IKHTILAF DAN MADZHAB | 37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad

Advertisement
Advertisement
IKHTILAF DAN MADZHAB | 37 Masalah Populer Ustadz Vbdul Somad
MASALAH KE-1: IKHTILAF DAN MADZHAB | 37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad

37 Masalah Populer Ustadz Abdul Somad 37 masalah populer ustadz abdul somad pdf  77 masalah populer abdul somad  99 masalah populer abdul somad  99 masalah populer abdul somad pdf  free download 37 masalah populer  37 masalah populer abdul somad pdf download  buku ustadz abdul somad pdf  buku abdul somad pdf

Ikhtilaf dan Mazhab
Makna Khilaf dan Ikhtilaf.
Untuk mengetahui makna kata khilaf dan ikhtilaf, mari kita lihat penggunannya dalam bahasa Arab:

ุฎุงู„ุนุชู‡ ู…ุฎุงู„ุนุฉ ูˆุฎู„ุงูุง ูˆุชุฎุงู„ู ุงู„ู‚ูˆู… ูˆุงุฎุชู„ุนูˆุง ุฅุฐุง ุฐู‡ุจ ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ุฅู„ู‰ ุฎู„ุงู ู…ุง ุฐู‡ุจ ุฅู„ูŠู‡ ุงู„ุขุฎุฑ
Saya berbeda dengannya dalam suatu perbedaan [ ุฎุงู„ุนุชู‡ ู…ุฎุงู„ุนุฉ ูˆุฎู„ุงูุง ]
[ูˆุชุฎุงู„ู ุงู„ู‚ูˆู… ูˆุงุฎุชู„ุนูˆุง ุฅุฐุง ุฐู‡ุจ ูƒู„ ูˆุงุญุฏ ุฅู„ู‰ ุฎู„ุงู ู…ุง ุฐู‡ุจ ุฅู„ูŠู‡ ุงู„ุขุฎุฑ ]

Kaum itu telah ikhtilaf; jika setiap orang pergi ke tempat yang berbeda dari tempat yang dituju orang lain15.





Jadi makna Khilaf dan Ikhtilaf adalah: adanya perbedaan.
Sebagian ulama berpendapat bahwa Khilaf dan Ikhtilaf mengandung makna yang sama. Namun ada juga ulama yang membedakan antara Khilaf dan Ikhtilaf,

ุงู„ุงุฎุชู„ุงู ู„ุง ุงู„ุฎู„ุงู ูˆุงู„ุนุฑู‚ ุฃู† ู„ู„ุฃูˆู„ ุฏู„ูŠู„ุง ู„ุง ุงู„ุซุงู†ูŠ

Ikhtilaf: perbedaan dengan dalil. Khilaf: perbedaan tanpa dalil16.
Maka selalu kita mendengar orang mengatakan, “Ulama ikhtilaf dalam masalah ini”,
atau ungkapan, “Ini adalah masalah Khilafiyyah”.
Maksudnya, bahwa para ulama tidak satu pendapat dalam masalah tersebut.
Contoh Ikhtilaf Ulama Dalam Memahani Nash:
Allah Swt berfirman:

ูˆَุงู…ْุณَุญُูˆุง ุจِุฑُุกُูˆุณِูƒُู…ْ

“Dan usaplah kepalamu”. (Qs. Al-Ma’idah [5]: 6).

Hadits Riwayat Imam Muslim:
ู‚ุงู„ ุงุจْู† ุงู„ْู…ُุบِูŠุฑَุฉ ุฃَู†َّ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ََُّّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ุชูˆََุถَّุฃ ูَู…َุณَุญَ ุจِู†َุงุตِูŠَุชِู‡ِ ูˆَุนَู„َู‰ ุงู„ْุนِู…َุงู…َุฉِ ูˆَุนَู„َู‰ ุงู„ْุฎُุนَّูŠْู†ِ

Ibnu al-Mughirah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Saw berwudhu’, beliau mengusap ubun-ubunnya, mengusap bagian atas sorban dan bagian atas kedua sepatu khufnya”. (HR. Muslim).

Hadits Riwayat Imam Abu Daud:
ุนَู†ْ ุฃَู†َุณِ ุจْู†ِ ู…َุงู„ِูƒٍ ู‚َุงู„َ ุฑَุฃูŠَْุชُ ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ََِّّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ََُّّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูŠَุชูˆََุถَّุฃ ูˆَุนَู„َูŠْู‡ِ ุนِู…َุงู…َุฉ ู‚ِุทْุฑِูŠَّุฉٌ ูَุฃَุฏْุฎَู„َ ูŠَุฏَู‡ُ ู…ِู†ْ
ุชَุญْุชِ ุงู„ْุนِู…َุงู…َุฉِ ูَู…َุณ ุญَ ู…ُู‚َุฏَّู…َ ุฑَุฃْุณِู‡ِ ูˆَู„َู…ْ ูŠَู†ْู‚ُุถْ ุงู„ْุนِู…َุงู…َุฉ

Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah Saw berwudhu’, di atas kepalanya ada sorban buatan Qathar. Rasulullah Saw memasukkan tangannya dari bawah sorbannya, beliau mengusap bagian depan kepalanya, beliau tidak melepas sorbannya”. (HR. Abu Daud).

Hadits Riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim.
ุซُู…َّ ู…َุณَุญَ ุฑَุฃْุณَู‡ُ ุจِูŠَุฏَูŠْู‡ِ ูَุฃู‚َْุจَู„َ ุจِู‡ِู…َุง ูˆَุฃَุฏْุจَุฑَ ุจَุฏَุฃَ ุจِู…ُู‚َุฏَّู…ِ ุฑَุฃْุณِู‡ِ ุญَุชَّู‰ ุฐَู‡َุจَ ุจِู‡ِู…َุง ุฅِู„َู‰ ู‚َุนَุงู‡ ุซُู…َّ ุฑَุฏَّู‡ُู…َุง ุฅِู„َู‰ ุง ู„ู…َูƒَุงู†ِ ุงู„َّุฐِูŠ ุจَุฏَุฃَ ู…ِู†ْู‡

 Kemudian Rasulullah Saw mengusap kepalanya. Rasulullah Saw (menjalankan kedua telapak) tangannya ke depan dan ke belakang, beliau awali dari bagian depan kepalanya, hingga kedua (telapak) tangannya ke tengkuknya, kemudian ia kembalikan lagi ke tempat semula. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Menyikapi ayat dan beberapa hadits tentang mengusap kepala diatas, muncul beberapa pertanyaan: bagaimanakah cara mengusap kepala ketika berwudhu’? Apakah cukup menempelkan telapak tangan yang basah ke bagian atas rambut? Atau telapak tangan mesti dijalankan di atas kepala? Apakah cukup mengusap ubun-ubun saja? Atau mesti mengusap seluruh kepala? Di sinilah muncul Ikhtilaf diantara ulama.
Para ulama berijtihad, maka ada beberapa pendapat ulama tentang mengusap kepala ketika berwudhu’:

Mazhab Hanafi:

Wajib mengusap seperempat kepala, sebanyak satu kali, seukuran ubun-ubun, diatas dua daun telinga, bukan mengusap ujung rambut yang dikepang/diikat. Meskipun hanya terkena air hujan, atau basah bekas sisa air mandi, tapi tidak boleh diambil dari air bekas basuhan pada anggota wudhu’ yang lain, misalnya air yang menetes dari pipi diusapkan ke kepala, ini tidak sah.

Dalil Mazhab Hanafi:

Mesti mengikuti makna mengusap menurut ‘urf (kebiasaan).
Makna huruf Ba’ pada ayat [ุจุฑุคูˆุณูƒู… ] artinya menempel. Menurut kaedah, jika huruf Ba’ masuk pada kata yang diusap, maka maknanya mesti menempelkan seluruh alat yang mengusap. Maka mesti menempelkan telapak tangan ke kepala. Jika huruf Ba’ masuk ke alat yang mengusap, maka mesti mengusap seluruh objek yang diusap. Jika seluruh telapak tangan diusapkan ke kepala, maka bagian kepala yang terkena usapan adalah seperempat bagian kepala. Itulah bagian yang dimaksud ayat mengusap kepala.
Hadits yang menjelaskan ayat ini, riwayat Abu Daud dari Anas, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah Saw berwudhu’, di atas kepalanya ada sorban buatan Qathar, Rasulullah Saw memasukkan tangannya dari bawah sorbanya, ia engusap bagian depan kepalanya, ia tidak melepas sorbannya”. Hadits ini menjelaskan ayat yang bersifat mujmal (global/umum). Ubun-ubun atau bagian depan kepala itu seperempat ukuran kepala, karena ubun-ubun satu bagian dari empat bagian kepala.
Mazhab Maliki:

Wajib mengusap seluruh kepala. Orang yang mengusap kepala tidak mesti melepas ikatan rambutnya dan tidak mesti mengusap rambut yang terurai dari kepala. Tidak sah jika hanya mengusap rambut yang terurai dari kepala. Sah jika mengusap rambut yang tidak turun dari tempat yang diwajibkan untuk diusap. Jika rambut tidak ada, maka yang diusap adalah kulit kepala, karena kulit kepala itulah bagian permukaan kepala bagi orang yang tidak memiliki rambut. Cukup diusap satu kali. Tidak dianjurkan mengusap kepala dan telinga beberapa kali usapan.

