Minggu, 31 Maret 2019

PERBEDAAN KEMAJUAN MASA INI DENGAN MASA KLASIK - MASA TIGA KERAJAAN BESAR ISLAM (1500 - 1800 M) - Sejarah Peradaban Islam

Advertisement

Advertisement
Sejarah Peradaban Islam - PERBEDAAN KEMAJUAN MASA INI DENGAN MASA KLASIK  - MASA TIGA KERAJAAN BESAR ISLAM (1500 - 1800 M) | Sebagaimana diuraikan terdahulu, pada masa kejayaan tiga kerajaan besar ini, umat Islam kembali mengalami kemajuan. Akan tetapi, kemajuan yang dicapai berbeda dengan kemajuan yang dicapai pada masa klasik Islam. Kemajuan pada masa klasik jauh lebih kompleks. 

PERBEDAAN KEMAJUAN MASA INI DENGAN MASA KLASIK  - MASA TIGA KERAJAAN BESAR ISLAM (1500 - 1800 M) - Sejarah Peradaban Islam

Di bidang intelektual, kemajuan pada masa tiga kerajaan besar tidak sebanding dengan kemajuan di zaman klasik. Dalam bidang ilmu keagamaan, umat Islam sudah mulai bertaklid kepada imam-imam besar yang lahir pada masa klasik Islam. Kalau pun ada mujtahid, maka, ijtihad yang dilakukan adalah ijtihad al-mazhab, yaitu ijtihad yang masih berada dalam batas-batas mazhab tertentu. Tidak ada lagi ijtihad mutlak, hasil pemikiran bebas yang mandiri . 


Beberapa sains yang berkembang pada masa klasik, ada yang tidak berkembanglagi, bahkan ada yang dilupakan. Filsafat dianggap bid'ah. Kalau pada masa klasik. umat Islam maju dalam bidang politik. peradaban, dan kebudayaan, seperti dalam bidang ilmu pengetahuan dan pemikiran filsafat, pada masa tiga kerajaan besar kemajuan dalam bidang filsafat -kecuali sedikit berkembang di kerajaan Safawi Persia dan ilmu pengetahuan umum tidak didapatkan lagi. Kemajuan yang dapat dibanggakan pada masa ini hanya dalam bidang politik, kemiliteran, dan kesenian, terutama arsitektur. 

Ada beberapa alasan mengapa kemajuan yang dicapai itu tidak setingkat dengan kemajuan yang dicapai pada masa klasik:  

Metode berpikir dalam bidang teologi yang berkembang pada masa ini adalah metode berpikir tradisional. Cara berpikir ini tampaknya, mempengaruhi perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan. 

Metode berpikir rasional yang dikembangkan oleh aliran teologi Mu'tazilah sudah lama padam. Yang ada adalah, metode berpikir tradisional yang dikembangkan oleh aliran teologi Asy'ariyah. Walaupun Asy'ariyah berusaha mendamaikan pemikiran qadariyah yang dinamis dengan jabariyah yang fatalis, tetapi aliran ini tetap terjerumus ke dalam pemikiran jabariyah. Dalam pemikiran Asy'ariyah, perbuatan manusia tidak dipandang efektif, perkembangan sejarah lebih ditentukan oleh perbuatan dan kemahakuasaan Tuhan. Aliran ini berkembang cepat dan dianut oleh mayoritas umat Islam sehingga paham fatalisme dalam Islam menjadi berkembang. 


Perkembangan metode berpikir seperti ini menyebabkan dinamika umat Islam yang terdapat pada masa lalu menurun, digantikan dengan fatalisme. Paham kemerdekaan manusia ditolak dan kepercayaan kepada akal manusia tidak ada lagi. 

Pada masa klasik Islam, kebebasan berpikir berkembang dengan masuknya pemikiran filsafat Yunani. Namun, kebebasan tersebut ini menurun sejak Al-Ghazali melontarkan kritik tajam terhadap pemikiran filsafat yang tertuang dalam bukunya Tahafut al-Fala sifah (Kekacauan Para Filosof). Kritik Al-Ghazali itu memang mendapat bantahan dari filosof besar Islam dan terakhir, Ibn Rusyd, dalam bukunya Tahafut Al-Tahafut (Kekacauan  buku Kekacauan) tetapi tampaknya. kritik Al-Ghazali jauh lebih populer dan berpengaruh daripada bantahan Ibn Rusyd. Nurcholish Madjid mengatakan, pemikiran Al-Ghazali itu mempunyai efek pemenjaraan kreatifitas intelektual Islam.

.A.l-Ghazali bukan hanya menyerang pemikiran filsafat pada masanya, tetapi juga menghidupkan ajaran tasawuf dalam Islam. Sehingga ajaran ini berkembang pesat setelah AlGhazali. Di antara ajaran tasawuf adalah tawakkal, berserah diri kepada kehendak Tuhan dan zuhd, meninggalkan  dunia dan kehidupan materi. Dalam tasawuf, kehidupan ukhrawi jauh lebih diutamakan daripada kehidupan duniawi.-Ajaran terakhir ini dipandang tidak sejalan dengan pembangunan kehidupan duniawi dan kemajuan. Bahkan, Fazlur Rahman mengatakan bahwa suatu hal yang tidak bisa diterima oleh Islam adalah sikap negatif terhadap dunia yang tampak berkembang di kalangan kaum sufi. Pemikiran itu menurutnya berkembang sangat cepat. 


Sarana-sarana untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran yang disediakan masa klasik, seperti perpustakaan dan karya-karya ilmiah, baik yang diterjemahkan dari bahasa Yunani, Persia, India, dan Syria, maupun dari bahasa lainnya banyak yang hancur dan hilang akibat serangan bangsa Mongol ke beberapa pusat peradaban dan kebudayaan Islam

Kekuasaan Islam pada masa tiga kerajaan besar dipegang oleh bangsa Turki dan Mongol yang lebih dikenal sebagai bangsa yang suka perang ketimbang bangsa yang suka ilmu. 

Pusat-pusat kekuasaan Islam pada masa ini tidak berada di wilayah Arab dan tidak pula oleh .bangsa Arab. Di Safawi berkembang bahasa Persia; di Turki bahasa Turki, dan di India bahasa Urdu, Akibatnya, bahasa Arab yang sudah merupakan bahasa persatuan dan bahasa ilmiah pada masa sebelumnya tidak berkembang lagi dan bahkan menurun.


Advertisement