KHUTBAH IDUL FITRI DAN IDUL ADHA 37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad

MASALAH KE-18: KHUTBAH IDUL FITHRI DAN IDUL ADHA | 37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad

KHUTBAH IDUL FITRI DAN IDUL ADHA 37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad 37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad 37 masalah populer ustadz abdul somad pdf  77 masalah populer abdul somad  99 masalah populer abdul somad  99 masalah populer abdul somad pdf  free download 37 masalah populer  37 masalah populer abdul somad pdf download  buku ustadz abdul somad pdf  buku abdul somad pdf

Khutbah Idul Fithri dan Idul Adha
Hadits:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللََِّّ قَالَ شَهِدْتُ مَاَ رَسُولِ اللََِّّ صَلَّى اللََُّّ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُ طْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ ثمَُّ قَامَ مُتوََ كئاً عَلَى بِلَالٍ فَأمََرَ بِت قْوَى اللََِّّ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ ثمَُّ مَضَى حَتَّى أتََى الن سَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ فَقَالَ تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أكَْثرََكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ فَقَامَتْ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ الن سَاءِ سَعْعَاءُ الْخَدَّيْ نِ فَقَالَتْ لِمَ يَا رَسُولَ اللََِّّ قَالَ لِأنََّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْعُرْنَ الْعَشِيرَ قَالَ فَجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِي هِنَّ يُلْقِينَ فِي ثوَْبِ بِلاَلٍ مِ نْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ



Dari Jabir bin Abdillah, ia berkata, “Saya ikut shalat ‘Ied bersama Rasulullah Saw. Beliau memulai dengan shalat sebelum khutbah. Tanpa ada azan dan iqamat. Kemudian Rasulullah Saw tegak bertumpu kepada Bilal. Rasulullah Saw memerintahkan agar bertakwa kepada Allah Swt, memberikan motifasi agar taat kepada-Nya, memberikan nasihat kepada orang banyak dan mengingatkan mereka. Kemudian Rasulullah Saw pergi kepada kaum perempuan. Rasulullah Saw memberikan nasihat kepada mereka dan mengingatkan mereka. Rasulullah Saw berkata, “Bersedakahlah kalian, sesungguhnya banyak diantara kalian menjadi kayu bakar neraka Jahannam”.
Ada seorang perempuan yang berada di tengah barisan kaum perempuan, kedua pipinya memiliki tanda hitam, ia berkata, “Mengapa wahai Rasulullah?”.
Rasulullah Saw menjawab, “Karena kalian banyak membuat pengaduan dan melawan suami (dalam pergaulan)”. Lalu para perempuan itu bersedekah dengan perhiasan yang ada pada mereka, mereka memasukkannya ke kain Bilal, mereka berikan sebagian dari anting-anting dan cincin mereka”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Mereka yang berpendapat bahwa khutbah shalat ‘Ied itu hanya satu saja, mereka berpegang dengan hadits ini, menurut mereka Rasulullah Saw hanya satu kali menyampaikan khutbah. Sedangkan yang mengatakan ada dua khutbah, mereka juga berpegang dengan hadits ini, karena dalam hadits ini memang Rasulullah Saw khutbah dua kali, satu kali khutbah kepada kaum laki-laki dan satu kali kepada kaum perempuan. Mereka yang mengatakan khutbah ‘Ied dua kali juga mengqiyaskan khutbah ‘Ied dengan khutbah Jum’at yang terdiri dari dua khutbah; khutbah pertama dan kedua. Untuk lebih jelasnya kita lihat pendapat para ulama:

Pendapat Imam Syafi’i:
قال الشَّافِعِيُّ أخبرنا إبْرَاهِيمُ بن مُحَمَّدٍ قال حدثني عبد الرحمن بن مُحَمَّدِ بن عبد اللََِّّ عن إبْرَاهِيمِ بن عبد اللََِّّ عن عُبَيْدِ اللََِّّ بن عبد اللََِّّ بن عُتْبَةَ قال السُّنَّةُ أَنْ يَخْطُبَ الْإِمَامُ في الْعِيدَيْنِ خُطْبَتيَْنِ يَعْصِلُ ب يْنَهُمَا بِجُلُوسٍ (قال الشَّافِعِيُّ ) وَكَذَلِكَ خُطْبَةُ الِاسْتِسْقَاءِ وَخُطْبَةُ الْكُسُوفِ وَخُطْبَةُ الْحَ ج وَكُلُّ خُطْبَةِ جَمَاعَةٍ

Imam Syafi’i berkta, “Ibrahim bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, ia berkata, ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Abdillah meriwayatkan kepada saya, dari Ibrahim bin Abdillah bin ‘Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata, “Sunnah seorang khatib berkhutbah dua khutbah pada shalat ‘Ied (Idul Fitri atau Idul Adha). Dua khutbah itu dipisah dengan duduk.
Imam Syafi’i berkata, “Demikian juga dengan khutbah shalat Istisqa’, khutbah shalat Kusuf (gerhana matahari), khutbah haji dan semua khutbah jamaah”203.