Dalil Mazhab Maliki:

Huruf Ba’ mengandung makna menempel, artinya menempelkan alat kepada yang diusap, dalam kasus ini menempelkan tangan ke seluruh kepala. Seakan-akan Allah Swt berfirman, “Tempelkanlah usapan air ke kepala kamu”.
Hadits riwayat Abdullah bin Zaid, “Sesungguhnya Rasulullah Saw mengusap kepalanya dengan kedua tangannya, ia usapkan kedua tangan itu ke bagian depan dan belakang. Ia mulai dari bagian depan kepala, kemudian menjalankan kedua tangannya hingga ke tengkuk, kemudian ia kembalikan lagi ke bagian depan tempat ia memulai usapan”. Ini menunjukkan disyariatkan mengusap seluruh kepala.
Mazhab Hanbali:

Seperti Mazhab Maliki, dengan sedikit perbedaan:

Wajib mengusap seluruh kepala hanya bagi laki-laki saja. Sedangkan bagi perempuan cukup mengusap kepala bagian depan saja, karena Aisyah mengusap bagian depan kepalanya.
Wajib mengusap dua daun telinga, bagian luar dan bagian dalam daun telinga, karena kedua daun telinga itu bagian dari kepala. Sebagaimana hadits riwayat Ibnu Majah, “Kedua telinga itu bagian dari kepala”.

Mazhab Syafi’i:

Wajib mengusap sebagian kepala. Boleh membasuh kepala, karena membasuh itu berarti usapan dan lebih dari sekedar usapan. Boleh hanya sekedar meletakkan tangan di atas kepala, tanpa menjalankan tangan tersebut di atas kepala, karena tujuan mengusap kepala telah tercapai dengan sampainya air membasahi kepala.

Dalil Mazhab Syafi’i:

Hadits riwayat al-Mughirah dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, “Sesungguhnya Rasulullah Saw mengusap ubun-ubunnya dan bagian atas sorbannya”. Dalam hadits ini disebutkan cukup mengusap sebagian saja. Yang dituntut hanyalah mengusap secara mutlak/umum, tanpa ada batasan tertentu, maka sebagian saja sudah mencukupi.
Jika huruf Ba’ masuk ke dalam kata jama’ (plural), maka menunjukkan makna sebagian, maka maknanya, “Usapkan sebagian kepala kamu saja”. Mengusap sedikit sudah cukup, karena sedikit itu sama dengan banyak, sama-sama mengandung makna mengusap17
Komentar Syekh Mahmud Syaltut dan Syekh Muhammad Ali as-Sais, dikutip oleh Syekh DR.Wahbah az-Zuhaili:
ูˆุงู„ุญู‚: ุฃู† ุงู„ุขูŠุฉ ู…ู† ู‚ุจูŠู„ ุงู„ู…ุทู„ู‚، ูˆุฃู†ู‡ุง ู„ุง ุชุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃูƒุซุฑ ู…ู† ุฅูŠู‚ุงุน ุงู„ู…ุณุญ ุจุงู„ุฑุฃุณ، ูˆุฐู„ูƒ ูŠุชุญู‚ู‚ ุจู…ุณุญ ุงู„ูƒู„، ูˆุจู…ุณุญ ุฃูŠ
ุฌุฒุก ู‚ู„ ุฃู… ูƒุซุฑ، ู…ุง ุฏุงู… ููŠ ุฏุงุฆุฑุฉ ู…ุง ูŠุตุฏู‚ ุนู„ูŠู‡ ุงุณู… ุงู„ู…ุณุญ، ูˆุฃู† ู…ุณุญ ุดุนุฑุฉ ุฃูˆ ุซู„ุงุซ ุดุนุฑุงุช ู„ุง ูŠุตุฏู‚ ุนู„ูŠู‡ ุฐู„ูƒ .

Yang benar, bahwa ayat ( ูˆَุงู…ْุณَุญُูˆุง ุจِุฑُุกُูˆุณِูƒُู…ْ ) “Usaplah kepala kamu” termasuk ayat yang bersifat umum, tidak menunjukkan lebih dari sekedar mengusap kepala. Usapan itu sudah terwujud apakah dengan mengusap seluruh kepala, mengusap sebagian kepala, sedikit atau pun banyak, selama dapat dianggap sebagai makna mengusap. Adapun mengusap satu helai atau tiga helai rambut, tidak dapat dianggap mengusap18



Dari uraian diatas dapat dilihat:
Pertama, mazhab bukan agama. Tapi pemahaman ulama terhadap nash-nash (teks) agama dengan ilmu yang ada pada mereka. Dari mulai pemahaman mereka tentang ayat, dalil hadits, ‘urf, sampai huruf Ba’ yang masuk ke dalam kata. Begitu detailnya. Oleh sebab itu slogan “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”, memang benar, tapi apakah setiap orang memiliki kemampuan? Apakah semua orang memiliki alat untuk memahami al-Qur’an dan Sunnah seperti pemahaman para ulama?! Oleh sebab itu bermazhab tidak lebih dari sekedar bertanya kepada orang yang lebih mengerti tentang suatu masalah, mengamalkan firman Allah Swt,

ูَุงุณْุฃู„َُูˆุง ุฃَู‡ْู„َ ุงู„ุฐِ ูƒْุฑِ ุฅِู†ْ ูƒُู†ْุชู…ُْ ู„َุง ุชَุนْู„َู…ُูˆู†َ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”. (Qs. an-Nahl [16]: 43).

Kedua, ikhtilaf mereka pada furu’ (permasalahan cabang), bukan pada ushul (dasar/prinsip). Mereka tidak ikhtilaf tentang apakah wudhu’ itu wajib atau tidak. Yang mereka perselisihkan adalah masalah-masalah cabang, apakah mengusap itu seluruh kepala atau sebagiannya saja? Demikian juga dalam shalat, mereka tidak ikhtilaf tentang apakah shalat itu wajib atau tidak? Semuanya sepakat bahwa shalat itu wajib. Mereka hanya ikhtilaf tentang cabang-cabang dalam shalat, apakah basmalah dibaca sirr atau jahr? Apakah mengangkat tangan sampai bahu atau telinga? Dan sejeninsya.
Ketiga, tidak membid’ahkan hanya karena beda cara melakukan. Yang mengusap seluruh kepala tidak membid’ahkan yang mengusap sebagian kepala, demikian juga sebaliknya. Selama perbuatan itu masih bernaung di bawah dalil yang bersifat umum.
Ikhtilaf tidak hanya terjadi pada masa generasi khalaf (belakangan). Kalangan Salaf (generasi tiga abad pertama Hijrah); para shahabat Rasulullah Saw, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in juga Ikhtilaf dalam masalah-masalah tertentu.

 Ikhtilaf Shahabat Ketika Rasulullah Saw Masih Hidup.
ุนَู†ْ ุงุจْู†ِ ุนُู…َุฑَ ู‚َุงู„َ ู‚َุงู„َ ุงู„ู†َّุจِูŠُّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ََُّّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ู„َู†َุง ู„َู…َّุง ุฑَุฌَุงَ ู…ِู†ْ ุงู„ْุฃَุญْุฒَุงุจِ ู„َุง ูŠُุตَู„ ูŠَู†َّ ุฃَุญَุฏٌ ุงู„ْุนَุตْุฑَ ุฅِู„َّุง ูِูŠ ุจَู†ِูŠ ู‚ُุฑَูŠْุธَุฉَ ูَุฃุฏَْุฑَูƒَ
ุจَุนْุถَู‡ُู…ْ ุงู„ْุนَุตْุฑُ ูِูŠ ุงู„ุทَّุฑِูŠู‚ِ ูَู‚َุงู„َ ุจَุนْุถُู‡ُู…ْ ู„َุง ู†ُุตَู„ِ ูŠ ุญَ ุชَّู‰ ู†َุฃุชِْูŠَู‡َุง ูˆَู‚َุงู„َ ุจَุนْุถُู‡ُู…ْ ุจَู„ْ ู†ُุตَู„ِ ูŠ ู„َู…ْ ูŠُุฑَุฏْ ู…ِู†َّุง ุฐَู„ِูƒَ ูَุฐُูƒِุฑَ ู„ِู„ู†َّุจِ ูŠ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ََُّّ ุนَู„َูŠْู‡ِ
ูˆَุณَู„َّู…َ ูَู„َู…ْ ูŠُุนَู† ูْ ูˆَุงุญِุฏًุง ู…ِู†ْู‡ُู…ْ

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw berkata kepada kami ketika beliau kembali dari perang Ahzab, ‘Janganlah salah seorang kamu shalat ‘Ashar kecuali di Bani Quraizhah’. Sebagian mereka memasuki shalat ‘Ashar di tengah perjalanan. Sebagian mereka berkata, ‘Kami tidak akan melaksanakan shalat ‘Ashar hingga kami sampai di Bani Quraizhah’.
Sebagian mereka berkata, ‘Kami melaksanakan shalat ‘Ashar sebelum sampai di Bani Quraizhah’. Peristiwa itu diceritakan kepada Rasulullah Saw, beliau tidak menyalahkan satu pun dari mereka”. (HR. al-Bukhari).
Ini membuktikan bahwa para shahabat juga ikhtilaf, sebagian mereka berpendapat bahwa shalat Ashar mesti dilaksanakan di Bani Quraizhah, sedangkan sebagian lain berpendapat shalat Ashar dilaksanakan ketika waktunya telah tiba, meskipun belum sampai di Bani Quraizhah. Satu kelompok berpegang pada teks, yang lain berpegang pada makna teks. Inilah cikal bakal ikhtilaf dan Rasulullah Saw membenarkan keduanya, karena tidak keluar dari tuntunan Sunnah.
Setelah Rasulullah Saw wafat pun para shahabat mengalami ikhtilaf dalam masalah-masalah tertentu.

