Kakak, suara gemetarnya bisa menyentuh hati kecilku, seolah isyarat bahwa hari itu adalah hari kepergian Ibu, kepergian yang bukan perjalanan, tapi kepergian yang merupakan kepulangan pada Sang Pencipta.
Ada perasaan mendongkol dalam hatiku untuk menyalahkan takdir, perlahan–lahan sedih dan penyesalan mulai merayap mengelilingi semua bilik di hatiku yang lama kosong. Tangisanku hari itu tak akan memulangkan senyum seorang Ibu yang telah melahirkanku. Aku mendengar isakan tangis dari Kakak tertuaku yang berusaha menjelaskan keadaan terakhir Ibu sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Aku tidak tahu apakah ini pertolongan terhadap Ibu ataukah itu memang pantas untuknya, Ibuku menghadapi sakaratul maut dalam keadaan tenang, bahkan saat ia menghabiskan napasnya ia berusaha berada pada posisi yang baik, yakni pada posisi menghadap ke arah kiblat. Suatu kelegaan bagiku, Tuhan tak mempersulitnya.
“Ran, sabar ya.”
“iya kak, maaf Rani tidak berada di samping Ibu di saat terakhirnya.”
“tidak apa, jalannya sudah seperti itu.”
“Insya Allah hari ini saya segera berangkat.”
Hari ini aku pulang, bukan untuk bertemu Ibu, tapi untuk melepas kepergiannya. Hari ini aku kembali dengan jiwaku, yang sebenarnya memendam rindu yang ku selimuti dengan kebohongan dan keangkuhanku selama ini. Tapi ketika jiwa ini benar–benar pulang kenapa harus perpisahan yang menyambut, bukankah Ibu selalu menunggu kepulanganku? aku telah terlambat, aku pulang pada ujung senja, aku pulang di saat pemilik nyawa memanggil Ibu.
Penyesalan telah datang menyambutku, menemani dan menghantui diriku, rasa sakit terasa begitu perih, lebih perih daripada saat Ibu meninggalkanku untuk Om Muksin. Rasa sakit yang terus berdarah sampai detik ini, rasa sakit yang kubuat sendiri, tak ada yang menancapkan perih itu di hatiku yang meletakkan perih itu adalah kebencianku di masa lalu yang melewatkan begitu banyak waktuku bersama Ibu, melewatkan berbagai kesempatanku untuk berbicara baik dan lembut, dan melewatkan semua kesempatan untuk mendekap atau hanya sekedar meringankan rasa sakit yang ia derita. Oh begitu malang dirimu Rani, itu yang selalu tergumam dalam hatiku.
Hari demi hari telah terlewati, Ibu telah berada di alam terpisah dariku, lama sudah wajahnya tak ku lihat, dan sudah lama juga aku tak mendengar suaranya. Waktu terus berjalan, ketika hidup menekankan aku untuk tetap berjalan ke depan, aku harus maju namun luka masih berdarah, penyesalan masih selalu datang menyergapku di sela–sela berbagai aktivitas yang ku lakukan untuk belajar melupakan. Mungkin hal yang biasa, namun aku merasa ini kerinduan yang sebenarnya. Aku ingin kembali, pulang menemui setiap sudut rumahku yang kosong tanpa wajah seseorang yang selalu merindukanku.
Andai saja waktu bisa berputar kembali, aku ingin pulang memeluk Ibuku, mencium dan memeluknya dengan erat. Saat ini doalah yang bisa ku kirimkan untuknya, doa yang selalu aku panjatkan pada Tuhan di setiap akhir sujudku. Andaikan di kehidupan selanjutnya ada kesempatan bagi seorang anak ini untuk bertemu Ibunya, aku mohon padaMu Ya Robbi, pertemukanlah aku, ridhokah dia menjadi Ibuku, ataukah dia menyesal beranakkan aku? Bisakah aku mencium dan memeluknya? aku sangat mencintainya Tuhan.
Setiap perjalanan hidup di muka bumi ini selalu menghantarkan kita pada pembelajaran dan pendewasaan diri, seseorang tak akan pernah tahu mana yang benar jika ia tak melalui sebuah kesalahan. Sekarang aku hidup dengan seorang Kakak yang begitu baik dan penuh pengorbanan, setelah Ibu dialah yang banyak memberi dan menafkahiku, mungkin dari kesadaran itu, kini saatnya aku tunjukkan sikap yang baik pada seorang Kakak, sikap menghormati dan menyayangi, memiliki apa yang sebenarnya diberikan padaku sebagai anugerah. Sekarang Kakak menjadi orang yang paling aku utamakan, seseorang yang aku banggakan, dan seseorang yang aku sayangi. Seperti layaknya orangtuaku karena sebenarnya beliaulah yang menjadi pengganti orangtua bagiku, semenjak Ayah meninggal dunia dan sekarang Ibu juga telah pergi menyusul.
Seperti itulah hidup membawa setiap manusia pada ujungnya, tak ada yang mulus dalam menjalani kehidupan ini, semua pasti memiliki ujian beserta kadarnya masing–masing. Seperti itu pula yang terjadi denganku, penyesalan yang dalam tak boleh menjadi penghambat untuk terus melangkah, sakit pasti ada, akan tetapi waktu selalu berputar, hingga pada akhirnya waktu perlahan–lahan menghapusnya dan mulailah belajar untuk memaafkan diri sendiri. Aku sadar bahwa memang seharusnya aku pulang, pulang pada rumah dan menemui orang yang masih ada untukku. Kawan, pulanglah jika kalian merindukannya karena sebenarnya merekalah yang sangat merindukanmu.

Cerpen Karangan: Fitriyatunnisa Alhikmah
Facebook: Fitriyatunnisa Alhikmah

Cerpen Islami Sehidup Semati

Cerpen Islami Sehidup Semati
“Azumi Lara–”
“Saya, Pak!” potongku cepat ketika pak Imad -guru baru termuda di SMA-ku- mengabsen murid di kelas XI-IPS-1.
“kalau boleh tahu, apa salah satu dari keluargamu ada yang berasal dari Jepang?” kali ini ia bertanya dengan memamerkan senyum khasnya.
“Ya.” jawabku seenggan mungkin.
“Siapa?”
“Apanya?”
“Yang dari Jepang?”
“Sodara.”
“Hmm, nama yang bagus..” gumamnya pelan.
Namun cukup terdengar oleh pendengaranku yang normal. Maklum, aku duduk di bangku paling pojok depan dekat pintu kelas. Aku memilih duduk di sana supaya pas lagi bosan dengerin ceramah ngalor-ngidulnya pak Imad, aku bisa dengan cepat keluar dari keheningan kelas yang menurutku sudah dipengaruhi oleh si Badut sialan itu -nama keren yang ku beri buatnya. Pak Imad adalah guru Al-Islam yang paling ganteng di sekolah SMA-ku. Nggak hanya ganteng, tapi juga baik hati, ramah, dan murah senyum. Eits!! Tapi itu menurut temen-temenku loh, bukan aku!
armaila.com - Cerpen Islami Sehidup Semati

==================
Cerpen Islami Hikmah di Balik Cobaan Berat
kumpulan cerpen islami asma nadia
cerpen islami pernikahan
cerpen islami lucu
cerpen islami helvy tiana rosa
cerpen islami terbaru
kumpulan cerpen islami
cerpen cinta islami
 ==================