Pendapat Empat Mazhab:

تسن عند الجمهور وتندب عند المالكية خطبتان للعيد كخطبتي الجمعة في الأركان والشروط والسنن والمكروهات، بعد صلاة
العيد خلافا للجمعة، بلا خلاف بين المسلمين

Disunnatkan menurut jumhur (mayoritas ulama), dianjurkan menurut Mazhab Maliki, dua khutbah pada shalat ‘Ied, seperti khutbah Jum’at dalam hal rukun, syarat, sunnat-sunnat dan hal-hal makruhnya. Dilaksanakan setelah shalat ‘Ied, berbeda dengan shalat Jum’at (khutbah sebelum shalat Jum’at). Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama kaum muslimin dalam masalah ini204.

Pendapat Syekh Ibnu ‘Utsaimin:
السيال ما هي السنة في خطبة العيد هل هي خطبتان أم واحدة، نرجو التعصيل في ذلك؟
الجواب
المشهور عند العلماء من الحنابلة: أنها خطبتان خطبة العيد أولى وثانية، ولو اقتصر الإنسان على واحدة بدون إحداث فتنة
فلا بأس، فإن خاف من فتنة بأن يتعلت الناس ويصير كل واحد يعرف حكم مسألة يذهب إليها فهنا يقتصر على ما كان الناس
يعتادونه؛ لئلا يعتتح الباب على الناس.

Pertanyaan: mana yang sesuai menurut Sunnah dalam khutbah ‘Ied. Dua khutbah atau satu khutbah? Kami mohon jawaban detail tentang itu.
Jawaban:
Yang masyhur menurut sebagian ulama Mazhab Hanbali bahwa khutbah ‘Ied itu dua khutbah; khutbah pertama dan khutbah kedua. Jika seseorang berkhutbah hanya satu khutbah saja, tanpa ada unsur ingin menimbulkan fitnah (di tengan masyarakat), maka boleh. Jika khawatir menimbulkan fitnah, orang banyak menjadi sibuk, setiap orang berpegang pada pendapat mazhabnya, maka dalam kasus seperti ini cukuplah mengikuti kebiasaan yang sudah dilakukan orang banyak, agar tidak membuka pintu (konflik) di tengah-tengah masyarakat205.

Takbir Dalam Khutbah ‘Ied:
Pendapat Imam Syafi’i:
قال الشَّافِعِيُّ قال أخبرنا إبْرَاهِيمُ بن مُحَمَّدٍ عن عبد الرحمن بن مُحَمَّدِ بن عبد اللََِّّ عن إبْرَاهِيمِ بن عبد اللََِّّ عن عُبَيْدِ اللََِّّ بن عبد
اللََِّّ بن عُتْبَةَ قال السُّنَّةُ في التكَّْبِيرِ يوم الْأضَْحَى وَا لْعِطْرِ على الْمِنْبَرِ قبل الْخُطْبَةِ أنَْ يَبْتَدِئَ الْإِمَامُ قبل أَنْ يَخْطُبَ وهو قَائِمٌ على
الْمِنْبَرِ بِتِسْاِ تَكْبِيرَاتٍ تَتْرَى لَا يَعْصِلُ بَيْنَهَا بِكَلَامٍ ثمَُّ يَخْطُبُ ثُمَّ يَجْلِسُ جِلْسَةً ثمَُّ يَقُومُ في الْخُطْبَةِ الثاَّنِيَةِ فَيَعْتتَِحُهَا بِسَبْاِ تكَْبِيرَاتٍ
تَتْرَى لَا يَعْصِلُ بَيْنَهَا بِكَلَامٍ ثمَُّ يَخْطُبُ

Imam Syafi’i berkata, “Ibrahim bin Muhammad meriwayatkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Muhammad bin Abdillah, dari Ibrahim bin Abdillah dari ‘Ubaidillah bin Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata, “Sunnah hukumnya bertakbir pada hari raya Idul Adha dan Idul Fithri di atas mimbar sebelum khatib memulai khutbah, khatib tegak di atas mimbar berkhutbah sembilan takbir berturut-turut tanpa dipisah kalimat diantaranya, kemudian menyampaikan khutbah. Kemudian duduk (istirahat antara dua khutbah). Kemudian khatib tegak berdiri pada khutbah kedua, mengawali khutbahnya dengan tujuh kali takbir berturut-turut tanpa dipisah kalimat diantaranya. Kemudian menyampaikan khutbah (kedua)206.

 Pendapat Ulama Mazhab:
وعند الجمهور: يكبر في الخطبة الأولى تسا تكبيرات متوالية، وفي الثانية: يكبر في الثانية بسبا متوالية أيضا،ً لما روى
كان يكبر الإمام يومي العيد قبل أن يخطب تسا تكبيرات، وفي الثانية: سبا « : سعيد بن منصور عن عبيد الله بن عتبة، قال
» تكبيرات

Menurut Jumhur (mayoritas) ulama: khatib bertakbir sembilan takbir berturut-turut pada khutbah pertama. Tujuh takbir berturut-turut pada khutbah kedua. Berdasarkan riwayat Sa’id bin Manshur dari ‘Ubaidullah bin ‘Utbah, ia berkata, “Imam bertakbir shalat Idul Fithri dan Idul Adha sebelum berkhutbah, Sembilan takbir pada khutbah pertama dan tujuh takbir pada khutbah kedua”207.

Sumber dari file pdf, 37 Masalah Populer oleh Ustad Abdul Somad Lc MA. Jika terdapat kesalahan copy paste dalam tulisan di atas, terutama untuk huruf arab, silahkan merujuk ke sumber aslinya. Download di sini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

DAFTAR CUG TELKOMSE