Ikhtilaf Shahabat Ketika Rasulullah Saw Telah Wafat.
ูู„ู…ุง ูุฑุบ ู…ู† ุฌู‡ุงุฒ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠูˆู… ุงู„ุซู„ุงุซุงุก ูˆุถุง ููŠ ุณุฑูŠุฑู‡ ููŠ ุจูŠุชู‡ ูˆู‚ุฏ ูƒุงู† ุงู„ู…ุณู„ู…ูˆู† ุงุฎุชู„ุนูˆุง ููŠ ุฏูู†ู‡
ูู‚ุงู„ ู‚ุงุฆู„: ู†ุฏูู†ู‡ ููŠ ู…ุณุฌุฏู‡ ูˆู‚ุงู„ ู‚ุงุฆู„: ุจู„ ู†ุฏูู†ู‡ ู…ุง ุฃุตุญุงุจู‡ ูู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุจูƒุฑ: ุฅู†ูŠ ุณู…ุนุช ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูŠู‚ูˆู„:
ู…ุง ู‚ุจุถ ู†ุจูŠ ุฅู„ุง ุฏูู† ุญูŠุซ ูŠู‚ุจุถ ูุฑูุง ูุฑุงุด ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงู„ุฐูŠ ุชูˆููŠ ุนู„ูŠู‡ ูุญุนุฑ ู„ู‡ ุชุญุชู‡

Ketika jenazah Rasulullah Saw telah siap (untuk dikebumikan) pada hari Selasa. Jenazah Rasulullah Saw diletakkan di tempat tidurnya di dalam rumahnya. Kaum muslimin ikhtilaf dalam hal pemakamannya.
Ada yang berpendapat, “Kita makamkan di dalam masjidnya (Masjid Nabawi)”.
Ada yang berpendapat, “Kita makamkan bersama para shahabatnya (di pemakaman Baqi’)”.
Abu Bakar berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Tidak seorang pun dari nabi itu yang meninggal dunia melainkan ia dimakamkan di mana ia meninggal”. Maka kasur tempat Rasulullah Saw meninggal pun diangkat. Lalu makam Rasulullah Saw digali di bawah kasur itu”19.



 Ini membuktikan bahwa para shahabat ikhtilaf, baik ketika Rasulullah Saw masih hidup, maupun setelah Rasulullah Saw wafat. Namun kedua ikhtilaf itu diselesaikan dengan tuntunan Sunnah Rasulullah Saw.

Ijtihad Shahabat Rasulullah Saw.
Ijtihad Shahabat Ketika Rasulullah Saw Masih Hidup.
Ketika mengalami suatu peristiwa, Rasulullah Saw tidak berada bersama para shahabat, maka para shahabat itu berijtihad, seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits,

ุนَู†ْ ุฃَุจِูŠ ุณَุนِูŠุฏٍ ุงู„ْุฎُุฏْุฑِ ูŠ ู‚َุงู„َ ุฎَุฑَ ุฑَุฌُู„َุงู†ِ ูِูŠ ุณَุนَุฑٍ ูَุญَุถَุฑَุชْ ุงู„ุตَّู„َุงุฉُ ูˆَู„َูŠْุณَ ู…َุนَู‡ُู…َุง ู…َุงุกٌ ูَุชَูŠَู…َّู…َุง ุตَุนِูŠุฏًุง ุทَูŠ ุจًุง ูَุตَู„َّูŠَุง ุซُู…َّ ูˆَ ุฌَุฏَุง ุงู„ْู…َุงุกَ
ูِูŠ ุงู„ْูˆَู‚ْุชِ ูَุฃุนََุงุฏَ ุฃَุญَุฏُู‡ُู…َุง ุงู„ุตَّู„َุงุฉَ ูˆَุงู„ْูˆُุถُูˆุกَ ูˆَู„َู…ْ ูŠُุนِุฏْ ุงู„ْุข ุฎَุฑُ ุซู…َُّ ุฃَุชูŠََุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงู„ู„ََِّّ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ََُّّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูَุฐَูƒَุฑَุง ุฐَู„ِูƒَ ู„َู‡ُ ูَู‚َุงู„َ ู„ِู„َّุฐِูŠ ู„َู…ْ ูŠُุนِุฏْ
ุฃَุตَุจْุชَ ุงู„ุณُّู†َّุฉَ ูˆَุฃุฌَْุฒَุฃَุชْูƒَ ุตَู„ุงَุชُูƒَ ูˆَู‚َุงู„َ ู„ِู„َّุฐِูŠ ุชَูˆَุถَّุฃ ูˆَุฃَุนَุงุฏَ ู„َูƒَ ุงู„ْุฃุฌَْุฑُ ู…َุฑَّุชَูŠْู†ِ

Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Dua orang shahabat pergi dalam suatu perjalanan. Kemudian tiba waktu shalat, mereka tidak memiliki air, lalu mereka berdua bertayammum dengan tanah yang suci. Lalu mereka berdua melaksanakan shalat. Kemudian mereka berdua mendapatkan air dan waktu shalat masih ada. Salah seorang dari mereka mengulangi shalatnya dengan berwudhu’. Sedangkan yang lain tidak mengulangi shalatnya. Kemudian mereka berdua datang menghadap Rasulullah Saw, mereka menyebutkan peristiwa yang telah mereka alami. Rasulullah Saw berkata kepada yang tidak mengulangi shalatnya, “Perbuatanmu sesuai dengan Sunnah, shalatmu sah”. Rasulullah Saw berkata kepada yang mengulangi shalatnya dengan berwudhu’, “Engkau mendapatkan dua pahala”. (HR. Abu Daud).

 Ijtihad Shahabat Ketika Rasulullah Saw Telah Wafat.
 ุงู„ู…ุดู‡ูˆุฑ ู…ู† ู…ุฐู‡ุจ ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู†ู‡ุง ุฃู†ู‡ุง ูƒุงู†ุช ู„ุง ุชุฑู‰ ุงู„ุบุณู„ ู„ูƒู„ ุตู„ุงุฉ

Masyhur dari mazhab Aisyah ra, menurutnya (wanita yang mengalami istihadhah) tidak wajib mandi pada setiap shalat20.

ูˆุงุฎุชู„ุนูˆุง ููŠ ูˆุฌูˆุจ ุงู„ุณุนูŠ ุจูŠู† ุงู„ุตุนุง ูˆุงู„ู…ุฑูˆุฉ ูุฐู‡ุจ ู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุฃุตุญุงุจู‡ู…ุง ูˆุฃุญู…ุฏ ูˆุฅุณุญุงู‚ ูˆุฃุจูˆ ุซูˆุฑ ุฅู„ู‰ ู…ุง ุฐูƒุฑู†ุง
ูˆู‡ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ูˆ ู…ุฐู‡ุจ ุนุฑูˆุฉ ูˆุบูŠุฑู‡. ูˆูƒุงู† ุฃู†ุณ ุจู† ู…ุงู„ูƒ ูˆุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุงู„ุฒุจูŠุฑ ูˆู…ุญู…ุฏ ุจู† ุณูŠุฑูŠู† ูŠู‚ูˆู„ูˆู†
ู‡ูˆ ุชุทูˆุน ูˆู„ูŠุณ ุฐู„ูƒ ุจูˆุงุฌุจ

Mereka ikhtilaf tentang hukum wajibnya sa’i antara Shafa dan Marwah. Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, para ulama kedua mazhab tersebut, Imam Ahmad, Imam Ishaq dan Abu Tsaur, seperti yang telah kami sebutkan (wajib Sa’i), ini adalah mazhab Aisyah, mazhab ‘Urwah dan lainnya. Sedangkan Anas bin Malik, Abdullah bin az-Zubair dan Muhammad bin Sirin berpendapat bahwa Sa’i itu sunnat, tidak wajib21. Hasil ijtihad mereka disebut madzhab.

Makna Madzhab.
Makna kata Madzhab menurut bahasa adalah: ู…َูˆْุถِุงُ ุงู„ุฐَّู‡َุงุจِ tempat pergi.
Sedangkan Madzhab menurut istilah adalah:

ู…َุง ุงُุฎْุชุตَُّ ุจِู‡ِ ุงู„ْู…ُุฌْุชَู‡ِุฏُ ู…ِู†ْ ุงู„ْุฃุญَْูƒَุงู…ِ ุงู„ุดَّุฑْุนِูŠَّุฉِ ุงู„ْุนَุฑْุนِูŠَّุฉِ ุงู„ِุงุฌْุชِู‡َุงุฏِูŠَّุฉِ ุงู„ْู…ُุณْุชุนََุงุฏَุฉِ ู…ِู†ْ ุงู„ْุฃ ุฏِู„َّุฉِ ุงู„ุธَّู† ูŠَّุฉ



Hukum-hukum syar’i yang bersifat far’i dan ijtihadi yang dihasilkan dari dalil-dalil yang bersifat zhanni oleh seorang mujtahid secara khusus22.
Pengertian madzhab yang lebih sempurna dan sistematis dengan kaedah-kaedah yang tersusun baru ada pada masa imam-imam mazhab.

