SHALAT DI MASJID ADA KUBUR 37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad

MASALAH KE-19: SHALAT DI MASJID ADA KUBUR | 37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad

SHALAT DI MASJID ADA KUBUR | 37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad 37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad 37 masalah populer ustadz abdul somad pdf  77 masalah populer abdul somad  99 masalah populer abdul somad  99 masalah populer abdul somad pdf  free download 37 masalah populer  37 masalah populer abdul somad pdf download  buku ustadz abdul somad pdf  buku abdul somad pdf

Shalat di Masjid Ada Kubur
Perlu dibedakan antara:

Menjadikan kubur sebagai masjid.
Shalat ke arah kubur.
Shalat di masjid yang ada kubur di sekitarnya.
Ketiga pembahasan ini tidak sama, tidak dapat disatukan, karena akan mengacaukan hukum yang dihasilkan.



Hadits: Larangan Menjadikan Kubur Sebagai Masjid.

لَعَنَ اللََُّّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah Swt melaknat orang Yahudi dan Nashrani karena telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat ibadah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Apakah makna hadits ini: tidak boleh shalat di masjid yang ada kubur?

Pendapat Imam Abu al-Hasan as-Sindi:
ومراده بذلك أن يحذر أمته أن يصنعوا بقبره ما صنا اليهود والنصارى بقبور أنبيائهم من اتخاذهم تلك القبور مساجد أما بالسجود إليها تعظيما لها أو بجعلها قبلة يتوجهون في الصلاة نحوها قيل ومجرد اتخاذ مسجد في جوار صالح تبركا غير ممنوع

Yang dimaksudkan Rasulullah Saw dengan itu, ia memperingatkan ummatnya agar tidak melakukan terhadap kuburnya seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani terhadap kubur para nabi mereka, mereka telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai tempat sujud, apakah dengan bersujud ke kubur karena mengagungkan kubur atau menjadikan kubur sebagai arah dalam ibadah, atau sejenisnya. Ada pendapat yang mengatakan: hanya sekedar membangun masjid di samping kubur orang shalih untuk mengambil berkah tidak dilarang208.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani Menukil Pendapat Imam al-Baidhawi:
وقال البيضاوي لما كانت اليهود والنصارى يسجدون لقبور الأنبياء تعظيما لشأنهم ويجعلونها قبلة يتوجهون في الصلاة نحوها واتخذوها أوثانا لعنهم ومنا المسلمين عن مثل ذلك فأما من أتخذ مسجدا في جوار صالح وقصد التبرك بالقرب منه لا التعظيم له ولا التوجه نحوه فلا يدخل في ذلك الوعيد

Imam al-Baidhawi berkata, “Ketika orang-orang Yahudi dan Nasrani sujud ke kubur para nabi karena mengagungkan mereka dan menjadikan kubur-kubur itu sebagai arah kiblat, mereka beribadah menghadap ke kubur-kubur itu dalam ibadah dan sejenisnya, mereka jadikan kubur-kubur itu sebagai berhala-berhala, maka Rasulullah Saw melaknat mereka dan melarang kaum muslimin untuk melakukan seperti itu. Adapun orang yang membuat masjid di samping makam orang shalih untuk berkah kedekatan, bukan untuk pengagungan, bukan pula sebagai arah ibadah atau sejenisnya, maka tidak termasuk dalam ancaman tersebut209.

 Imam al-Mubarakfury menukil pendapat Imam at-Turbasyti:
قال التوربشتي هو مخر على الوجهين أحدهما كانوا يسجدون لقبور الأنبياء تعظيما لهم وقصد العبادة في ذلك وثانيهما أنهم كانوا يتحرون الصلاة في مدافن الأنبياء والتوجه إلى قبورهم في حالة الصلاة والعبادة لله نظرا منهم أن ذلك الصنيا أعظم موقعا عند الله لاشتماله على الأمرين عبادة والمبالغة في تعظيم الأنبياء وكلا الطريقين غير مرضية وأما الأول فشرك جلي وأما الثانية فلما فيها من معنى الاشراك بالله عز و جل وإن كان خعيا والدليل على ذم الوجهين قوله صلى الله عليه و سلم اللهم لا تجعل قبري وثنا اشتد غضب الله على قوم اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

 Imam at-Turbasyti berkata, “Ini adalah solusi terhadap dua perkara; pertama, orang-orang Yahudi dan Nasrani sujud ke kubur nabi-nabi mereka karena pengagungan dan niat ibadah. Kedua, mereka mencari kesempatan beribadah di kubur para nabi dan menghadap ke kubur-kubur itu dalam ritual ibadah, menurut mereka perbuatan itu agung di sisi Allah karena mengandung dua perkara: ibadah dan sikap berlebihan dalam mengagungkan para nabi. Kedua cara ini tidak diridhai Allah Swt. Cara pertama itu syirik jaly (yang jelas), sedangkan cara yang kedua itu mengandung makna mempersekutukan Allah Swt, meskipun khafy (tersembunyi). Dalil celaan terhadap dua perkara ini adalah sabda Rasulullah Saw, “Janganlah kalian jadikan kuburku sebagai berjala. Murka Allah Swt amat sangat besar terhadap orang-orang yang menjadikan kubur para nabi mereka sebagai tempat ibadah”210.