Temen-temen juga pada bilang, kalau mukaku sama pak Imad agak mirip. Tapi, masak iya, sih? Aku mirip sama si Badut yang dalam pandanganku seperti monster penghancur dunia? Yang tiap harinya selalu menghukumku karena keterlambatanku masuk kelas lima menit setelah bel sekolah? Bahkan menhukumku membersihkan WC gara-gara aku lupa tidak mengerjakan PR karena ketiduran? Oh my God. Sungguh-sungguh tidak berprikemanusiaan.
Kalau aku bener-bener jadi pak Imad, mana mungkin aku menghukum murid-muridku? Setidaknya aku masih punya hati nurani. Lagi pula, kita kan manusia, sama-sama pernah berbuat kesalahan. Jadi, maklumin dikit lah. Apalagi waktu seminggu yang lalu ketika aku memperkenalkan diri di kelas. Temen-temen yang ada di kelas bertepuk tangan meriah dan juga ada yang tertawa terbahak-bahak ketika aku berdiri tepat di samping pak Imad yang saat itu sedang memakai seragam kotak-kotak berwarna ungu.
“Ja..dian! Ja..dian! Ja..dian!”
“Eheeeem, eheeemm.. ada yang baru nih, hahaha..”
“Ciye, Azumi! Lo ternyata cocok banget ya sama pak Imad!” teriak Deo yang dari tadi diam lalu ikut menyahut bagaikan suara petir dengan Guntur yang saling bersahut-sahutan.
“Udah, nikah aja!”
“Eh, pak Imad! kalau nikah sama si Azumi aja, gih, kasihan tuh bocah dah setahun ngejomblo hahaha..” Rasti, cewek setengah tomboy juga ikut berkomentar, lebih tepatnya ia ikut meledekku habis-habisan hingga aku menggigit bibir bawahku menahan malu. Tapi, hei? Tunggu dulu! Kenapa Rasti bawa-bawa status men-jom-blo-ku? Aih, aku tidak terima.
“Enak aja lo, Ras. Sini! Lo aja yang di depan sama bapak ini,” kataku ketus sambil tangan telunjukku menuding pak Imad. Pak Imad yang melihatku seperti itu hanya tersenyum penuh arti. Lalu, “kalau lo cemburu bilang aja! Lagian, dia nggak selevel sama gue!” sambungku dengan melipat tangan di depan dada.
“Eh, eh, jangan marah dong, Azumi! Gue bercanda doang kok, peace..” ujarnya dengan memosisikan tangannya membentuk huruf ‘V’. “Habis, lo sama pak Imad kalau dilihat-lihat serasi banget hehehe..”
Pak Imad yang sedari tadi mendengar aku dan teman-temanku beradu mulut, langsung menghentikan dengan suara tegasnya. Seketika itu kelas sunyi namun masih ada yang berdehem.
“Sudah ya,” ujarnya tetap tenang. “Kita lanjutkan lagi perkenalan kita. Azumi, silahkan duduk di tempat.”
“Ya.”
“Cukup sekian pelajaran hari ini anak-anak, Assalamualaikum..” nah, ini dia kalimat yang sedari tadi ku tunggu dari mulut si Badut sialan itu.
Ku renggut tas ranselku dan ku rapikan bukuku yang masih berserakan di atas meja. “Ana balik dulu ya, Azumi.. assalamualaikum!”
“waalaikumsalam.” jawabku ngasal pada Aisha. Ya, dia temanku yang paling feminin banget. Tidak pernah mengucapkan sepatah katapun kalau menurutnya tidak penting. Bahkan ketika teman-teman sedang ramai meledekku, teman sebangkuku ini hanya tersenyum penuh kepolosan.
Entahlah, kenapa Aisha masih mau duduk dengan manusia yang menyandang dosa setinggi dan sebesar Fujiyama -gunung Fuji di Jepang. Yang tidak pernah salat, yang sedikit pun tak pernah membaca ayat-ayat al-qur’an, bahkan yang tak pernah menyentuh sedikit pun mushaf-mushafal-qur’an. Bahkan, Aisha selalu dengan sabar mengajariku bagaimana salat itu, bagaimana cara mengaji yang benar, dan bagaimana tuntunan agama Islam mewajibkan seorang muslimah memakai jilbab.
Aku tak habis pikir. Kenapa Aisha selalu menyuruhku untuk melakukan semuanya. Padahal dia tahu, aku cewek yang selalu nurutin ego dan kemauan diri. Pernah suatu malam di hari ulang tahunku yang ke-16, ia datang ke rumahku hanya untuk memberikan kado mungil yang berisi seuntai kain lembut dan satu buku al-qur’an ukuran kecil. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan menerimanya dengan senang hati meskipun sesudahnya aku tidak pernah memakai dan sampai saat ini kain halus itu tetap berada di dalam kotak kado bersama al-qur’an bersampul kuning emas.
Cahaya matahari yang masuk melewati ventilasi kamarku membuat tubuhku menggeliat layaknya ulat yang kelaparan. Bunyi bel rumah berkali-kali ku dengar. Dimana sih, Bibi? Apa dia gak ada di rumah? Lagian, siapa sih, yang dengan teganya membangunkan orang yang masih ngantuk? Tidak tahu kalau masih pagi?
“Azumi! Ohayou gozaimas! Ini saya!”
Kok, suaranya kayak si Badut itu ya? Ah mana mungkin guru itu tiba-tiba ke rumahku. Ku putuskan untuk menutup telinga dengan bantal dan kembali tidur melanjutkan mimpi indah yang sejenak sempat tertunda.
“Beneran gak mau turun? Ini saya, cepetan, turun, nggak?! Atau kamu gak bakal naik kelas tahun ini!”
Deg. Pak Imad? Masa sih? Tapi, kalau dia bukan pak Imad, ngapain pake bawa-bawa ‘nggak naik kelas’ segala? Perlahan tapi pasti, aku turun dari ranjang dan sejurus kemudian tanganku sudah mmenarik knop pintu ruang tamu.
Aku melongo melihat si Badut itu berpakaian rapi. Berbaju taqwa dan berpeci putih. Di tangannya pun terdapat seuntai dzikir dan beberapa berkas yang ku rasa cukup penting.
“Eh, emm ngapain pak, ke sini?” tanyaku tiba-tiba gugup. Hei, aku ini kenapa? Bukankah aku cewek pemberani yang siap membanting kursi jika ada musuh di depan mata? Atau melayangkan bogeman ke arah wajahnya hingga ia babak belur dan bersujud padaku lalu membuatnya ia memohon meminta ampun.
“Assalamualaikum!”
“Oh, iya, halo, pak!” sahutku masih gelagapan.
“Bukan halo, tapi, Waalaikumsalam, Azumi..” katanya dengan senyum kemenangan.
Aku masih diam seribu bahasa. Astaga. Sadar kau, Azumi. Dia gurumu, si Badut sialan itu.
“Kenapa? Nggak nyangka ya saya berada di sini pagi-pagi? Lupakan, saya di sini mau ngasih ini. Baca gih!” lanjutnya tanpa memberiku kesempatan untuk berbicara. Aku menerima berkas itu dan sedikit mengernyit. Sejenak ku pandangi wajah pak Imad. Baru kali ini aku berdiri dengan jarak yang dekat dengannya. Bahkan, aku sanggup merasakan hembusan napasnya. Oh, Tuhan, begitu berkharismanya laki-laki di hadapanku ini.. senyumnya.. lesung pipitnya.. bau harum badannya. Aaarrgh.. aku menepuk pipiku pelan. Aku tersadar dan langsung berhenti menatap wajah pak Imad.
“Apa ini?” gumamku sambil terus meneliti apa maksud dari wacana tersebut. Jari telunjukku pun mengikuti arah gerak mataku.
“Apa?!”
“Kenapa?”
“Kau sudah gila?!”
“Astaghfirullah, Azumi.. Maksudmu, ap–”
“M-maaf, pak!” potongku.
“Untuk apa?” kata pak Imad.
“Tadi,” ucapku pelan penuh penyesalan.
“Tak perlu meminta maaf, istighfar, ya.. lain kali jangan diulangi.” katanya cepat hingga meluluhkan hatiku yang sangat-sangat seperti baja ini.
“Bagaimana?”
“Hah?”
“Azumi, kau tidak apa-apa? Dari tadi saya lihat kamu tidak konsentrasi membaca berkas itu.” eh? Emang dari tadi dia memeperhatikanku ya? Ah senangnya hatiku, nah loh? kok jadi gini sih. Nggak. Ini nggak boleh diteruskan. Dia guruku. Bukan Bimo, si Kakak kelas tahun lalu yang sedang aku taksir.
“Tidak pak, aku gak mau.” Jelasku.
“Kenapa?”
“Aku tidak bisa membaca al-qur’an sama sekali! Bahkan lomba ini? Untuk umum, pak!! Belum grand final, paling-paling orang sudah mengira aku gak bakal menang! Lagian, kenapa harus aku? Aisha aja, aku yakin dia lebih pinter dariku,” cecarku dengan nada ketus.
“Sudah putus asa sebelum dicoba?”
Glek! orang ini maunya apa sih? Kok sepertinya memojokkanku? Memang kalau aku beneran gak mau, harus dipaksa? Huh. Menyebalkan sekali.
“Perwakilan dari sekolah kita ada dua. Kamu dan Aisha. Bahkan, Aisha sendiri loh yang nyuruh bapak biar masukin kamu ke daftar calon lomba. Soalnya, kata Aisha suaramu bagus jika dipadukan dengan ayat-ayat suci al-qur’an..”