 Para Imam Mazhab.
1. Abu Sa’id al-Hasan bin Yasar al-Bashri, Imam al-Hasan al-Bashri (w.110H).
2. An-Nu’man bin Tsabit, Imam Hanafi (w.150H).
3. Abu ‘Amr bin Abdirrahman bin ‘Amr, Imam al-Auza’i (w.157H).
4. Sufyan bin Sa’id bin Masruq, Imam Sufyan ats-Tsauri (w.160H).
5. Imam al-Laits bin Sa’ad (w.175H).
6. Malik bin Anas al-Ashbuhi, Imam Malik (w.179H).
7. Imam Sufyan bin ‘Uyainah (w.198H).
8. Muhammad bin Idris, Imam Syafi’i (w.204H).
9. Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Imam Hanbali (w.241H).
10. Daud bin Ali al-Ashbahani al-Bahdadi, Imam Daud azh-Zhahiri (w.270H).
11. Imam Ishaq bin Rahawaih (w.238H).
12. Ibrahim bin Khalid al-Kalbi, Imam Abu Tsaur (w.240H).
Namun tidak semua mazhab ini bertahan. Banyak yang punah karena tidak dilanjutkan oleh para ulama yang mengembangkan mazhab setelah imam pendirinya wafat. Oleh sebab itu yang populer di kalangan Ahlussunnah-waljama’ah adalah empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Bahkan Syekh Abu Bakar al-Jaza’iri menyusun kitab Fiqhnya dengan judul al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah (Fiqh menurut empat mazhab).

 Imam Mazhab Menyikapi Perbedaan.
Mereka tetap shalat berjamaah, meskipun ada perbedaan diantara mereka pada hal-hal tertentu, misalnya Basmalah pada al-Fatihah, ada yang membaca sirr, ada yang membaca jahr, ada pula yang tidak membaca Basmalah sama sekali. Namun itu tidak menghalangi mereka untuk shalat berjamaah.

ูƒุงู† ุฃุจูˆ ุญู†ูŠุนุฉ ุฃูˆ ุฃุตุญุงุจู‡ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ู… ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู… ูŠุตู„ูˆู† ุฎู„ู ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ู…ุฏูŠู†ุฉ ู…ู† ุงู„ู…ุงู„ูƒูŠุฉ ูˆุบูŠุฑู‡ู… ูˆุฅู† ูƒุงู†ูˆุง ู„ุง
ูŠู‚ุฑุกูˆู† ุงู„ุจุณู…ู„ุฉ ู„ุง ุณุฑุง ูˆู„ุง ุฌู‡ุฑุง

Imam Hanafi atau para ulama Mazhab Hanafi, Imam Syafi’i dan para ulama lain shalat di belakang para imam di Madinah yang berasal dari kalangan Mazhab Maliki, meskipun para imam di Madinah itu tidak membaca Basmalah, baik sirr maupun jahar (karena menurut Mazhab Maliki: Basmalah itu bukan bagian dari surat al-Fatihah)23.

 Adab Imam Syafi’i Kepada Imam Hanafi.
ูˆุตู„ู‰ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุตุจุญ ู‚ุฑูŠุจุง ู…ู† ู…ู‚ุจุฑุฉ ุฃุจูŠ ุญู†ูŠุนุฉ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ، ูู„ู… ูŠู‚ู†ุช ุชุฃุฏุจุง ู…ุนู‡

Imam Syafi’i melaksanakan shalat Shubuh, lokasinya dekat dari makam Imam Hanafi. Imam Syafi’i tidak membaca doa Qunut karena beradab kepada Imam Hanafi24.

Adab Imam Malik.
Imam Malik berkata,

ุดุงูˆุฑู†ูŠ ู‡ุงุฑูˆู† ุงู„ุฑุดูŠุฏ ููŠ ุฃู† ูŠุนู„ู‚ )ุงู„ู…ูˆุทุฃ( ููŠ ุงู„ูƒุนุจุฉ، ูˆูŠุญู…ู„ ุงู„ู†ุงุณ ุนู„ู‰ ู…ุง ููŠู‡ ูู‚ู„ุช: ู„ุง ุชุนุนู„، ูุฅู† ุฃุตุญุงุจ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡
ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงุฎุชู„ุนูˆุง ููŠ ุงู„ุนุฑูˆุน، ูˆุชุนุฑู‚ูˆุง ููŠ ุงู„ุจู„ุฏุงู†، ูˆูƒู„ ุนู†ุฏ ู†ุนุณู‡ ู…ุตูŠุจ، ูู‚ุงู„: ูˆูู‚ูƒ ุงู„ู„ู‡ ูŠุง ุฃุจุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡

Khalifah Harun ar-Rasyid bermusyawarah dengan saya, beliau ingin menggantungkan kitab al-Muwaththa’ (karya Imam Malik) di Ka’bah, beliau ingin menetapkan agar seluruh masyarakat memakai isi kitab al-Muwaththa’. Saya katakan, “Jangan lakukan! Sesungguhnya para shahabat Rasulullah Saw telah berbeda pendapat dalam masalah furu’, mereka juga telah menyebar ke seluruh negeri, semuanya benar dalam ijtihadnya”. Khalifah Harun ar-Rasyid berkata, “Allah membarikan taufiq-Nya kepadamu wahai Abu Abdillah (Imam Malik)”25.

Imam Malik VS Imam Hanafi.
 ู‚ุงู„ ุงู„ู„ูŠุซ: ู„ู‚ูŠุช ู…ุงู„ูƒุง ุจุงู„ู…ุฏูŠู†ุฉ ูู‚ู„ุช ู„ู‡: ุฅู†ูŠ ุฃุฑุงูƒ ุชู…ุณุญ ุงู„ุนุฑู‚ ุนู† ุฌุจูŠู†ูƒ.
ู‚ุงู„ ุนุฒูุช ู…ุง ุฃุจูŠ ุญู†ูŠุนุฉ. ุฅู†ู‡ ู„ุนู‚ูŠู‡ ูŠุง ู…ุตุฑูŠ.
ุซู… ู„ู‚ูŠุช ุฃุจุง ุญู†ูŠุนุฉ ู‚ู„ุช: ู…ุง ุฃุญุณู† ู‚ูˆู„ ุฐู„ูƒ ุงู„ุฑุฌู„ ููŠูƒ. ูู‚ุงู„: ูˆุงู„ู„ู‡ ู…ุง ุฑุฃูŠุช ุฃุณุฑุน ู…ู†ู‡ ุจุฌูˆุงุจ ุตุงุฏู‚ ูˆุฒู‡ุฏ ุชุงู….

Imam al-Laits bin Sa’ad berkata, “Saya bertemu dengan Imam Malik, saya katakan kepadanya, ‘Saya lihat engkau mengusap keringat dari alis matamu?’.
Imam Malik menjawab, “Saya merasa tidak punya apa-apa ketika bersama Abu Hanifah, sesungguhnya ia benar-benar ahli Fiqh wahai orang Mesir (Imam al-Laits)”.
Kemudian saya menemui Imam Hanafi, saya katakan kepadanya, “Bagus sekali ucapan Imam Malik terhadap dirimu”.
Imam Hanafi menjawab, “Demi Allah, saya belum pernah melihat orang yang lebih cepat memberikan jawaban yang benar dan zuhud yang sempurna melebihi Imam Malik”26.

 Komentar Imam Syafi’i Terhadap Imam Malik.
ุงุฐุง ุฌุงุกูƒ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุนู† ู…ุงู„ูƒ ูุดุฏ ุจู‡ ูŠุฏูŠูƒ

“Apabila ada hadits datang kepadamu, dari Imam Malik, maka kuatkanlah kedua tanganmu dengan hadits itu”.

ุงุฐุง ุฌุงุกูƒ ุงู„ุฎุจุฑ ูู…ุงู„ูƒ ุงู„ู†ุฌู…

“Jika datang Khabar kepadamu, maka Imam Malik adalah bintangnya”.

ุงุฐุง ุฐูƒุฑ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ูู…ุงู„ูƒ ุงู„ู†ุฌู… ูˆู…ุง ุฃุญุฏ ุฃู…ู† ุนู„ู‰ ู…ู† ู…ุงู„ูƒ ุจู† ุฃู†ุณ



“Jika disebutkan tentang ulama-ulama, maka Imam Malik adalah bintangnya. Tidak seorang pun yang lebih aman bagiku daripada Imam Malik bin Anas”.

ู…ุงู„ูƒ ุจู† ุฃู†ุณ ู…ุนู„ู…ู‰ ูˆุนู†ู‡ ุฃุฎุฐุช ุงู„ุนู„ู…

“Imam Malik bin Anas adalah guruku, darinya aku mengambil ilmu”.

ูƒุงู† ู…ุงู„ูƒ ุจู† ุฃู†ุณ ุงุฐุง ุดูƒ ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุทุฑุญู‡ ูƒู„ู‡

“Imam Malik bin Anas itu, jika ia ragu terhadap suatu hadits, maka ia buang semuanya”27.


