MASA DISINTEGRASI (100 - 1250 M) - Sejarah Peradaban Islam Badri Yatim

Advertisement

Advertisement
MASA DISINTEGRASI (100 - 1250 M) - Sejarah Peradaban Islam Badri Yatim | Sebagaimana dijelaskan pada bab terdahulu; hanya pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Pada periode-periode sesudahnya, pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama di bidang politik.

MASA DISINTEGRASI pertanyaan tentang masa disintegrasi  jurnal masa disintegrasi  masa disintegrasi dalam bidang politik dalam sejarah kebudayaan dan peradaban islam dimulai ketika  masa disintegrasi 1000 1250 m pdf  disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya sudah mulai terjadi di akhir zaman  puncak kejayaan bani abbasiyah pada masa khalifah  sejarah singkat bani abbasiyah  silsilah bani abbasiyah

Dalam periode pertama, sebenarnya banyak tantangan dan gangguan yang dihadapi dinasti Abbasiyah. Beberapa gerakan politik yang merongrong pemerintah dan mengganggu stabilitas muncul di mana-mana, baik gerakan dari kalangan intern Bani Abbas sendiri maupun dari luar. Namun, semuanya dapat diatasi . dengan baik. 

Keberhasilan penguasa Abbasiyah mengatasi gejolak dalam negeri ini makin memantapkan posisi dan kedudukan mereka sebagai pemimpin yang tangguh. Kekuasaan betul-betul berada di' tangan khalifah. Keadaan ini sangat berbeda dengan periode sesudahnya. Setelah periode pertama berlalu para khalifah sangat lemah. Mereka berada di bawah pengaruh kekuasaan yang lain.

Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa ‘untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap khalifah cenderung ingin lebih mewah dari pendahulunya. Kehidupan mewah khalifah-khalifah ini ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pejabat. Kecenderungan bermewah

Perkembangan peradaban dan kebudayaan serta kemajuan besar yang dicapai dinasti Abbasiyah pada periode pertama telah mendorong para penguasa ‘untuk hidup mewah, bahkan cenderung mencolok. Setiap khalifah cenderun g ingin lebih mewah dari pendahulunya. Kehidupan mewah khalifah-khalifah ini ditiru oleh para hartawan dan anak-anak pej abat. Kecenderungan bermewah mewah, ditambah dengan kelemahan khalifah dan faktor lainnya menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadi miskin. 

Kondisi ini memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh khalifah Al-Mu’tashim untuk mengambil kendali pemerintahan. Usaha mereka berhasil, sehingga kekuasaan sesungguhnya berada di tangan mereka, sementara kekuasaan Bani Abbas di dalam khilafah Abbasiyah yang didiri-kannya mulai pudar dan ini merupakan awal dari keruntuhan dinasti ini, meskipun setelah itu usianya masih dapat bertahan lebih dari empat ratus tahun.

Pilihan khalifah Al-Mu‘tashim terhadap unsur Turki dalam ketentaraan terutama dilatarbelakangi oleh adanya persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa Al-Ma'mun dan sebelumnya. Bahkan, perebutan kekuasaan antara Al-Amin dan Al-Ma’mun dilatarbelakangi dan diperhebat oleh persaingan antara golongan Arab yang mendukung Al-Amin dan golongan Persia yang mendukung Al-Ma'mun. 

Masuknya unsur Turki dalam pemerintahan Abbasiyah semakin menambah Persaingan antarbangsa. Al-Mu'tashim dan khalifah sesudahnya, Al-Watsiq, mampu mengendalikan mereka. Namun, khalifah Al-Mutawakkil, yang merupakan awal kemunduran politik Bani Abbas, adalah khalifah yang lemah. 

Pada masa pemerintahannya, orang-orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat. Setelah Al-Mutawakkil wafat, merekalah yang memilih dan mengangkat khalifah. Dengan demikian, kekuasaan tidak lagi berada di tangan Bani Abbas, meskipun mereka tetap memegang jabatan khalifah. Sebenarnya, ada usaha untuk melepaskan diri dari para perwira Turki itu, tetapi selalu gagal. 

Dari dua belas khalifah pada periode kedua ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar, selebihnya. kalau bukan dibunuh, mereka diturunkan dari tahta dengan paksa. Wibawa khalifah merosot tajam. Setelah tentara Turki itu lemah dengan sendirinya, di daerah-daerah muncul tokoh-tokoh kuat, yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat, mendirikan dinasti'dinasti kecil. Inilah permulaan masa disintegrasi dalam sejarah politik Islam.

Advertisement