Penantian Daging Kurban | Cerpen

Advertisement

Advertisement
Penantian Daging Kurban

"Mas, mau beli daging kurbanku gak?"

"Loh, kok malah dijual, Bu?"

"Iya, Mas. Soalnya gak ada beras." Perempuan itu menunduk.

"Ayo, ikut naik motor."

"Ngapain naik motor?"

"Mau aku anter pulang."

Perempuan paruh baya itu diam. Bingung. Aku yakinkan tidak ada hal buruk, akan terjadi padanya. Perempuan itu akhirnya mau ikut bonjengan motor tuaku.

"Kenapa berhenti, rumah aku masih jauh."

"Kita beli beras dulu, buat anak-anak Ibu di rumah."

Ibu itu langsung nangis, seperti ingin menolak. Tapi butuh.

Setelah aku belikan beras 2 liter, aku antar ke rumah. Rumah pinggiran kali, tampak kumuh dan sempit.

Tampak 4 anak-anak keluar menyambut ibunya. Ibu itu menyuruh anak-anaknya menyalamiku. Kusambut jabatan tangan mungil itu. Setelah itu aku pulang.

Penantian Daging Kurban


Di rumah istri tampak memajukan bibirnya. Kecewa, pesanannya tidak dapat. "Ngapain, sih. Ngurusin orang. Buat sendiri aja pas-pasan."

"Dek, di tong masih ada beras?"

"Masih."

"Daging kurban dapet?"

"Dapet. Bumbu juga lengkap tapi pengin bikin sate, tapi duit buat beli tusuk sate sama arangnya, malah buat beliin beras orang."

"Alhamdulillah, Dek. Kita masih cukup. Nggak usah bikin sate, kita bikin semur aja dagingnya. Mas itu tadi kasian sama ibu itu, punya daging kurban, tapi nggak ada beras. Apa enaknya coba, makan daging tanpa nasi?

"Dek, lebaran idul adha, bisa jadi penantian mereka buat bisa merasakan nikmat makan daging. Tapi apa daya, beras nggak ada. Kalau dagingnya tadi Mas beli, berarti mereka nggak bisa makan daging. Jadi, kita bersyukur ya, Dek."

"Ya Allah, Mas. Kasian amat." Istriku nangis sesegukan. "Anterin aku ke rumah ibu itu yuk, Mas."

"Ngapain?"

"Tadi Mas bilang, nggak ada beras. Berarti dia juga nggak punya bumbu buat masak dagingnya. Aku mau kasih bumbu sama ibu itu, Mas."

"Alhamdulillah, mulia sekali hatimu, Dek. Mas makin cinta, deh."

Sumber: FB Mistiyaniz
Advertisement