Komentar Imam Hanbali Terhadap Imam Syafi’i.
 ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญู†ุจู„ ู‚ุงู„ ู‚ู„ุช ู„ุฃุจูŠ ูŠุง ุฃุจุฉ ุฃูŠ ุฑุฌู„ ูƒุงู† ุงู„ุดุงูุนูŠ ูุฅู†ูŠ ุณู…ุนุชูƒ ุชูƒุซุฑ ู…ู† ุงู„ุฏุนุงุก ู„ู‡ ูู‚ุงู„ ู„ูŠ ูŠุง ุจู†ูŠ ูƒุงู†
ุงู„ุดุงูุนูŠ ูƒุงู„ุดู…ุณ ู„ู„ุฏู†ูŠุง ูˆูƒุงู„ุนุงููŠุฉ ู„ู„ู†ุงุณ ูุงู†ุธุฑ ู‡ู„ ู„ู‡ุฐูŠู† ู…ู† ุฎู„ู ุฃูˆ ู…ู†ู‡ู…ุง ุนูˆุถ

 Abdullah putra Imam Hanbali berkata, “Saya katakan kepada Ayah saya, ‘Wahai Ayahanda, orang seperti apa Syafi’i itu, saya selalu mendengar engkau berdoa untuknya’. Imam Hanbali menjawab, ‘Wahai Anakku, Imam Syafi’i seperti matahari bagi dunia. Seperti kesehatan bagi tubuh. Lihatlah, adakah pengganti bagi kedua ini?!”28.

 ู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุฃูŠูˆุจ ุญู…ูŠุฏ ุจู† ุฃุญู…ุฏ ุงู„ุจุตุฑูŠ ูƒู†ุช ุนู†ุฏ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญู†ุจู„ ู†ุชุฐุงูƒุฑ ููŠ ู…ุณุฃู„ุฉ ูู‚ุงู„ ุฑุฌู„ ู„ุฃุญู…ุฏ ูŠุง ุฃุจุง ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ู„ุง ูŠุตุญ ููŠู‡
ุญุฏูŠุซ ูู‚ุงู„ ุฅู† ู„ู… ูŠุตุญ ููŠู‡ ุญุฏูŠุซ ูุนูŠู‡ ู‚ูˆู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุญุฌุชู‡ ุฃุซุจุช ุดูŠุก ููŠู‡

Abu Ayyub Humaid bin Ahmad al-Bashri berkata, “Saya bersama Imam Hanbali bermuzakarah tentang suatu masalah. Seorang laki-laki bertanya kepada Imam Hanbali, “Wahai Abu Abdillah, tidak ada hadits shahih tentang masalah itu’.
Imam Hanbali menjawab, “Jika tidak ada hadits shahih, ada pendapat Imam Syafi’i dalam masalah itu. Hujjah Imam Syafi’i terkuat dalam masalah itu”29.

 Ikhtilaf Ulama Kontemporer:
Para ulama zaman sekarang pun berijtihad dalam masalah-masalah tertentu yang tidak ada nash menjelaskan tentang itu. Atau ada nash, tapi mereka ikhtilaf dalam memahaminya. Ketika mereka berijtihad, maka tentu saja mereka pun ikhtilaf seperti orang-orang sebelum mereka. Berikut ini beberapa contoh ikhtilaf diantara ulama kontemporer:

 Contoh Kasus Pertama:
Cara Turun Ketika Sujud.
Syekh Ibnu Baz: Lutut Lebih Dahulu. Syekh al-Albani: Tangan Lebih Dahulu.
ูุฃุดูƒู„ ู‡ุฐุง ุนู„ู‰ ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ูู‚ุงู„ ุจุนุถู‡ู… ูŠุถุน
ูŠุฏูŠู‡ ู‚ุจู„ ุฑูƒุจุชูŠู‡ ูˆู‚ุงู„ ุขุฎุฑูˆู† ุจู„ ูŠุถุน ุฑูƒุจุชูŠู‡ ู‚ุจู„ ูŠุฏูŠู‡ ،
ูˆู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุฐูŠ ูŠุฎุงู„ู ุจุฑูˆูƒ ุงู„ุจุนูŠุฑ ู„ุฃู† ุจุฑูˆูƒ ุงู„ุจุนูŠุฑ ูŠุจุฏุฃ
ุจูŠุฏูŠู‡ ูุฅุฐุง ุจุฑูƒ ุงู„ู…ุคู…ู† ุนู„ู‰ ุฑูƒุจุชูŠู‡ ูู‚ุฏ ุฎุงู„ู ุงู„ุจุนูŠุฑ ูˆู‡ุฐุง
ู‡ูˆ ุงู„ู…ูˆุงูู‚ ู„ุญุฏูŠุซ ูˆุงุฆู„ ุจู† ุญุฌุฑ ูˆู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุตูˆุงุจ ุฃู†

ูŠุณุฌุฏ ุนู„ู‰ ุฑูƒุจุชูŠู‡ ุฃูˆู„ุง ุซู… ูŠุถุน ูŠุฏูŠู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุฑุถ ุซู…
ูŠุถุน ุฌุจู‡ุชู‡ ุฃูŠุถุง ุนู„ู‰ ุงู„ุฃุฑุถ ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ู…ุดุฑูˆุน ูุฅุฐุง
ุฑูุน ุฑูุน ูˆุฌู‡ู‡ ุฃูˆู„ุง ุซู… ูŠุฏูŠู‡ ุซู… ูŠู†ู‡ุถ ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ู…ุดุฑูˆุน
ุงู„ุฐูŠ ุฌุงุกุช ุจู‡ ุงู„ุณู†ุฉ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู‡ูˆ
ุงู„ุฌู…ุน ุจูŠู† ุงู„ุญุฏูŠุซูŠู† ، ูˆุฃู…ุง ู‚ูˆู„ู‡ ููŠ ุญุฏูŠุซ ุฃุจูŠ ู‡ุฑูŠุฑุฉ :
ูˆู„ูŠุถุน ูŠุฏูŠู‡ ู‚ุจู„ ุฑูƒุจุชูŠู‡ ูุงู„ุธุงู‡ุฑ ูˆุงู„ู„ู‡ ุฃุนู„ู… ุฃู†ู‡ ุงู†ู‚ู„ุงุจ ูƒู…ุง
ุฐูƒุฑ ุฐู„ูƒ ุงุจู† ุงู„ู‚ูŠู… ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ ุฅู†ู…ุง ุงู„ุตูˆุงุจ ุฃู† ูŠุถุน
ุฑูƒุจุชูŠู‡ ู‚ุจู„ ูŠุฏูŠู‡ ุญุชู‰ ูŠูˆุงูู‚ ุขุฎุฑ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฃูˆู„ู‡ ูˆุญุชู‰ ูŠุชูู‚
ู…ุน ุญุฏูŠุซ ูˆุงุฆู„ ุจู† ุญุฌุฑ ูˆู…ุง ุฌุงุก ููŠ ู…ุนู†ุงู‡

Masalah ini menjadi polemik di kalangan banyak ulama, sebagian mereka mengatakan: meletakkan kedua tangan sebelum lutut, sebagian yang lain mengatakan: meletakkan dua lutut sebelum kedua tangan, inilah yang berbeda dengan turunnya unta, karena ketika unta turun ia memulai dengan kedua tangannya (kaki depannya), jika seorang mu’min memulai turun dengan kedua lututnya, maka ia telah berbeda dengan unta, ini yang sesuai dengan hadits Wa’il bin Hujr (mendahulukan lutut daripada tangan), inilah yang benar; sujud dengan cara mendahulukan kedua lutut terlebih dahulu, kemudian meletakkan kedua tangan di atas lantai, kemudian menempelkan kening, inilah yang disyariatkan. Ketika bangun dari sujud, mengangkat kepala terlebih dahulu, kemudian kedua tangan, kemudian bangun, inilah yang disyariatkan menurut Sunnah dari Rasulullah Saw, kombinasi antara dua hadits. Adapun ucapan Abu Hurairah: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum lutut, zahirnya –wallahu a’lam- terjadi pembalikan kalimat, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim –rahimahullah-. Yang benar: meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, agar akhir hadits sesuai dengan awalnya, agarsesuai dengan hadits riwayat Wa’il bin Hujr, atau semakna dengannya30.