Ya Allah.. Aisha! Apa-apaan kamu ini! Jika memuji kenapa harus pake bawa-bawa namaku? Hash. Beginilah nasib punya sahabat orang alim, batinku dalam hati.
“Yasudah, kal–”
“Baiklah.”
“Apa?” tanya pak Imad dengan senyum sumringah.
“Aku.. mau.”
“Oke. Urusan selesai. Besok pagi saya akan jemput kamu di sini jam 6 untuk regestrasi. Jangan lupa, pakai busana muslim lengkap dengan jilbab. Tak boleh protes. Turuti saja apa kata saya, deal? Assalamualaikum.” jelasnya sambil berlalu menaiki sepeda kayuhnya.
Dalam hitungan detik, pak Imad hilang dari pandanganku ketika sampai di tikungan. Ha? Jilbab? Peraturan apa lagi ini? Wah, jangan-jangan pak Imad ada maunya nih. Udah diturutin ikutan lomba ngaji, eh malah minta aku pake jilbab? Ogaaaah ah ogah. Aku gak bisa pake jilbab. Risi. Gerah. Apa aja, gak enak pokoknya. Sumpek.
“Nah, gini dong. Kamu tambah cantik kalau pake jilbab, Azumi.. aku aja kalah cantik..,” puji Aisha sambil tertawa kecil. Entalah. Apa itu benar-benar pujian atau hanya sekedar untuk menyenangkan semata. Tapi aku yakin, Aisha tidak mungkin berpura-pura manis di hadapanku. Ya, Aisha, sahabat sekaligus bidadari duniaku.
“Sudahlah, aku seperti ini juga demi lo, kalau yang nyuruh bukan lo, gue hari ini bakal sekolah.”
“Kok jadi bawa-bawa namaku? Yang ikhlas dong.. niat karena mencari ridha Allah. Lagian suaramu itu bagus loh, aku sampe kagum, apalagi kalau kamu ngaji!” tuturnya sambil merapikan jilbabku. Sekilas, ia melihat ke arah jendela kamarku.
“Eh, pak Imad udah dateng, yuk berangkat!”
Aku hanya bisa mengangguk.
Entah kenapa, semenjak dua manusia itu semakin mendekat ke dalam kehidupanku, aku merasa aneh.. aku seperti bukan Azumi, diriku yang berhati baja yang selalu egois dan tak pernah salat ataupun mengaji. Hingga sejak adanya mereka -pak Imad dan Aisha- aku sedikit merasakan hidayah Allah muncul dalam hati nuraniku. Itu terbukti ketika aku mendengar suara adzan, hatiku selalu ikut bergetar dan ingin sekali melaksanakan salat. Dalam setiap doa, aku selalu memanjatkan sebuah pertanyaan pada Tuhan. Entahlah, kapan Tuhan akan menjawab semua pertanyaanku, biar ku tunggu hingga datang waktu yang tepat.
Tak terasa, sudah berbulan-bulan aku dan pak Imad menunggu hari dimana lomba itu dimulai. Aku tidak terlalu berharap dengan kemenangan lomba mengaji tingkat umum ini. Tapi aku akan berusaha. Aku tidak ingin mengecewakan sahabatku dan pak Imad yang tiap harinya selalu ke rumahku hanya untuk mengajariku mengaji dengan benar, tepat, dan sesuai dengan hukum tajwid.
Dalam perjalanan menuju tempat tujuan, aku sedikit merenung dan bertanya pada diri sendiri. Kenapa sih, Tuhan menakdirkan jalan hidup Aisha sedemikian rumitnya. Aisha, ia sahabatku yang paling aku sayangi. Bahkan, ia kini mengundurkan diri dari kompetisi mengaji karena Ibunya tiba-tiba jatuh sakit dan harus segera dioperasi. Dan paling naasnya, tanggal operasi Ibunya bersamaan dengan tampilnya lomba mengaji tingkat nasional. Sungguh, aku merasa kehilangan separuh jiwaku jika tanpa Aisha.
“Pak, masih lama sampenya?”
“Insya Allah dikit lagi. sabar dong,”
Setengah jam kemudian.
“Pak, kapan sampainya? Deg-degan nih aku, mana gak ada Aisha lagi!” comelku dalam perjalanan menuju tempat kompetisi.
“Memang Aisha segitunya buat kamu?” aku tahu, pertanyaan konyol ini hanya sekedar untuk menghiburku. Dasar, pintar sekali sih, pak Imad. Tapi, enak juga sih, ngobrol bareng dia. kayak ngobrol bareng si Bimo. Asyik.
“Aisha itu baik, ramah, beda dari yang lain pokoknya, Pak! Aku sama Aisha pernah berjanji sehidup semati loh.”
“Kok gitu?”
“Iya sehidup semati. Pak Imad ngerti, gak? Tiap malem aku sering berdoa supaya Aisha jadi sahabat Azumi selamanyaa apapun yang terjadi,” ucapku dengan hati berbunga-bunga dan refleks menutup mata sambil merentangkan tangan.
“Aaakkhh! Awas!!”
BRAKKK.
“Astagh..fir..ru..llaah..aaahh…”
Gelap.
Aku tak tahu ada di mana. Di rumah? Tapi kenapa tak ada ruangan sama sekali?
“Subhanallah, tidak ada luka lecet pun di tubuhnya! Bahkan, memar pun tak ada! Masya Allah..” ujar sang Ibu pemilik warung kopi di jalan trotoar.
“Yo pasti lah, Jeng.. wong sing perempuan kayak bintang sinetron. Sudah jilbaban ayu pisan! Pasti baik orang itu.”
“Yaa, semoga saja amal ibadahnya diterma sama Gusti Allah, nggeh, Bu..” ujar salah satu wanita yang melihat kejadian naas tersebut.
“Amiin ya Rabb..” jawabnya serentak.
Hei! Apa yang di katakan ibu-ibu itu barusan? Loh? pak Imad mana? Seingatku, aku sedang bercakap-cakap dengan pak Imad di atas sepeda motor. Lalu, aku memejamkan mata dan pak Imad berteriak! Tapi saat itu aku sudah tak sadarkan diri. Astaghfirullah.. apa aku..
Tidak… jangaaaan…
Tidak mungkin… aku masih ingin hidup! aku takut adzab Allah!! Astaghfirullahaladzim…
“Iya, pak, setelah jenazah Azumi Larasati dikuburkan, jenazah Aisha Nurrahmah akan segera dikuburkan.” ucap pak Imad kepada kiai Ukik.
“Saya benar-benar tidak menyangka, kejadiannya begitu cepat.” ujar Bu Masning, Ibu Aisha yang kini sudah agak baikan. Sedangkan Ibu Azumi masih tetap menangis meraung-raung meratapi kepergian anaknya di ruang jenazah.
“Iya, Bu, saya juga sempat shock waktu itu.. kok bisa-bisanya ya.. padahal saat saya sedang menggonceng Azumi di belakang saya, saya berani bersumpah, saya tidak mengantuk, ataupun kecapekan. Malah saya sangat semangat, Bu..”
Bu Masning masih terdiam sambil sesekali mengusap kelopak matanya dengan tisu.
“Oh ya, Bu, sebelumnya saya sempet denger, Azumi berkata pada saya..”
Mendengar kata-kata Azumi, Bu Estu, Ibu Azumi langsung mendekat sambil dipapah oleh suaminya. “A.. anak saya mengatakan apa, pa..ak ustadz?” ujar Bu Estu sedikit terbata.
“Azumi bilang, Aisha itu sahabatnya yang paling dia sayang.” Pak Imad berhenti sejenak, Bu Estu lagi-lagi menangis dalam dekapan suaminya.
Lalu, “Azumi bilang, setiap malamnya, ia selalu berdoa supaya Aisha jadi sahabat Azumi selamanya, bahkan si Azumi juga mengucapkan bahawa mereka berdua berjanji sehidup semati. Subhanallah.. saya juga sempat berpikir, apa mungkin dari kejadian aneh ini karena Azumi dan Aisha berjanji sehidup semati ya?”
“Bisa jadi, Pak ustadz, karena ucapan adalah doa. Dan terbukti, kematian Azumi dan Aisha nyaris beda menitnya saja..” ujar Ayah Azumi yang sedari tadi hanya mendekap Istrinya.
“Masya Allah, Azumi, Aisha…” tangis Bu Masning pun semakin pecah tak karuan. Pipinya membentuk sebuah aliran sungai air mata.
“Pantes saja, saya juga ndak nyangka pak Ustadz, kalau Aisha sama Azumi meninggalkan kami di hari yang sama, sampai-sampai saya tak jadi operasi gara-gara dapet berita dari bapaknya Aisha kalau Aisha meninggal di mualla rumah sakit..” kenang Bu Masning.
Seisi ruangan pun kembali hening. Hanya menunggu waktu pemakaman tiba.
“Ya sudah bu, saya masuk dulu ke ruang jenazah. Assalamualaikum..” pamit pak Imad kepada dua keluarga tersebut.
“Saya tidak tahu harus mengatakan apa Azumi.. tapi saya akui, kamu meninggalkan kami dengan keadaan khusnul khatimah seperti sahabatmu.. kamu sudah rela berjihad di jalan Allah dengan menggengam al-qur’an dan menghafalnya.. saya.. saya.. merasa kehilangan kamu.. tapi tak apa.. tenanglah di sana bersama Aisha.. sahabatmu yang sehidup semati. Semoga Allah menerima segala amalan kalian selama ini.. amiin..” ucap pak Imad di telinga Azumi dengan menitikkan air mata. Ya, air mata itu dijatuhkannya untuk melepas kepergian Azumi dan Aisha, murid tersayangnya, bahkan di hatinya. 

