Sabtu, 16 Maret 2019

Perang Salib - Sejarah Peradaban Islam [SPI Badri Yatim]

Advertisement

Advertisement
Perang Salib - Sejarah Peradaban Islam [SPI Badri Yatim] | Sebagaimana telah disebutkan, peristiwa penting dalam gerakan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan adalah peristiwa Manzikart, tahun 464 H (1071 M). Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang beljumlah 200.000 orang, terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, Al-Akraj, Al-Hajr, Prancis, dan Armenia.

perang salib perang salib pertama  perang salib kedua  perang salib keempat  pemenang perang salib  perang salib ketiga  latar belakang perang salib  dampak perang salib  penyebab perang salib

Peristiwa besar ini menanamkan benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan Perang Salib. Kebencian itu bertambah setelah  dinanti Seljuk  dapat merebut Bait Al Maqdis pada tahun 471 H dari kekuaaaan dinanti Fathimiyah  yang berkedudukan di Mesir. Penguasa Seljuk menetapkan beberapa peraturan bagi umat Kristen yang ingin berziarah ke sana. Peraturan itu dirasakan sangat menyulitkan mereka. Untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah ke tanah Suci Kriaten itu. pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa supaya melakukan perang suci. Perang ini kemudian dikenal dengan nama Perang Salib. yang terjadi dalam tiga periode. 

1. periode pertama

Pada musim semi tahun 1095 M., 150.000 orang Eropa. sebagian besar bangsa Prancis dan Norman. berangkat menuju Konstantinopel. kemudian ke Palestina. Tentara Salib yang dipimpin oleh Godfrey. Bohemond. dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Di sini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan latin II di Timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait Al-Maqdis (15 Juli 1099 M.) dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya. Godfrey. Setelah penaklukan Bait Al-Maqdis itu, tentara Salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka (1104 M.). Tripoli (1109 M.), dan kota Tyre (1124 M.). Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin 1V. Rajanya adalah Raymond.


2. Periode Kedua 


Imaduddin Zanki, penguasa Moshul, dan Irak, berhasil menaklukkan kembali Aleppo. Hamimah. dan Edessa pada tahun 1144 M. Namun, ia wafat tahun 1146 M. Tugasnya dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kembali Antiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali. 


Kejatuhan Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan Perang salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif Oleh raja Prancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria. Akan tetapi, gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Condrad H sendiri melarikan diri pulang ke negerinya.  Nuruddin wafat tahun 1174 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalah Al-Din Al-Ayyubi yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M. Hasil peperangan Shalah AlDin yang terbesar adalah merebut kembali Yerussalem pada tahun 1187 M. Dengan demikian, kerajaan latin di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir. 


Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja Jerman, Richard The Lion Hart, raja Inggris, dan Philip Augustus, raja Prancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. Meskipun mendapat tantangan berat dari Shalah al-Din, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi, mereka tidak_berhasil memasuki Palestina. Pada tanggal 2 Nopember 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Shalah al-Din yang disebut dengan Shulh alRamlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang orang Kristen yang pergi berziarah ke Bait a1-Maqdis tidak akan 
diganggu. 


3. Periode Ketiga 


Tentara Salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang orang Kristen Qibthi. Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja  Mesir dari dinasti Ayyubiyah waktu itu, AIMalik Al-Kamil, membuat penjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara Al Malik AI-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum Muslimin di sana dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin tahun 1247 M, di masa pemerintahan Al-Malik AI-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai oleh dinasti Mamalik yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah pimpinan perang dipegang oleh Baybars dan Qalawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali Oleh kaum Muslimin, tahun 1291 M. 


Demikianlah, Perang Salib yang berkobar di Timur. Perang ini tidak berhenti di Barat, di Spanon, sampai Umat Islam terusir dan" sana. Walaupun umat Islam berhasil mempertahankan daerah daerahnya dari tentara Salib, namun kerugian yang mereka derita banyak sekali, karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Dalam kondisi demikian, mereka bukan menjadi bersatu, tetapi malah terpecah belah. Banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad. 


Advertisement