ูˆุงุนู„ู… ุฃู† ูˆุฌู‡ ู…ุฎุงู„ุนุฉ ุงู„ุจุนูŠุฑ ูˆุถุง ุงู„ูŠุฏูŠู† ู‚ุจู„ ุงู„ุฑูƒุจุชูŠู†
Ketahuilah bahwa bentuk membedakan diri dari unta adalah dengan meletakkan tangan terlebih dahulu sebelum kedua lutut (ketika turun sujud)31.
 Dalam hal ini Syekh Ibnu ‘Utsaimin sepakat dengan Syekh Ibnu Baz, lebih mendahulukan lutut daripada tangan,

ูุญูŠู†ุฆุฐ ูŠูƒูˆู† ุงู„ุตูˆุงุจ ุฅุฐุง ุฃุฑุฏู†ุง ุฃู† ูŠุชุทุงุจู‚ ุขุฎุฑ ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆุฃูˆู„ู‡ "ูˆู„ูŠุถุน ุฑูƒุจุชูŠู‡ ู‚ุจู„ ูŠุฏูŠู‡"؛ ู„ุฃู†ู‡ ู„ูˆ ูˆุถุน ุงู„ูŠุฏูŠู†
ู‚ุจู„ ุงู„ุฑูƒุจุชูŠู† ูƒู…ุง ู‚ู„ุช ู„ุจุฑูƒ ูƒู…ุง ูŠุจุฑูƒ ุงู„ุจุนูŠุฑ. ูˆุญูŠู†ุฆุฐ ูŠูƒูˆู† ุฃูˆู„ ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆุขุฎุฑู‡ ู…ุชู†ุงู‚ุถุงู†.
... ูˆู‚ุฏ ุฃู„ู ุจุนุถ ุงู„ุฃุฎูˆุฉ ุฑุณุงู„ุฉ ุณู…ุงู‡ุง )ูุชุญ ุงู„ู…ุนุจูˆุฏ ููŠ ูˆุถุน ุงู„ุฑูƒุจุชูŠู† ู‚ุจู„ ุงู„ูŠุฏูŠู† ููŠ ุงู„ุณุฌูˆุฏ( ูˆุฃุฌุงุฏ ููŠู‡
ูˆุฃูุงุฏ.
... ูˆุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ูุฅู† ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุชูŠ ุฃู…ุฑ ุจู‡ุง ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุงู„ุณุฌูˆุฏ ุฃู† ูŠุถุน ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุฑูƒุจุชูŠู‡ ู‚ุจู„
ูŠุฏูŠู‡.



Ketika itu maka yang benar jika kita ingin sesuai antara akhir dan awal hadits: “Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”, karena jika seseorang meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, sebagaimana yang saya nyatakan, pastilah ia turun seperti turunnya unta, maka berarti ada kontradiktif antara awal dan akhir hadits.
Ada salah seorang ikhwah telah menulis satu risalah berjudul Fath al-Ma’bud fi Wadh’i ar-Rukbataini Qabl al-Yadaini fi as-Sujud, ia bahas dengan pembahasan yang baik dan bermanfaat.
Dengan demikian maka menurut Sunnah yang diperintahkan Rasulullah Saw ketika sujud adalah: meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan32.

Jika berbeda pendapat itu membuat orang saling membid’ahkan, pastilah orang yang sujud dengan mendahulukan lutut akan membid’ahkan Syekh al-Albani dan para pengikutnya karena lebih mendahulukan tangan. Begitu juga sebaliknya, mereka yang lebih mendahulukan tangan, pasti akan membid’ahkan Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Utsaimin yang lebih mendahulukan lutut daripada tangan. Maka ikhtilaf dalam furu’ itu suatu yang biasa, selama berdasar kepada dalil dan masalah yang diperselisihkan itu bersifat zhanni. Tidak membuat orang saling memusuhi dan membid’ahkan.

Contoh Kasus Kedua:
Takbir Pada Sujud Tilawah Dalam Shalat
Syekh Ibnu Baz : Bertakbir. Syekh al-Albani : Tanpa Takbir.
ูŠุดุฑุน ู„ู„ู…ุตู„ูŠ ุฅุฐุง ูƒุงู† ุฅู…ุงู…ุง ุฃูˆ ู…ู†ุนุฑุฏุง ูˆู…ุฑ ุจุขูŠุฉ ุณุฌุฏุฉ

ุฃู† ูŠูƒุจุฑ ูˆูŠุณุฌุฏ ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุชู„ุงูˆุฉ، ุซู… ูŠูƒุจุฑ ุนู†ุฏู…ุง ูŠู†ู‡ุถ
ู…ู† ุงู„ุณุฌุฏุฉ؛ ู„ุฃู† ุงู„ุชูƒุจูŠุฑ ูŠูƒูˆู† ููŠ ูƒู„ ุฎุนุถ ูˆุฑูุง

Disyariatkan bagi orang yang melaksanakan shalat, jika ia sebagai imam atau shalat sendirian, ketika melewati ayat Sajadah, agar ia bertakbir dan sujud Tilawah. Kemudian bertakbir ketika bangun dari sujud. Karena takbir itu pada setiap turun dan bangun33.

ูˆู‚ุฏ ุฑูˆู‰ ุฌู…ุง ู…ู† ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุณุฌูˆุฏู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡

ูˆุณู„ู… ู„ู„ุชู„ุงูˆุฉ ููŠ ูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุงู„ุขูŠุงุช ููŠ ู…ู†ุงุณุจุงุช ู…ุฎุชู„ุนุฉ
ูู„ู… ูŠุฐูƒุฑ ุฃุญุฏ ู…ู†ู‡ู… ุชูƒุจูŠุฑู‡ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ู„ู„ุณุฌูˆุฏ ูˆู„ุฐู„ูƒ
ู†ู…ูŠู„ ุฅู„ู‰ ุนุฏู… ู…ุดุฑูˆุนูŠุฉ ู‡ุฐุง ุงู„ุชูƒุจูŠุฑ

Sekelompok shahabat telah meriwayatkan tentang sujud tilawahnya Rasulullah Saw dalam banyak ayat dan di banyak kesempatan yang berbeda-beda, tidak seorang pun dari mereka menyebutkan bahwa Rasulullah Saw bertakbir ketika akan sujud. Oleh sebab itu kami condong kepada pendapat: tidak disyariatkannya takbir ketika sujud tilawah34.

 Dalam hal ini Syekh Ibnu ‘Utsaimin sependapat dengan Syekh Ibnu Baz,

ุณุฌูˆุฏ ุงู„ุชู„ุงูˆุฉ ู„ูŠุณ ู„ู‡ ุชูƒุจูŠุฑ ุนู†ุฏ ุงู„ุณุฌูˆุฏ ูˆู„ูŠุณ ู„ู‡ ุชูƒุจูŠุฑ ุนู†ุฏ ุงู„ุฑูุง ู…ู† ุงู„ุณุฌูˆุฏ؛ ู„ุฃู† ุฐู„ูƒ ู„ู… ูŠุฑุฏ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡
ูˆุณู„ู…، ู…ุงู„ู… ูŠูƒู† ุงู„ุฅู†ุณุงู† ููŠ ุตู„ุงุฉ، ูุฅู† ูƒุงู† ููŠ ุตู„ุงุฉ ูˆุฌุจ ุฃู† ูŠูƒุจุฑ ุฅุฐุง ุณุฌุฏ ูˆุฃู† ูŠูƒุจุฑ ุฅุฐุง ู‚ุงู….

Sujud Tilawah tanpa takbir ketika turun sujud dan tanpa takbir ketika bangun dari sujud, karena tidak ada riwayat dari Rasulullah Saw. Kecuali jika seseorang dalam shalat, maka ia wajib bertakbir ketika akan sujud dan bertakbir ketika akan bangun tegak berdiri35.

 Contoh Kasus Ketiga:


Shalat Sunnat Tahyatul-masjid di Tempat Shalat ‘Ied.
Syekh Ibnu Baz :
Tidak Ada Shalat Sunnat Tahyatul-masjid. Syekh Ibnu ‘Utsaimin :
Ada Shalat Sunnat Tahyatul-masjid.
ุงู„ุณู†ุฉ ู„ู…ู† ุฃุชู‰ ู…ุตู„ู‰ ุงู„ุนูŠุฏ ู„ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏ ، ุฃูˆ ุงู„ุงุณุชุณู‚ุงุก
ุฃู† ูŠุฌู„ุณ ูˆู„ุง ูŠุตู„ูŠ ุชุญูŠุฉ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ؛ ู„ุฃู† ุฐู„ูƒ ู„ู… ูŠู†ู‚ู„ ุนู†
ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ุง ุนู† ุฃุตุญุงุจู‡ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡
ุนู†ู‡ู… ููŠู…ุง ู†ุนู„ู… ุฅู„ุง ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุงู„ุตู„ุงุฉ ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูุฅู†ู‡
ูŠุตู„ูŠ ุชุญูŠุฉ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ؛ ู„ุนู…ูˆู… ู‚ูˆู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡
ูˆุณู„ู…: ุฅุฐุง ุฏุฎู„ ุฃุญุฏูƒู… ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูู„ุง ูŠุฌู„ุณ ุญุชู‰ ูŠุตู„ูŠ
ุฑูƒุนุชูŠู† ู…ุชูู‚ ุนู„ู‰ ุตุญุชู‡. ูˆุงู„ู…ุดุฑูˆุน ู„ู…ู† ุฌู„ุณ ูŠู†ุชุธุฑ
ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏ ุฃู† ูŠูƒุซุฑ ู…ู† ุงู„ุชู‡ู„ูŠู„ ูˆุงู„ุชูƒุจูŠุฑ؛ ู„ุฃู† ุฐู„ูƒ ู‡ูˆ

ุดุนุงุฑ ุฐู„ูƒ ุงู„ูŠูˆู… ، ูˆู‡ูˆ ุงู„ุณู†ุฉ ู„ู„ุฌู…ูŠุน ููŠ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูˆุฎุงุฑุฌู‡
ุญุชู‰ ุชู†ุชู‡ูŠ ุงู„ุฎุทุจุฉ. ูˆู…ู† ุงุดุชุบู„ ุจู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูู„ุง ุจุฃุณ.
ูˆุงู„ู„ู‡ ูˆู„ูŠ ุงู„ุชูˆููŠู‚ .