Cerpen Karangan: Ilmalana Dewi
Facebook: Ilmalana Dewi
Ilmalana Dewi lahir di Gresik pada tanggal 23 Februari 1997. Saat ini ia masih berstatus sebagai seorang siswi di SMA Muhammadiyah 1 Gresik.

Cerpen Islami Hikmah di Balik Cobaan Berat

Cerpen Islami Hikmah di Balik Cobaan Berat | Pagi itu, Regina seorang gadis kecil bermata biru berambut pirang, terlihat berpakaian rapi dengan parfum yang amat wangi. Ia telah dinanti Ayahnya di depan pintu gerbang rumah sang Bunda. Iya, Ayah dan Bundanya tak bersama lagi, namun mereka tetap berhubungan satu sama lain. Regina sangat bahagia sekali walaupun keluarganya tak bersatu lagi namun ia disayang layaknya anak yang masih punya keluarga yang sempurna.

Suatu hari, sang Bunda jatuh sakit dan terpaksa dibawa ke rumah sakit. Bundanya terkena ledakan bom di kantornya yang menyebabkan luka bakar di sekujur tubuh Bunda Regina. Regina yang mengetahui Bundanya sekarat itu tak henti-hentinya menagis. Sang Ayah mencoba menenangkan dan menghibur Regina dengan kasih sayang yang amat tulus, namun Regina tetap saja menangis walau tak begitu sedu. Setelah satu hari menunggu Bunda di luar, Regina dan Ayahnya diperbolehkan dokter untuk masuk menjenguk Bunda tanpa harus bersuara berisik. Mereka masuk ke dalam ruangan sambil berhati-hati untuk menjaga ketenangan. Mereka berdua memanjatkan doa berharap seakan-akan sang Bunda siuman. Sang Ayah berpamitan kepada Regina untuk ke luar sebentar mencari nasi untuk disantap sebagai makan malam. Setelah sang Ayah pergi Regina berbisik lirih di telinga Bundanya.
armaila.com - Cerpen Islami Hikmah di Balik Cobaan Berat

==================
Cerpen Islami Hikmah di Balik Cobaan Berat
kumpulan cerpen islami asma nadia
cerpen islami pernikahan
cerpen islami lucu
cerpen islami helvy tiana rosa
cerpen islami terbaru
kumpulan cerpen islami
cerpen cinta islami
 ==================

“Bun, kenapa Bunda harus terbaring di sini, terbaring di tempat sempit dan berbau obat ini? Kenapa Bunda harus masuk ke tempat yang tak selayaknya Bunda masuki?”
Dengan raut wajah Regina yang begitu memelas, ia mulai meneteskan air mata sedikit demi sedikit air mata itu membasahi pipi Regina yang manis itu. Ayah datang membawa dua bungkus nasi kucing yang ia beli di depan rumah sakit, Regina langsung mengelap air yang membasahi pipinya.
“Nih Ayah bawakan kamu nasi, gih dimakan kamu kan belum makan dari tadi,” bujuk Ayahnya.
Tapi Regina menjawab dengan pasti, “Tapi Bunda belum makan dari tadi, Ayah nggak kasihan sama Bunda?”
“Bunda udah pakai infus sayang, jadi nggak perlu makan, lagi pula kalau Bunda makan gimana caraya,” kata sang Ayah memperjelas.
Akhirnya dengan bujukan sang Ayah Regina mau menyantap makan malam dengan nasi sederhana itu.
Suatu ketika, Regina harus masuk rawat inap mungkin karena terlalu lelah menunggu sang Bunda siuman dari koma panjangnya.
“Hmm Ayah sedih kamu masuk ke sini,” kata Ayah sambil mengelus kening Regina dengan lembut.
“Tapi di sini, di ruang ini Regina bisa merasakan terbaring lemah tak berdaya walau tak selemah Bunda,” kata Regina kaku kepada Ayahnya.
“Tetapi tak begini juga caranya sayang,” kata sang Ayah menjelaskan.
Terlihat dokter sedang memanggil Ayah, Ayah pun mendekat berharap ada kabar baik dari kesehatan Bunda Regina. Oh Ayah salah ternyata Bunda Regina bukanya semakin membaik malah tambah kritis.
“Pak begini Bunda Regina semakin lama semakin kritis kemungkinan tanpa mukzijat Tuhan, besok ia sudah tiada,” kata dokter terlihat ragu.
“Hah nggak mungkin dok, nggak mungkin, bagaimana jika Regina tahu kalau Bundanya akan meninggal?” tanya Ayah ke dokter dengan bingung.
“Saya turut berduka cita saja pak, Bapak harus sabar dan tabah dengan semua yang terjadi ini,” kata dokter sambil berlalu pergi.
“Rasanya hidup tiada artinya, gimana kalau Regina tahu, gimana kalau ia tahu Bundanya akan segera tiada, bagaimana? mungkin aku harus berdoa dan beribadah berharap Sang Pencipta memberi mukzijat.” kata Ayah dalam hati dan berpamitan untuk ke musala seberang.
“Ya Allah Ya Tuhanku berikan kesembuhan kepada mantan isteriku dan anak manisku berikan mukzijatmu. Ya Allah karena hanya Engkaulah yang bisa ku mintai pertolongan,” doa Ayah dalam selesai salat.
Sekembalinya Ayah ke ruangan Regina dirawat, Regina sudah tiada, pergi ke mana dia, setelah dicari ternyata dia sedang menangis di ruang IGD sang Bunda dirawat.
“Oh Regina sayang mengapa kau menangis?” tanya Ayah kebingungan.
“Ayah tak usah bohong, aku tahu jika besok Bunda akan meninggal.”
“Siapa yang bilang sayang, itu semua salah.”
“Buktinya hp Ayah ada sms dari tante Tuti, kalau Bunda akan meninggal besok,” bentak Regina.
“Itu kan hanya dokter yang memprediksi hanya yang di atas yang tahu. Sudahlah sayang lebih baik kita berdoa saja berharap Bunda diberi kesembuhan,” kata Ayah dengan lembut.
Dengan kesungguhan dan pecaya Bunda kan sembuh, Regina selalu berdzikir, berdoa, meminta pada Sang Kuasa agar sang Bunda bisa sembuh seketika. Selesai berdoa Regina menangis dan berbisik lirih pada sang Bunda.
“Bun, kalau Bunda udah nggak kuat aku ikhlas Bunda harus pergi, tapi kalau Bunda masih pengin hidup aku dan Ayah akan mencoba membantu Bunda.”
Tanpa memperhatikan Bundanya lagi Regina berlari dengan langkah yang terpapah-papah karena belum pulih. Sang Ayah yang masih menunggu di IGD melihat Bunda Regina meneteskan air mata, Ayah pun spontan senang dan memanggil dokter untuk menanganinya.
“Sungguh luar biasa kuasa Tuhan ini aku tak menyangka bahwa ia secepat ini pulihnya, kau sangat beruntung,” kata dokter kepada Ayah.
Terlihat kondisi Bunda yang semakin membaik, dokter memindahkannya ke ruang rawat inap biasa tepat di samping aku berbaring. Huft Bunda secepat ini sembuh, aku amat bahagia begitu juga Ayah.
Lima Minggu kemudian Bunda diperbolehkan pulang dan Ayah memutuskan untuk rujukan lagi ma Bunda. Sebelumnya aku tak tahu mengapa Tuhan memberikan cobaan seberat ini namun sekarang aku tahu Dia memberi cobaan ternyata untuk ini, untuk kebahagiaanku. Tak sia-sia aku harus melawan badai kehidupan, tak sia-sia aku menangis, tak sia-sia Bunda harus sakit-sakitan, tak sia-sia Ayah mencari uang, hanya demi kesempurnaan sebuah keluarga kecil ini. Makasih Ya Allah.