 Hadits: Larangan Shalat ke Kubur:
عَنْ أَبِي مَرْثَدٍ الْغَنَوِ ي قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُصَ لُّوا إِلَى الْقُبُورِ وَلَا تجَْلِسُوا عَلَيْهَا

Dari Abu Martsad al-Ghanawi, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda,
‘Janganlah kamu shalat ke kubur dan janganlah kamu duduk di atas kubur”. (HR. Muslim).

Pendapat Imam Syafi’i:
قال الشافعي والاصحاب وتكره الصلاة الي القبور سواء كان الميت صالحا أو غيره

Imam Syafi’i dan para ulama Mazhab Syafi’i berpendapat: makruh hukumnya shalat ke (arah) kubur, apakah mayat itu shalih atau tidak211.
Atsar dari Umar: Shalat Menghadap Kubur Tidak Batal.

 Atsar dari Umar: Shalat Menghadap Kubur Tidak Batal.
قوله وما يكره من الصلاة في القبور يتناول ما إذا وقعت الصلاة على القبر أو إلى القبر أو بين القبرين وفي ذلك حديث رواه مسلم من طريق أبي مرثد الغنوي مرفوعا لا تجلسوا على القبور ولا تصلوا إليها أو عليها قلت وليس هو على شرط البخاري فأشار إليه في الترجمة وأورد معه اثر عمر الدال على أن النهي عن ذلك لا يقتضي فساد الصلاة والاثر المذكور عن عمر رويناه موصولا في كتاب الصلاة لأبي نعيم شيخ البخاري ولعظه بينما أنس يصلي إلى قبر ناداه عمر القبر القبر فظن أنه يعني القمر فلما رأى أنه يعني القبر جاز القبر وصلى وله طرق أخرى بينتها في تعليق التعليق منها من طريق حميد عن أنس نحوه وزاد فيه فقال بعض من يليني إنما يعني القبر فتنحيت عنه وقوله القبر القبر بالنصب فيهما على التحذير وقوله ولم يأمره بالإعادة استنبطه من تمادي أنس على الصلاة ولو كان ذلك يقتضي فسادها لقطعها واستأنف

Makna kalimat: makruh shalat di kubur. Mengandung makna: jika shalat di atas kubur, atau ke (arah) kubur, atau di antara dua kubur. Dalam hal ini ada hadits yang diriwayatkan Imam Muslim dari jalur riwayat Abu Martsad al-Ghanawi, hadits Marfu’, “Janganlah kamu duduk di atas kubur dan janganlah shalat ke (arah) kubur atau di atas kubur”. Hadits ini bukan menurut syarat Imam al-Bukhari, ia sebutkan di awal bab. Disebutkan bersamanya satu Atsar dari Umar yang menunjukkan bahwa Umar melarang melakukan itu, namun tidak mengandung makna bahwa shalat tersebut batal. Atsar tersebut dari Umar, kami riwayatkan secara bersambung dalam kitab shalat, riwayat Abu Nu’aim guru Imam al-Bukhari, lafaznya: “Ketika Anas shalat ke arah kubur. Umar memanggilnya dengan mengatakan, ‘(Awas) Kubur, kubur!’. Anas menyangka Umar mengatakan, ‘Bulan’. (karena kemiripan bunyi kalimat. Kubur: qabr. Bulan: qamar). Ketika Anas melihat bahwa yang dimaksud Umar adalah kubur, maka ia pun melewati kubur itu dan melanjutkan shalatnya. Ada beberapa jalur riwayat lain yang telah saya (Al-Hafizh Ibnu Hajar) jelaskan dalam Ta’liq at-Ta’liq, diantaranya jalur riwayat Humaid dari Anas, riwayat yang sama, dengan tambahan kalimat: “Sebagian orang yang berada di sekitarku (Anas) mengatakan bahwa yang dimaksud Umar adalah kubur. Maka aku pun bergeser dari tempat itu”.
Ucapan Umar: [القبر القبر ] dengan huruf Ra’ berbaris fathah, karena sebagai peringatan.
Kalimat: Umar tidak memerintahkan Anas mengulangi shalatnya. Ia ambil kesimpulan dari perbuatan Anas melanjutkan shalatnya. Andai shalat Anas batal, pastilah Anas menghentikan shalatnya dan memulai shalat baru212.

Dari pembahasan di atas jelaslah bahwa shalat di masjid yang ada kubur di sekitarnya tidak dilarang. Apalagi ada dinding dan jarak antara kubur dan masjid. Yang dilarang adalah menjadikan kubur sebagai masjid, shalat menghadap kubur, karena mengandung unsur syirik mempersekutukan Allah Swt.

Sumber dari file pdf, 37 Masalah Populer oleh Ustad Abdul Somad Lc MA. Jika terdapat kesalahan copy paste dalam tulisan di atas, terutama untuk huruf arab, silahkan merujuk ke sumber aslinya. Download di sini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DAFTAR CUG TELKOMSE