Sunnah bagi orang yang datang ke tempat shalat ‘Ied atau Istisqa’ agar duduk, tidak shalat Tahyatul-masjid, karena yang demikian itu tidak ada riwayat dari Rasulullah Saw dan para shahabat menurut pengetahuan kami, kecuali jika shalat ‘Ied dilaksanakan di masjid, maka melaksanakan shalat Tahyatul-masjid berdasarkan umumnya sabda Rasulullah Saw, “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka janganlah duduk hingga ia shalat dua rakaat”, disepakati keshahihannya. Disyariatkan bagi orang yang duduk menunggu shalat ‘Ied agar memperbanyak Tahlil dan Takbir, karena itu adalah syi’ar pada hari itu, itu adalah Sunnah bagi semua di masjid dan di luar masjid hingga berakhir khutbah ‘Ied. Orang yang sibuk dengan membaca al-Qur’an, boleh. Wallahu Waliyyu at-Taufiq36.

ู…ุตู„ู‰ ุงู„ุนูŠุฏ ูŠุดุฑุน ููŠู‡ ุชุญูŠุฉ ุงู„ู…ุณุฌุฏ ูƒุบูŠุฑู‡ ู…ู† ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ،
ุฅุฐุง ุฏุฎู„ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ู„ุง ูŠุฌู„ุณ ุญุชู‰ ูŠุตู„ูŠ ุฑูƒุนุชูŠู†. ุงู„ุณุงุฆู„:
ุญุชู‰ ูˆุฅู† ูƒุงู† ุฎุงุฑุฌ ุงู„ู‚ุฑูŠุฉ؟ ุงู„ุฌูˆุงุจ: ูˆุฅู† ูƒุงู† ุฎุงุฑุฌ
ุงู„ู‚ุฑูŠุฉ؛ ู„ุฃู†ู‡ ู…ุณุฌุฏ ุณูˆุงุก ุณُ ูˆِّุฑ ุฃูˆ ู„ู… ูŠُุณَูˆَّุฑ، ูˆุงู„ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰
ุฐู„ูƒ: ุฃู† ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู†ุน ุงู„ู†ุณุงุก ุงู„ุญูŠุถ
ุฃู† ูŠุฏุฎู„ู† ุงู„ู…ุตู„ู‰. ูˆู‡ุฐุง ูŠุฏู„ ุนู„ู‰ ุฃู† ู„ู‡ ุญูƒู… ุงู„ู…ุณุฌุฏ.

Tempat shalat ‘Ied, disyariatkan melaksanakan shalat Tahyatul-masjid di tempat tersebut, seperti masjid-masjid lain. Apabila seseorang masuk ke tempat itu, jangan duduk hingga shalat dua rakaat. Penanya: Meskipun di luar kampung? Jawaban: Meskipun di luar kampung, karena tempat shalat ‘Ied itu adalah masjid, apakah diberi pagar ataupun tanpa pagar. Dalilnya, Rasulullah Saw melarang perempuan yang sedang haidh masuk ke tempat shalat tersebut. Ini menunjukkan bahwa hukum tempat shalat itu sama seperti masjid37.



Contoh Kasus Keempat:


Hukum Poto.
Syekh Ibnu Baz :
Poto Sama Dengan Patung/Lukisan. Syekh Ibnu ‘Utsaimin :
Poto Tidak Sama Dengan Patung/Lukisan.
ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ุนู† ุงู„ู…ุตูˆุฑูŠู† ูˆุฃุฎุจุฑ
ุฃู†ู‡ู… ุฃุดุฏ ุงู„ู†ุงุณ ุนุฐุงุจุง ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ , ูˆู‡ุฐุง ูŠุนู… ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ
ุงู„ุดู…ุณูŠ ูˆุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ุงู„ุฐูŠ ู„ู‡ ุธู„ , ูˆู…ู† ูุฑู‚ ูู„ูŠุณ ุนู†ุฏู‡
ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุนุฑู‚ุฉ .

Rasulullah Saw melaknat al-Mushawwir (orang yang menggambar), beliau memberitahukan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling keras azabnya pada hari kiamat. Ini bersifat umum, mencakup poto dan gambar yang tidak memiliki bayang-bayang. Siapa yang membedakan antara poto dan gambar/patung, maka ia tidak memiliki dalil untuk membedakannya38.

ุฃู…ุง ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ุขู† ุงู„ุฐูŠ ูŠุณู„ุท ููŠู‡ ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุขู„ุฉ ุนู„ู‰
ุฌุณู… ู…ุนูŠู† ููŠู†ุทุจุน ู‡ุฐุง ุงู„ุฌุณู… ููŠ ุงู„ูˆุฑู‚ุฉ ูู‡ุฐุง ููŠ ุงู„ุญู‚ูŠู‚ุฉ
ู„ูŠุณ ุชุตูˆูŠุฑุง،ً ู„ุฃู† ุงู„ุชุตูˆูŠุฑ ู…ุตุฏุฑ ุตูˆุฑ ุฃูŠ: ุฌุนู„
ุงู„ุดูŠุก ุนู„ู‰ ุตูˆุฑุฉ ู…ุนูŠู†ุฉ، ูˆู‡ุฐุง ุงู„ุฐูŠ ุงู„ุชู‚ุทู‡ ุจู‡ุฐู‡ ุงู„ุขู„ุฉ ู„ู…
ูŠุฌุนู„ู‡ ุนู„ู‰ ุตูˆุฑุฉ ู…ุนูŠู†ุฉ، ุงู„ุตูˆุฑุฉ ุงู„ู…ุนูŠู†ุฉ ู‡ูˆ ุจู†ูุณู‡
ูŠุฎุทุท، ูŠุฎุทุท ุงู„ุนูŠู†ูŠู† ูˆุงู„ุฃู†ู ูˆุงู„ุดูุชูŠู†، ูˆู…ุง ุฃุดุจู‡ ุฐู„ูƒ.

Adapun gambar moderen zaman sekarang; seseorang menggunakan alat untuk mengambil gambar objek tertentu, lalu kemudian gambar tersebut terbentuk di kertas, maka itu sebenarnya bukanlah makna tashwir, karena kata tashwir adalah bentuk mashdar dari kata shawwara, artinya: menjadikan sesuatu dalam bentuk tertentu. Sedangkan gambar yang diambil dengan alat tidak menjadikannya dalam bentuk sesuatu. Gambar berbentuk adalah gambar yang dibentuk, bentuk kedua mata, hidung, dua bibir dan sejenisnya39.



Contoh Kasus Kelima:
Umrah Berkali-kali Dalam Satu Perjalanan.
Syekh Ibnu Baz: Boleh. Syekh Ibnu ‘Utsaimin: Bid’ah.
ุชูƒุฑุงุฑ ุงู„ุนู…ุฑุฉ ููŠ ุฑู…ุถุงู†
ุณ : ู‡ู„ ูŠุฌูˆุฒ ุชูƒุฑุงุฑ ุงู„ุนู…ุฑุฉ ููŠ ุฑู…ุถุงู† ุทู„ุจุง ู„ู„ุฃุฌุฑ
ุงู„ู…ุชุฑุชุจ ุนู„ู‰ ุฐู„ูƒ؟
« : ุฌ : ู„ุง ุญุฑุฌ ููŠ ุฐู„ูƒ ، ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุงู„
ุงู„ุนู…ุฑุฉ ุฅู„ู‰ ุงู„ุนู…ุฑุฉ ูƒูุงุฑุฉ ู„ู…ุง ุจูŠู†ู‡ู…ุง ، ูˆุงู„ุญุฌ ุงู„ู…ุจุฑูˆุฑ ู„ูŠุณ
ู„ู‡ ุฌุฒุงุก ุฅู„ุง ุงู„ุฌู†ุฉ ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡ .
ูุฅุฐุง ุงุนุชู…ุฑ ุซู„ุงุซ ุฃูˆ ุฃุฑุจุน ู…ุฑุงุช ูู„ุง ุญุฑุฌ ููŠ ุฐู„ูƒ . ูู‚ุฏ
ุงุนุชู…ุฑุช ุนุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ููŠ ุนู‡ุฏ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡
ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ููŠ ุญุฌุฉ ุงู„ูˆุฏุงุน ุนู…ุฑุชูŠู† ููŠ ุฃู‚ู„ ู…ู† ุนุดุฑูŠู†
ูŠูˆู…ุง .

Berulang-ulang melaksanakan Umrah di bulan Ramadhan.
Pertanyaan: apakah boleh berulang kali melaksanakan Umrah di bulan Ramadhan untuk mencari pahala yang disebabkan ibadah Umrah tersebut?40
Jawaban: Tidak mengapa (boleh). Rasulullah Saw bersabda, “Satu Umrah ke Umrah berikutnya menjadi penutup dosa antara keduanya dan haji yang mabrur itu tidak ada balasannya kecuali surga”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Maka jika Anda melaksanakan Umrah tiga atau empat kali, tidak mengapa (boleh) melakukan itu. Aisyah telah melaksanakan Umrah dua kali pada masa Rasulullah Saw pada waktu haji Wada’, padahal kurangdari dua puluh hari41.