Cerpen Karangan: Taqiyya Hikma Rodhiyya
Facebook: Taqiyya Hikma
School: Junior High School 1 Wonogiri
Adress: Giritontro, Wonogiri, Central Java

Cerpen Islami Anak Menggugat Arwah Ayahnya

Cerpen Islami Anak Menggugat Arwah Ayahnya | Pukul dua belas tengah malam. Pintu kubur Macver digedor dengan kasar. Lelaki itu terperanjat. Segera dia mengintip dari lobang kunci. Sinar bulan lima belas Sya’ban terang benderang di luar. Macver makin terkejut bercampur heran melihat keempat orang yang datang menggedor pintu kuburnya itu. Perempuan cantik itu adalah istrinya yang sampai saat ini masih tetap menjanda. Dua orang pemuda ganteng itu pasti anaknya. Sebab baik wajah maupun postur tubuh mereka jelas bak fotokopi dirinya. Atletis! Yang seorang lagi gadis kecil, cantik seperti istrinya.

“Apakah dia anak bungsuku yang baru berumur setahun ketika aku mati?” Tanya Macver dalam hati.
Pintu kubur Macver digedor lagi. Lebih keras. Lelaki itu membuka pintu.
“Pak.” sapa perempuan cantik itu.
Macver hanya mengangguk. Malu dia pada istrinya itu. Dua belas tahun sudah dia menjadi janda, menjadi Ibu sekaligus Ayah bagi anak-anaknya. Dengan segala kekuatan yang ada, dia berusaha memberi nafkah dan pendidikan anak-anaknya. Untunglah sejak gadis dia biasa menerima jahitan pakaian wanita. Perempuan itu juga sangat setia pada suaminya. Dia rajin sekali ziarah ke kuburan suaminya. Tetapi baru kali ini dia membawa serta anak-anaknya berziarah.
armaila.com - Cerpen Islami Anak Menggugat Arwah Ayahnya

==================
cerpen islami romantis
kumpulan cerpen islami asma nadia
cerpen islami pernikahan
cerpen islami lucu
cerpen islami helvy tiana rosa
cerpen islami terbaru
kumpulan cerpen islami
cerpen cinta islami
 ==================

