Kehabisan Bahan Bakar di Tengah Hutan Gunung Salak

Advertisement

Advertisement
Kehabisan Bahan Bakar di Tengah Hutan Gunung Salak | Setelah memastikan mobil dalam kondisi prima. Aku beserta keluarga bergerak perlahan dari Pondok Baru menuju Lhokseumawe dengan tujuan ponpes Dayah Ulumuddin yang ada disana.

Dalam perjalanan tidak ada kendala sama sekali. Seperti perjalanan sebelumnya, dengan bahan bakar yang diisi Rp. 100ribu itu sudah cukup untuk pulang dan pergi. Sebelum berangkat, aku juga terlebih dahulu ganti oli berhubung jarak tempuh 4000 KM hanya tinggal puluhan kilo lagi dan ini tidak cukup lagi.



Setelah urusan mengantar keponkan ini selesai. Maka sekitar jam 23.00 wib kami mulai bergerak pulang kembali ke Pondok Baru.

Sudah sekitar 1 jam perjalanan ditempuh. dan aku mengendarai mobil hanya dengan kecepatan standar saja berhubung malam dan pandangan jalan agak kurang maksimal.

Disaat hampir sampai ke gunung salak. Tanda tanda mobil ini mulai kehabisan bahan bakar mulai terasa. Hal ini ditandai dengan mulai tersendat sendatnya jalan mobil saat aku menginjak pedal gas.

Selanjtnya muncul indikator SPBU yang menyala sebagai pertanda kondisi bahan bakar sudah mulai sekarat.

Di jalan yang sangat menanjak itu. Aku memberi tahukan hal tersebut ke anggota keluarga yang ikut pada saat itu. 

Aku terus mencoba melanjutkan perjalanan semampunya berhubung masih bisa berjalan dengan dibantu do'a agar minimal sampai ke sebuah resto di gunung salak.

Alhamdulillah, sekitar jam 12.10 wib mobil ini bisa melaju sampai ke gunung salak. Disini anggota keluarga menyarankan untuk berhenti di area tersebut. Karena kalau dilanjutkan bisa bisa kami terjebak di tempat yang sangat tidak mengenakkan.

Sinyal Tidak Ada di Gunung Salak

Setelah berhenti di tempat tersebut. tidak lama kemudian terdengar teriakan dan tiba tiba muncul sekelompok orang dari musala yang ada di resto ini. Beberapa pemuda keluar berlarian dan bergerak turun ke bagian bawah musala.

Di kegelapan malam itu. Aku memberanikan diri keluar dari mobil dan mencoba mendekati seorang pemuda yang ada disana dan menanyakan apa yang terjadi.

"ada apa bang" tanyaku kepada pemuda itu.

"Nggak ada bang, cuma ada yang tiba tiba kesurupan" jawab pemdua ini.

Selanjutnya aku berkata padanya. "Nggak papa kan bentar parkir disini. mobil nya mogok bang, kehabisan bahan bakar" jelasku kepadanya.

"nggak papa bang" jawab pemuda ini. "Udah ditelpon yang ngantar minyaknya?"

"Udah bang" jawabku seketika. Padahal sama sekali belum pernah aku hubungi anggota keluarga lainnya.

Setelah itu aku balik ke mobil dan meminta anggota keluarga untuk menghubungi anggota keluarga yang ada di pondok baru untuk mengantarkan minyak. Tetapi ternyata tidak ada sinyal.

Hilang sudah harapan untuk bisa melanjutkan perjalanan dan terpaksa bermalam di tempat yang angker ini.

Mobil Di Cek

Selang beberapa saat kemudian. ada seorang pemuda yang mendekati mobil kami. dengan menggunakan penerangan senter dia mencoba mencari tahu kami dengan menyenter kaca mobil yang sepertinya tidak tembus dari luar. 

Oya, sebelumnya aku sudah mempersiapkan sebilah pisau (sangkur) disamping pintu mobil untuk berjaga jaga. Setelah pemuda ini melewati mobil kami. Aku pun keluar dan ngomong bentar dengannya.

"Bang, kami mohon izin parkir disini bang ya. bahan bakar kami habis." jelasku kepadanya.

"Nggak papa bang, maaf mengganggu bang. Tadi kirain siapa" jawab pemuda ini.

Mereka juga sepertinya merasa was was dan waspada dengan kehadiran kami pada tengah malam di tempat ini. Mereka sudah melakukan hal yang layak karena mereka adalah karyawan yang bertanggung jawab untuk keamanan area tersebut.

Salah seorang yang aku sempat bercerita dengannnya adalah pemuda yang berasal dari kreung geukeuh yang kebtulan dia adalah karyawan disini.

Mencari Sinyal Hp

Aku kembali masuk kedalam mobil dan mencoba mencari sinyal hp menggunakan mode automatis dan manual tetapi hasilnya tetap nihih.

salah seorang anggota keluarga bertanya kira kira kalau kembali ke belakang apakah masih cukup. Aku menjawab tentu saja tidak cukup karena perjaan kebelakang akan lebih jauh daripada kedepan.

Sementara itu anak anak yang ada di dalam mobil mulai risih. ada yang kepanasan karena jendela mobil tertutup rapat dan AC tidak dinyalakan.

Sinyal Ditemukan Di Bagian Atas

Saat kami sedang mencari sinyal. Ada seorang pemuda yang lewat. Aku pun segera turun bertanya kepadanya.

"Disini nggak ada sinyal ya bang" tanyaku kepadanya. Sebelumnya aku juga menjelaskan lagi kepadanya mengapa sampai parkir disini. aku menjelaskan kepada pemuda ini karena dia adalah pemuda yang berbeda dengan pemuda pemuda sebelumnya yang aku ajak berbicara. Apalagi suasana gelap sama sekali tidak terlihat wajahnya.