“Ini anak-anak kita, Pak.” ujarnya kemudian. “Dzikri, anak sulung kita, baru lulus Sarjana Hukum. Royyan, sebentar lagi ujian SMA. Dan ini, yang cantik ini, Zhia, anak bungsu kita, baru kelas dua SMP.”
Macver mengangguk kembali sambil tersenyum.
“Ayo Dzikri, Royyan, Zhia, peluk Ayah kalian,” bujuk perempuan itu selanjutnya.
Dzikri segera merangkul Ayahnya. Erat sekali. Sebutir air bening menetes dari kelopak matanya. Dzikri baru berumur dua belas tahun ketika Ayahnya meninggal. Dia sudah dapat merasakan pukulan terhadap keluarganya saat Ayahnya diPHK, tiga tahun sebelum orangtuanya meninggal dunia. Dzikri juga terlibat langsung mengatasi kesulitan hidup keluarganya. Mereka kemudian, atas saran seorang kenalan, membuka toko buku sederhana. Sampai saat ini usaha itu menjadi penyangga utama kehidupan keluarga. Lalu sejak Ayahnya meninggal, beban Dzikri bertambah berat. Sebagai anak sulung dia bertanggungjawab membantu Ibunya mengurus keluarga. Pagi dia sekolah, sore menjaga toko buku. Sementara Ibunya sibuk dengan pesanan jahitan pakaian wanita. Macver menepuk pundak Dzikri, ketika anak sulungnya itu melepaskan pelukan.
Kemudian giliran Royyan. Anak ini berumur tujuh tahun waktu Ayahnya meninggal dunia. Royyan menjabat tangan Ayahnya sekenanya saja. Tak bergairah. Macver maklum. Anak itu mungkin terpengaruh oleh tata karma remaja masa kini. Bagi mereka sungkem kepada orangtua dianggap sama saja dengan terhadap teman sebaya. Selanjutnya merupakan puncak kerinduan seorang Ayah terhadap anaknya. Dua belas tahun yang lalu Macver sering menggendong anak perempuannya itu pada waktu senggangnya. Kala itu secara diam-diam, sebenarnya kasih sayang Macver terhadap si Zhia melebihi kasih sayangnya terhadap kedua anak lelakinya. Kini Macver ingin sekali menggendong anaknya itu, seperti dulu. Memeluk dan menciumnya seperti dulu.
Dengan segala rasa rindu yang tak tertahankan, Macver berusaha memeluk Zhia, anak bungsunya itu. Tetapi gadis kecil itu mengelak. Macver terjerembab. Bibirnya membentur tembok kubur. Dengan punggung tangan dia mengusap bibirnya. Merah. Bibir Macver pecah!
“Zhia, anakku.” rintih Macver.
Sang anak berkacak pinggang.
“Jadi kamulah yang bernama Macver itu?!” tanya Zhia garang.
“Zhia!” bentak Dzikri. Ingin rasanya dia menampar anak itu. “Kurang ajar kau. Beliau Bapak kita. Bapakmu. Beliau dan Ibu selalu mengajarkan tata karma kepada kita.”
“Dzikri. Biarkanlah dia menyampaikan keluhannya. Sekarang bukan zamannya lagi melarang orang bicara.” Macver melerai.
“Memang. Saya sudah lama ingin melihat tampang orang bernama Macver itu.” Gugat Zhia sengit. “Saya menyesal telah mencantumkan nama Anda pada Ijazah saya. Dulu saya kira Anda seorang malaikat seperti diceritakan Ibu dan Kak Dzikri. Belakangan saya mengerti, ternyata Anda seorang pengkhianat. Gara-gara nama Anda di Ijazah dan Buku Rapor saya itu, saya ditolak menjadi Pelajar Teladan. Kak Royyan bernasib serupa. Tahun lalu dia dipecat sebagai ketua OSIS. Kak Dzikri gagal dalam tes wawancara untuk menjadi pegawai hanya karena mempunyai Ayah bernama Macver. Seorang penghianat bangsa.”
Macver menelan ludah. Begitu cepat masyarakat ini berubah, pikirnya. Apakah guru-guru sekarang tidak pernah lagi mengajarkan tata karma di sekolah? Hah! Macver mendesah.
“Dzikri, apa yang terjadi selama dua belas tahun ini?” tanya Macver pada anak sulungnya.
“Bapak. Maafkan kami. Saya dan Ibu ternyata gagal mendidik adik-adik. Memang opini massa lebih dominan sekarang. Mereka sering baca koran, mendengar radio dan menonton televisi. Dari semua itu dan sikap arogan sebagian manusia, mereka mengetahui bahwa orang-orang seperti Bapak ini kotor. Busuk dan pengkhianat bangsa. Siapa-siapa yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang seperti Bapak dianggap tidak bersih lingkungan. Termasuk kami,” jelas Dzikri pilu.
“Dan yang lebih tragis lagi,” sambung Dzikri. “Kami sering diasingkan dari pergaulan. Orang-orang takut bergaul bersama kami. Apalagi kawin dengan kami. Karena orang yang mertuanya saja seperti Bapak, juga dianggap kotor. Yang sudah bekerja bisa dipecat. Yang belum bekerja, tak mungkin mendapat pekerjaan.”
Macver mengusap wajahnya. “Sampai begitu?” keluhnya.
“Ya. Kami semua tidak punya masa depan. Ini gara-gara Bapak,” dakwa Royyan. “Tapi apa sebenarnya yang telah Bapak lakukan pada masa silam, sehingga kami harus menanggung dosa-dosa Bapak dari masa ke masa?”
Macver termenung. Peristiwa demi peristiwa kembali melintas di benaknya.
Lima belas tahun yang silam, Macver dipecat dari perusahaan tambang, tempat dia bekerja. Sebanyak seribu lima puluh orang buruh kasar seperti dia mengalami nasib yang sama waktu itu. Mereka dipecat dengan alasan mereka dianggap sebagai anggota suatu serikat buruh tambang yang berafiliasi dengan suatu organisasi terlarang. Sebenarnya Macver sendiri tidak mengerti mengenai status keanggotaannya dalam serikat buruh itu. Memang sekitar sepuluh tahun sebelumnya dia pernah membubuhkan tanda tangan pada selembar formulir. Tetapi seingat dia, seluruh karyawan menandatangani formulir celaka itu. Karena kalau tidak mau menandatangani, orang itu akan diinterogasi. Diintimidasi. Bahkan didiskriminasi, kalau tidak dipecat.
Samar-samar Macver masih ingat ketika berbondong-bondong menuju balai pertemuan milik perusahaan. Dalam pertemuan itu seorang tokoh perusahaan berpidato. Dia menjelaskan bahwa tujuan organisasi itu adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggota. Ditegaskan pula bahwa sebagai kaum yang loyal tentu saja semua karyawan harus menjadi anggota secara sukarela. Siapa yang tidak mau menjadi anggota diragukan loyalitasnya. Hanya itu yang diketahuinya tentang organisasi itu. Selebihnya dia hanyalah sebagai karyawan biasa. Tidak pernah ikut organisasi, baik rapat-rapat maupun aksi-aksi massa.
“Hanya itulah yang Bapak lakukan, anak-anakku,” kata Macver kemudian, setelah dia menjelaskan keterlibatannya dalam organisasi itu.
“Tapi mengapa kami menjadi korban?” tanya Royyan kurang puas.
“Untuk apa SH-nya Kak Dzikri, kalau semua orang menganggapnya sebagai wabah?” tanya Zhia pula. “Untuk apa saya sekolah dan berprestasi, kalau setiap prestasi yang saya ukir akhirnya dianulir? Untuk apa saya cantik, kalau tidak ada lagi lelaki yang mau menjadi pacar apalagi suami saya? Untuk apa?” Zhia menjerit histeris. Seperti harimau lapar dia menerkam.
Macver. Dengan kuku-kukunya yang panjang itu, Zhia mencakar dada Ayahnya yang lapang. Macver merengkuh tubuh anak gadisnya. Dibelainya rambut gadis itu. Kemudian diciumnya pipi anak bungsunya itu berkali-kali, seperti sering dilakukannya dua belas tahun yang lalu. Zhia seperti bayi saja berada dalam pelukan Ayahnya. “Zhia,” bisik Macver kemudian.
“Maafkan Bapak, nak. Engkau telah banyak menderita karena Bapak. Tapi yakinlah, tak ada orangtua yang bermaksud menyengsarakan anaknya. Bapak tak sejahat yang kalian duga. Sabarlah, nak. Semua yang kalian tuntut itu hanyalah bersifat sementara. Hanya titipan Allah, yang tidak akan dibawa mati. Jabatan Ketua OSIS hanya setahun. Predikat teladan, belum tentu menjamin keberhasilan hidup. Banyak orang yang tidak teladan, tetapi sukses. Kemudian, kesarjanaan seseorang jangan dikira tidak berarti, hanya karena dia tidak diterima bekerja di instansi-instansi atau perusahaan besar.
Anakku. Yang penting, kerjakanlah apa yang sanggup engkau lakukan untuk menyambung hidup dengan jujur, adil dan tidak merampas hak orang lain. Biarkanlah semua orang mengatakan engkau kotor, sebab di hadapan Allah belum tentu orang itu lebih bersih daripada engkau.”
Zhia terkesima. Dia menatap wajah Ayahnya dalam-dalam. Diam-diam dia merasakan kehangatan lain berada dalam pelukan orang yang hanya dia ketahui namanya saja selama ini.
“Jadi Bapak juga percaya adanya Allah?” tanya Zhia ragu-ragu. Macver menoleh pada Dzikri.
“Dulu, Bapak kita seorang Khotib, Zhia.” jelas Dzikri.
“Oh. Maafkan Zhia, Bapak.” kata-kata itu nyaris tak selesai diucapkan Zhia, karena tangisnya telah meledak. Dan dia menyusupkan wajahnya ke dada Ayahnya. Dalam-dalam.
Cerpen Karangan: Surtam A Amin
Facebook: surtam.weebly.com

Cerpen Islami Kalam Ilahi

Cerpen Islami Kalam Ilahi | Cukup untuk hari ini. Ku rebahkan tubuh palsu ini ke tumpukan jerami modern. Ku getarkan lisan sambil mengangkat kepala. Tak lama kemudian aku terhenyak dalam kalam-Nya. Semakin jelas irama yang ku dengar. Ku coba kembali masuk ke alamku. Namun, aku gagal. Ku tanggalkan bunga yang ku dapat sebagai perhiasan malam. Ketika ku lihat di atas kaca, butiran kristal turun dari atap kehidupan. Bergegas ku izinkan langkah menuju Raja dan Ratu.
“pak,”
“ada apa le?”
“hujan pak”
“astagfirullah, buk hujan”
“ambil bak le!”
“niki pak”
armaila.com - Cerpen Islami Kalam Ilahi

==================
cerpen islami romantis
kumpulan cerpen islami asma nadia
cerpen islami pernikahan
cerpen islami lucu
cerpen islami helvy tiana rosa
cerpen islami terbaru
kumpulan cerpen islami
cerpen cinta islami
 ==================
Rahmat Sang Pencipta mengejutkan kami di dalam bunga malam, seakan ingin menunjukan bahwa kini saatnya musim jamur berbuah, barisan semut naik, dan warna langit yang teramat indah. Saat terdengar ayam santri mulai berkokok, membuyarkan lamunan keluarga kecil. Bahwa waktu mustajabah telah hinggap di setiap helai pembulu darah dengan mengambil air suci, kami angkat tangan secara ikhlas, menandakan qiyamullail telah dimulai.
“dah le, sampean tidur, kalau masih cape”
“ndak apa pak, bentar lagi dah manjing”
Tak disadari pergantian malaikat malam dengan malaikat pagi telah terjadi, suara merdu ayam duniawi terdengar serentak. Menandakan laporan kepada mpunya jiwa, akan dimulai. Dengungan pembakar syetan teralun dengan indah. Dengan langkah yakin, beratapkan selembar kain. Aku berangkat menuju rumah-Nya.
“mad dingin”
“engge pakde”
“ya syukuri aja, maklum pertama kali. Sudah panggil semua orang”
Setelah turun dari singga sana, saatnya bertolak menuju surgaku. Tak hentinya sang atap meratap, walau kini tak sekeras tadi. Lamanya dingin di waktu pagi, matahari bergerak semu utara, kini berganti. Hingga kenikmatan yang dulu haruslah terpecah.
“le nanti bantu ya”
“engge bu”
“sebelum kamu berangkat mampir ke bang Indra, minta bantuan.”
“siap pak, assalamualaikum”
Ku kayuh kendaraan rapuh ini menuju medan jihad yang karomah. Atap kehidupan pun masih dengan serunya menanamkan manfaat bagi manusia. Sepulangnya dari menimba air, ku bantu kedua orangtua untuk membetulkan papan-papan. Sunggu indah nian hujan pertama di paceklik kemarau.
Cerpen Karangan: Achmad Jahidin Al Ayubi
Facebook: Ahmad Jahidin

Cerpen Islami Oase Bagi Kami Pencari CintaMu

Cerpen Islami Oase Bagi Kami Pencari CintaMu | Pertemuan tak selamanya lewat dunia nyata. Mungkin waktu yang tak mengijinkan. Waktu yang berselisihan. Mungkin jarak yang panjang yang memisahkan kita hampir dari ujung Pulau Jawa ke ujung yang lain. Mungkin jarak bisa ditempuh demi bertemu. Mungkin waktu bisa diusahakan. Hanya kesempatanlah yang tak ditemukan. Bukan maksud tak ingin bertemu, berkunjung, dan berbicara langsung berhadapan. Maafkanlah bila semua keinginan kita tak bisa sejalan dengan kenyataan.
armaila.com - Cerpen Islami Oase Bagi Kami Pencari CintaMu


cerpen islami romantiskumpulan cerpen islami asma nadia
cerpen islami pernikahan
cerpen islami lucu
cerpen islami helvy tiana rosa
cerpen islami terbaru
kumpulan cerpen islami
cerpen cinta islami


Dunia maya menjadi sarana pertemuan kita. Alhamdulillah. Berkat Rahmat dan Hidayah Allah SWT, kita dipertemukan melalui salah satu wadah pencari cinta Al Qur’an. Melalui Grup ODOJ [one day one juz] tepatnya Grup ODOJ 2301 kita dipertemukan. Awal yang tak saling kenal. Awal yang mungkin tak peduli. Awal yang mungkin belum bisa sekonsisten ini. Awal mungkin masih belum terlalu cinta. Sungguh cinta Allah pada makhluk-Nya benar nyata. Dari yang jauh kita didekatkan, dari yang tidak kenal kita dipertemukan. Dari yang mungkin kita kurang peduli, dibuat makin cinta. Makin cinta Allah, Makin cinta Al Qur’an, Makin cinta dan bangga menjadi seorang muslimah.
ODOJ satu grup terdiri dari 30 orang. Terbentuk langsung oleh admin di pusat. Kita tak memilih siapa yang satu grup dengan kita. Karena kita daftar via whatsapp melalui admin pusat dan adminlah yang menentukan grup kita. Mengumpulkan 30 orang menjadi satu grup, tak mudah. Berkumpul hanya berkumpul itu mudah. Tapi berkumpul bertahan untuk Istiqomah dalam tilawah dan menjadi keluarga itu semua butuh proses. Kadang ada canda, tawa, kadang ada renungan, kadang ada selisih paham, tapi semua membentuk kita jadi orang yang pengertian, dan bisa saling memaafkan.
ODOJ terdiri dari 30 orang, one day one juz, satu hari satu juz. Dengan ODOJ kita belajar untuk membaca Al Qur’an satu hari satu juz. Belajar untuk konsisten bisa selesai -kholas- satu juz sehari. Susah, ah coba dulu baru nanti protes. Awalnya memang agak susah, tapi kalau sudah biasa, pasti akan berkomentar. “ah itu biasa, kalau gak malah aneh.” Dari 30 orang grup ODOJ itulah, aku bertemu dengan seseorang yang bisa membuka mataku. Yang selama ini tak pernah terpikirkan. Kalau ada hanya di berita, paling hanya maklum. Namun saat kenalan kita sendiri yang mengalami, orang yang dekat dengan kita, semua ini akan berbeda. Berbeda cara pandang dan menanggapinya.
Seseorang yang selalu eksis di grup. Selalu memberikan semangat. Selalu memberikan renungan -tausiah. Selalu berbagi hal yang menyenangkan. Dan seseorang yang lebih banyak ceria daripada muram. Seseorang yang kadang-kadang menghilang tiba-tiba tanpa kabar berita seharian bahkan beberapa hari. Seseorang yang kadang-kadang langsung meminta maaf kalau dia tak bisa mengikuti semua, santun budinya.
Teteh Astri, panggilan akrabnya, dia adalah ketua grup ODOJ 2301 yang dipilih melalui pemilihan suara 30 anggota di grup oleh admin kami, Mbak Zein. Suatu hari setelah sekian waktu kita sama-sama belajar konsisten di ODOJ, kita terlibat obrolan yang menarik. Tentang dirinya. Tentang alasan kenapa selama ini sering menghilang di obrolan grup. Alasan yang tidak semua kawan di grup mengetahuinya. Mulailah obrolan kami, dari sharing tentang tilawah dan tentang keinginannya agar grup ODOJ 2301 bisa tetap istiqomah dalam tilawah terutama bagi mereka yang diberi kesehatan yang mungkin lebih beruntung dibanding ia, mulailah ia bercerita tentang kisah hidupnya, berharap pesan, harapan dan semangatnya dapat ia sampaikan pada banyak orang.
Teteh Astri dilahirkan di Jakarta, dengan kedua orangtua yang sangat sibuk. Ayahnya seorang pelaut dan Ibunya seorang perawat di Rumah Sakit. Anak pertama dari dua bersaudara ini merasa tak ada yang spesial darinya, karena sering ke luar masuk rumah sakit serta akademiknya yang rata-rata dibanding keluarga besarnya. Pada tahun 1993 Teteh mengikuti Bibinya yang tinggal di Bandung dan bersekolah SMP serta SMA di sana. Saat duduk di bangku SMA Teteh sering pingsan di mana saja, kapan saja tanpa tahu penyebabnya, baik saat senang, sedih bahkan hanya karena melihat barisan semut yang banyak di dinding, ia bisa pingsan. Ia pun sering dibawa ke BP -bimbingan konseling- karena dikira memiliki masalah.
Tahun 1997 Teteh lulus SMA dengan nilai terbaik, usaha tetap rajin belajar yang berat dan sulit melawan sakitnya itu pun berbuah manis. Ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Sosial, tapi karena seringnya ia sakit dan pingsan, Ibunya tidak memberi izin. Ia pun melanjutkan kuliah di Universitas AT–Taqwa Bandung mengambil jurusan PGTK -Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak. Tidak ada yang beda dari SMA maupun kuliah, pingsan masih sering datang. Ia pun sering masuk dan ke luar Rumah Sakit, anehnya Teteh belum tahu apa sebenarnya penyakit yang ia derita. Dokter hanya rajin memberi obat, menyarankan untuk istirahat dan berpesan agar tidak terlalu capai.
Hingga lulus kuliah, sakitnya makin parah disertai dengan sakit kepala yang hebat, kram di kepala dan pingsan. Kali ini pingsan yang tidak biasa, sampai tiga hari dinyatakan mati suri. Akhirnya semua aktivitas dialihkan di Rumah Sakit. Dokter umum, dokter spesialis saraf dan dokter spesialis bedah saraf berembuk, bahkan dokter spesialis bedah saraf dan dokter spesialis saraf memiliki argumen yang berbeda. Sehingga membuat keluarga besarnya tegang, terutama Ibunya. Kata dokter bedah saraf, Teteh harus operasi di kepala, sesuatu yang membahayakan. Kalau tidak cepat ditindak hanya satu tahun bisa hidup dengan cacat plus mata buta. Kata dokter saraf, rawan, kalau diambil penyakitnya maka akan terkena saraf lain, jadi 50 persen banding 50 persen.
Sungguh keputusan yang berat dan menyedihkan. Teteh hanya bilang, “dok, operasi saja jika itu yang terbaik.” Keluarga semua kaget, terutama Ibunya, Teteh pun berusaha menenangkan Ibunya.
“Bu, gak ada yang sempurna di dunia ini, kalau Teteh meninggal, Teteh sudah siap, mungkin itu yang terbaik menurut Allah. Kita bisa meninggal di mana saja dan kapan saja.” Tahun 1999 operasi dilaksanakan, Teteh mengira ia tidak akan diberi kehidupan atau ia akan cacat di kursi roda dan merepotan banyak orang. Namun Allah memberinya kesempatan lebih untuk menjadi orang yang lebih baik dan berguna bagi banyak orang.
Tak hentinya Teteh bersyukur pada Allah, memulai semangat baru yang lebih besar, Teteh sudah rindu dengan semua kegiatan serta aktivitasnya yang cukup lama vakum karena harus istirahat di Rumah Sakit. Teteh ingin kembali Liqo -pengajian- dan bertemu kawan-kawannya tapi yang ia dapat jauh dari bayangan serta angan-angannya, Ia dicampakkan oleh Murabbinya. Kata-kata Murobbi yang menyakitkan itu masih jelas terekam di kepala Teteh.