Sebenarnya pertanyaan ini sengaja aku utarakan. Karena kami mengetahui bahwa dibagian atas resto ini ada sinyal. Hal itu kami ketahui karena kami pernah bermain main ke resto ternama di perbatasan bener meriah - aceh utara ini dan bisa konek ke internet di sebuah tempat di bagian atas ini.

Aku meminta izin kepada pemuda ini untuk naik ke atas dan ke bagian ujung dari resto ini. Hal ini aku lakukan agar tidak menimbulkan sangka duga yang bukan bukan. 

Ditengah malam yang cuma disinari bulan 16 Dzulqaidah 1440 H ini. Walau tidak seterang bulan purnama ditanggal 14 bulan hijriyah aku mulai menaiki tangga tangga dan mengarah kebagian ujung dari resto ini.

Di bagian ujung resto ini. di siang hari ada pemandangan yang indah berupa hutan lebat. Namun pemandangan indah di siang hari akan berbeda jika di malam hari. Yang ada adalah pemadangan yang seram. tetapi Alhamdulillah aku tidak merasakan hal hal aneh pada saat itu.

Setelah terhubung sambungan telpon dengan salah satu anggota keluarga yang ada di pondok baru. Ternyata harapan untuk mendapatkan bantuan kiriman bahan bakar sudah tidak ada lagi.

Menyusuri tangga tangga aku pun mulai turun dan kembali ke mobil. Aku memberitahukan kepada anggota keluarga bahwa tidak ada yang bisa mengantar bahan bakar.

Garis Indikator Minyak Naik

Selama dalam mobil. Anak anak ada yang kepanasan dan menunjukkan rasa yang tidak nyama. aku katakan "kita bukakan saja sedikit kacanya agar agak dingin"

aku pun mencoba menyalakan mobil ke posisi ON tanpa ke starter dan Alhamdulillah tiba tiba garis yang menunjukkan status bahan bakar naik dan memberikan harapan. Apalagi lampur indikator SPBU juga sudah tidak muncul lagi.

Langsung aja hal ini aku sampaikan kepada anggota keluarga yang lain. Dan mereka pun menyarankan untuk melanjutkan perjalanan. Dengan harapan didepan ada kedai yang masih menyediakan bahan bakar.

Perlahan kami mulai berjalan dan mematikan AC untuk menghemat bahan bakar. Dengan kaca yang masih berkabut aku coba membersihkannya dengan tisu.

Sekitar 2 menit sampailah kami di tempat yang sempat tenar sebagai spor swa foto di Gunung Salak ini.

Ditempat ini ada terparkir beberapa mobil. Kami berinisiatif untuk berhenti di lokasi ini aja berhubung ada mobil mobil lain juga. Hal ini lebih aman dan nyaman daripada berhenti di resto sebelumnya. Disini suasananya memiliki penerangan yang lumayan.

Jiwa Penolong Luar Biasa
Aku mulai mendekati kedai yang ada dan menanyakan ada nggak bahan bakar. Mereka menjawab ada tetapi hanya pertalite. Sedangkan bahan bakar yang aku gunakan adalah solar.

Tidak lama kemudian ada mobil yang melintas dari bawah dan penjual ini tiba tiba menyetop mobil tersebut, kemungkinan besar pemilik mobil itu adalah temannya atau kenalannya.

Dengan percakan menuggunakan bahasa Aceh mereka pun bercakak cakap sejenak dan aku bisa memahami apa yang mereka perbincangkan. 

"Kalo memang butuh bantuan, biar saya kebawah lagi, biar saya tanyakan ada nggak solar di kedai bawah sana" kata pemilik mobil itu.

Namun belum sempat aku menjawab, pemilik mobil itu melanjutkan lagi. Coba tanya lagi ke kedai itu, Seraya mengarahkan telunjuknya ke kedai yang sudah tutup dengan kondisi gelap.

Lantas seseorang langsung saja bergerak ke kedai tersebut dan menggedor gedor pintunya. Sepertinya pemilik kedai itu sudah tidur karena pada saat itu sudah jam 1 malam. 

Tidak lama kemudian dia pun bangun dan mengatakan ada solar. 

Alhamdulillah, terasa lega. akhirnya berkat bantuan penjual ini kami bisa melanjutkan perjalanan setelah mengisi bahan bakar seperlunya. 

Semoga saja orang yang berbuat baik kepada kami ini. Allah mudahkan rizkinya dan allah balas kebaikannya dengan kebaikan yang berlipat ganda.

Gunung Salak Pada Masa Konflik

Sebenarnya ada rasa tidak nyaman saat berada di gunung salak pada tengah malam. Anak anak juga menunjukkan rasa yang tidak nyaman pada saat itu. Selain itu aku juga pernah mendengar dan melihat sendiri sebuah kejadian puluhan tahun yang lalu disini.

Sekitar tahun 1998 di masa masa aku masih sekolah dasar. Ada sebuah mayat yang baru saja diambil dari lokasi gunung salak ini dengan tubuh yang hanya tinggal separuh.

belum lagi dari cerita anggota keluarga ini yang baru menceritakan ke kami setelah kami meninggalkan tempat ini bahwa di tempat ini sering muncul perempuan atau bisa dianggap semacam sundel bolong gitu.

Ok. Itu ceritaku "Kehabisan Bahan Bakar di Tengah Hutan Gunung Salak" tadi malam 20 Juli 2019 sekaligus sebagai pelajaran untuk memastikan segala persiapan sudah matang sebelum melakukan sebuah perjalanan termasuk bahan bakar :).
Advertisement