“Kamu malu-maluin saya, kenapa gak ngomong kalau kamu sakit parah. Yang dipanggil dewan sura kewanitaan, sudah kamu cari murabbiah kamu sendiri, aku tidak mau liqo dengan kamu.” Sakit rasanya mendengar hal tersebut, harapannya pupus.
Ia sampai memohon agar diberi kesempatan sekali saja, untuk terakhir kalinya. Namun tak ada respon dan sang murobbi langsung mematikan telepon. Teteh merasa terpukul, syok dan pingsan. Semangatnya turun dan drop cukup lama. Ia berpikir harus bangkit, memulai menapaki hari-hari, harus semangat dan bisa melanglang buana. Dengan tekad bisa seperti orang lain, meski bukan akhwat yang anggun dan rapi tapi ini adalah dirinya, jalannya, warna-warninya.
Tahun 2006, terjadi tsunami aceh, keinginannya membantu sesama semakin besar. Ia pun mencari info cara untuk dapat menjadi relawan di Aceh, Abunya mengultimatum, kalau ada akhwat yang pergi ke Aceh harus menikah dulu atau dijodohkan. Teteh mencoba daftar melalui Bank Syariah Mandiri dan lulus. Tapi kalimat yang terkahir sama.
“Teteh siap menikah sekarang?” Teteh tetap berusaha mencari yang tidak ada persyaratan menikah. Usaha, keinginan dan keyakinan yang kuat itu membuahkan hasil, dari Dinkes akhirnya Teteh berangkat ke Aceh.
Aceh rawan, terpencil, pulau Meulaboh masih banyak mayat. Di sana Teteh dengan UNICEF menangani anak-anak yang trauma, walau di di RS juga ikut membantu sebisanya. Dikejar-kejar GAM, ikut naik turun Truk ABRI walau ia yang paling muda. Berdua dengan teman perawat, paling kecil, paling bawel, ikutan kopi darat melaporkan kejadian hari ini ke bandung. Subhanallah, selama 2,5 bulan di Aceh, Allah memberi kekuatan, Teteh sehat dan tidak lagi pingsan seperti dulu. Dari situ Teteh ditarik oleh UNICEF walau tidak tetap, tapi ilmu akan ia kejar ke mana pun walau dengan keterbatasannya. Ia pun kembali ke Jakarta, ikut dengan rombongan komnas anak, kebetulan akan diadakan hari anak nasional, kesempatan melanglang buana itu pun ia dapatkan. Baginya tidak ada kata terlambat untuk perubahan.
November 2005, Teteh menikah melalui ta’aruf. Ia tidak percaya dengan laki-laki jika tanpa ikatan pernikahan. Ia pikir semua laki-laki sama, suka menyakiti perasaan wanita dan obral janji. Jadi ketika ta’aruf, dengan tegas ia langsung mengutarakan keinginan serta prinsipnya.
“saya mah gak mau hubungan tanpa status, kalau sudah siap mau gak kita nikah?” ternyata Pria itu siap, semua yang ia bayangkan sirna begitu saja. Ia kira Pria itu tidak siap untuk menikah secepat kilat, kalau Pria itu tidak siap, Teteh masih ingin mengejar impiannya, melaanglang buana ke Maluku. Ternyata di luar dugaan, Alhamdulillah walaupun bukan dari murabbiah, namun Pria itu hanif, saleh dan yang penting sabar terhadap Teteh yang sering sakit.
Semua kekhawatiran Ibu dan keluarga besarnya, kalau ia sulit menikah, gak bisa jadi istri untuk suami, gak bisa mandiri dan punya anak. Itu semua tidak terjadi. Sungguh Maha Suci, Maha Besar Allah dengan segala nikmatNya untuk hambaNya. Teteh bisa menikah, menjadi seorang istri dan Ibu untuk seorang putra dan seorang putrinya. Saat anak yang pertamanya usia 4 tahun Teteh sakit lagi dengan kondisi yang semakin parah. Ditambah dengan vonis-vonis dokter yang membuat Teteh mulai drop kembali. Setelah diobservasi dan terapi tangan kiri dan kaki kirinya mati rasa. Kena kejang, dingin, kadang kejang tiba-tiba. Atau dari panas balik dingin menggigil.
Teteh kembali dirawat di Rumah Sakit, tiap jam ada obat antibiotik yang dimasukkan melalui infus yang sakitnya luar biasa. Ketika kontrol di RSUD karena pingsan dengan tekanan darah 70 per 60, perawatnya dengan sinis bilang ke orang-orang, “biasa epilepsi.” Tangis Teteh pun membuncah, dadanya terasa sesak, kepalanya berat, bertahun-tahun pertanyaannya, kebingungannya akan sakit yang ia derita kini terjawab.
“kenapa gak ada yang bilang kalau aku sakit itu, kenapa semua diam, memang penyakit memalukan jadi pada diam, dan aku tahu dari perawat bukan dari keluarga sendiri.” Ia kembali drop, merasa jiwanya gersang. Ia merasa tak bersemangat bahkan dalam hal tilawah, maksimal tilawah sehari hanya 3-4 lembar, itu pun belum bisa membuat hatinya sejuk.
Hingga Ia mengenal ODOJ dari adik iparnya di bulan desember 2013. Alhamdulillah, Teteh seperti menemukan diri serta semangatnya yang dulu pernah hilang. Dengan ikut ODOJ, meski hanya melalui media sosial whatsapp. Ia bertemu dengan orang-orang saleha, sekarang ada warna-warni kehidupan lagi. Allah maha bijaksana. Ketika ia terpuruk Allah memberikan surprise yang indah. Baginya Al Qur’an sudah menjadi sahabat setianya yang selalu ada di sampingya, bagaimanapun keadaannya.
“Aku sekarang punya trauma kepala dan sakit kompleks, kalau aku masih ada napas, masih ada mata, untuk melihat, otak masih berjalan, aku harus mengkholaskan satu juz-ku. Atau ketika napas hanya satu-satu walau pakai oksigen sekalipun, kalau mata masih terbuka aku harus bisa mengkholaskan satu juz-ku walau dibaca dalam hati. Kadang sampai menangis, aku pengen dan harus membantu temen-temen yang berhalangan atau sedang sibuk, untuk mengkholaskan juznya. Ambil lelangan 2-3 juz dicicil dibaca dulu satu juz, yang lain bisa 2 juz sampai selesai jeda.” Ungkapnya penuh syukur.
Putus asa itu tiada guna dan tambah berdosa. Biar sakitnya sebagai penggugur dosa. Mudah-mudahan dilembutkan hati dengan membaca Al Qur’an.
“Aku hanya mau bilang yang sedang mengalami sakit seperti aku Allah itu ada dan akan selalu ada untuk kita, yakinlah pasti akan ada jalan keluarnya. Gak boleh banyak ngeluh, tapi buat diri kita berarti buat orang banyak. Untuk yang sehat, selalu jaga kesehatan. Tubuh kita bukan robot jangan dizholimi dengan terus menerus diforsir. Subhanallah Allah maha baik, Dia mengirimkan aku pangeran saleh dan sabar, juga anak-anakku yang aktif dan cerdas serta saleh dan saleha. Punya istana indah, yang mungil, dikala awal-awal pns suamiku. ‘Nikmat Tuhan-Mu mana yang kau dustai’. Aku akan tiba-tiba nangis kalau baca ayat itu. Aku percaya Allah memberi ujian ini tidak akan di luar kemampuan hamba-Nya. Allah ingin melihat kesabaran hamba-Nya,” pesan Teteh Astri untuk kita semua.
Cerpen Karangan: Nurul Alfiyah
Facebook: Nurul Alfiyah
Ketika duduk di bangku kelas 2 SMP cerita kocak yang dikirim oleh penulis dimuat di Majalah Mentari di rubrik “Pencak” dan penulis mendapatkan honor yang merupakan kebanggaan serta kebahagiaan di masa kecil penulis, sejak itulah penulis menyukai dan makin bersemangat untuk menulis dan saat duduk di bangku kuliah jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jember, penulis aktif di Lembaga Pers Mahasiwa Ekonomi Ecpose.