ุชูƒุฑุงุฑ ุงู„ุนู…ุฑุฉ ููŠ ุณูุฑ ูˆุงุญุฏ ู…ู† ุงู„ุจุฏุน
ุงู„ุณุคุงู„: ูุถูŠู„ุฉ ุงู„ุดูŠุฎ! ุจุนุถ ุงู„ู†ุงุณ ูŠุฃุชูŠ ู…ู† ู…ูƒุงู† ุจุนูŠุฏ
ู„ู‡ุฏู ุงู„ุนู…ุฑุฉ ุฅู„ู‰ ู…ูƒุฉ ، ุซู… ูŠุนุชู…ุฑูˆู† ูˆูŠุญู„ูˆู†، ุซู… ูŠุฐู‡ุจูˆู†
ุฅู„ู‰ ุงู„ุชู†ุนูŠู… ุซู… ูŠุคุฏูˆู† ุงู„ุนู…ุฑุฉ، ูŠุนู†ูŠ: ููŠ ุณูุฑู‡ ุนุฏุฉ
ุนู…ุฑุงุช، ููƒูŠู ู‡ุฐุง؟
ุงู„ุฌูˆุงุจ: ู‡ุฐุง ุจุงุฑูƒ ุงู„ู„ู‡ ููŠูƒ ู…ู† ุงู„ุจุฏุน ููŠ ุฏูŠู† ุงู„ู„ู‡؛ ู„ุฃู†ู‡
ู„ูŠุณ ุฃุญุฑุต ู…ู† ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ุง ู…ู†
ุงู„ุตุญุงุจุฉ، ูˆุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒู…ุง ู†ุนู„ู… ุฌู…ูŠุนุง ุฏุฎู„ ู…ูƒุฉ ูุงุชุญุง ููŠ ุขุฎุฑ ุฑู…ุถุงู†، ูˆุจู‚ูŠ ุชุณุนุฉ ุนุดุฑ ูŠูˆู…ุง ููŠ ู…ูƒุฉ ูˆู„ู… ูŠุฎุฑุฌ ุฅู„ู‰ ุงู„ุชู†ุนูŠู… ู„ูŠุญุฑู… ุจุนู…ุฑุฉ، ูˆูƒุฐู„ูƒ
ุงู„ุตุญุงุจุฉ، ูุชูƒุฑุงุฑ ุงู„ุนู…ุฑุฉ ููŠ ุณูุฑ ูˆุงุญุฏ ู…ู† ุงู„ุจุฏุน

 Berulang-ulang Umrah Dalam Satu Safar Adalah Bid’ah.
Pertanyaan: Syekh yang mulia, ada sebagian orang datang dari tempat yang jauh untuk tujuan Umrah ke Mekah, kemudian melaksanakan Umrah dan Tahallul. Kemudian mereka pergi ke Tan’im, kemudian melaksanakan Umrah lagi. Maksudnya, dalam satu perjalanan, ia melaksanakan Umrah beberapa kali. Bagaimanakah ini?
Jawaban: semoga Allah memberikan berkah-Nya kepada Anda. Ini termasuk perbuatan bid’ah dalam agama Allah. Karena tidak ada yang lebih bersemangat melaksanakan ibadah melebihi Rasulullah Saw dan para shahabat. Sedangkan Rasulullah Saw sebagaimana yang kita ketahui semua bahwa beliau masuk ke kota Mekah pada pembebasan kota Mekah pada akhir Ramadhan. Menetap sembilan belas hari di Mekah, Rasulullah Saw tidak pergi ke Tan’im untuk ihram melaksanakan Umrah. Demikian juga para shahabat. Maka berulang-ulang melaksanakan umrah dalam satu safar adalah bid’ah42.



 Contoh Kasus Keenam:
Tarawih 23 Rakaat
Syekh Ibnu Baz: Boleh. Syekh al-Albani:
Tidak Boleh Lebih Dari 11 Rakaat.
ูุงู„ุฃูุถู„ ู„ู„ู…ุฃู…ูˆู… ุฃู† ูŠู‚ูˆู… ู…ุง ุงู„ุฅู…ุงู… ุญุชู‰ ูŠู†ุตุฑู ،
ุณูˆุงุก ุตู„ู‰ ุฅุญุฏู‰ ุนุดุฑุฉ ุฑูƒุนุฉ ุฃูˆ ุซู„ุงุซ ุนุดุฑุฉ ุฃูˆ ุซู„ุงุซุง
ูˆุนุดุฑูŠู† ุฃูˆ ุบูŠุฑ ุฐู„ูƒ.
ู‡ุฐุง ู‡ูˆ ุงู„ุฃูุถู„ ุฃู† ูŠุชุงุจุง ุงู„ุฅู…ุงู… ุญุชู‰ ูŠู†ุตุฑู ، ูˆุงู„ุซู„ุงุซ
ูˆุงู„ุนุดุฑูˆู† ูุนู„ู‡ุง ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูˆุงู„ุตุญุงุจุฉ - -
ูู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ู†ู‚ุต ูˆู„ูŠุณ ููŠู‡ุง ุฅุฎู„ุงู„ ، ุจู„ ู‡ูŠ ู…ู† ุงู„ุณู†ู† -
ุณู†ู† ุงู„ุฎู„ุนุงุก ุงู„ุฑุงุดุฏูŠู†

Afdhal bagi ma’mum mengikuti imam hingga shalat selesai, apaka shalat (Tarawih) itu 11 rakaat, atau 13 rakaat, atau 23 rakaat, atau selain itu. Inilah yang afdhal, ma’mum mengikuti imamnya hingga imam selesai. 23 rakaat adalah perbuatan Umar ra dan para shahabat, tidak ada kekurangan dan kekacauan di dalamnya, akan tetapi bagian dari Sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidin43.

ุงู‚ุชุตุงุฑู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู„ู‰ ุงู„ุฅุญุฏู‰ ุนุดุฑุฉ ุฑูƒุนุฉ
ุฏู„ูŠู„ ุนู„ู‰ ุนุฏู… ุฌูˆุงุฒ ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ุนู„ูŠู‡ุง

Rasulullah Saw hanya melaksanakan shalat 11 rakaat, ini dalil tidak boleh menambah lebih daripada itu.
Selanjutnya Syekh al-Albani berkata,

ุตู„ุงุฉ ุงู„ุชุฑุงูˆูŠุญ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุงู„ุฒูŠุงุฏุฉ ููŠู‡ุง ุนู„ู‰ ุงู„ุนุฏุฏ ุงู„ู…ุณู†ูˆู†
ู„ุงุดุชุฑุงูƒู‡ุง ู…ุง ุงู„ุตู„ูˆุงุช ุงู„ู…ุฐูƒูˆุฑุงุช ููŠ ุงู„ุชุฒุงู…ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡
ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนุฏุฏุง ู…ุนูŠู†ุง ููŠู‡ุง ู„ุง ูŠุฒูŠุฏ ุนู„ูŠู‡ ูู…ู† ุงุฏุนู‰
ุงู„ุนุฑู‚ ูุนู„ูŠู‡ ุงู„ุฏู„ูŠู„

Shalat Tarawih, tidak boleh ada tambahan (rakaat) melebihi jumlah yang disunnatkan, karena shalat Tarawih sama dengan shalat-shalat yang dilaksanakan Rasulullah Saw secara konsisten dengan jumlah rakaat tertentu, tidak boleh ditambah. Siapa yang menyatakan ada beda antara Tarawih dengan shalat lain, maka ia mesti menunjukkan dalil44.

 Pendapat Syekh Ibnu Utsaimin: Boleh.
ุญุฏูŠุซ ุงุจู† ุนุจุงุณ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุตู„ู‰ ู…ู† ุงู„ู„ูŠู„ ุซู„ุงุซ ุนุดุฑุฉ ุฑูƒุนุฉ.
ูˆู„ูƒู† ู„ูˆ ุตู„ุงู‡ุง ุงู„ุฅู†ุณุงู† ุซู„ุงุซ ูˆุนุดุฑูŠู† ุฑูƒุนุฉ ูุฅู†ู‡ ู„ุง ูŠู†ูƒุฑ ุนู„ูŠู‡؛ ู„ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ู… ูŠุญุฏุฏ ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ุจุนุฏุฏ
ู…ุนูŠู†، ุจู„ ุณุฆู„ ูƒู…ุง ููŠ ุตุญูŠุญ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ุนู† ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…ุง ุนู† ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ ู…ุง ุชุฑู‰ ููŠู‡ุง؟ ูู‚ุงู„: "ุตู„ุงุฉ ุงู„ู„ูŠู„ - -
ู…ุซู†ู‰، ู…ุซู†ู‰ ูุฅุฐุง ุฎุดูŠ ุฃุญุฏูƒู… ุงู„ุตุจุญ ุตู„ู‰ ูˆุงุญุฏุฉ ูุฃูˆุชุฑุช ู„ู‡ ู…ุง ุตู„ู‰"، ูุจูŠู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู†ู‡ุง ู…ุซู†ู‰ ู…ุซู†ู‰، ูˆู„ู…
ูŠุญุฏุฏ ุงู„ุนุฏุฏ، ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ุงู„ุนุฏุฏ ูˆุงุฌุจุง ุจุดูŠุก ู…ุนูŠู† ู„ุจูŠู†ู‡ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…، ูˆุนู„ู‰ ู‡ุฐุง ูู„ุง ูŠู†ูƒุฑ ุนู„ู‰ ู…ู† ุตู„ุงู‡ุง ุซู„ุงุซ
ูˆุนุดุฑูŠู† ุฑูƒุนุฉ.

Hadits riwayat Ibnu Abbas ra, sesungguhnya Rasulullah Saw melaksanakan shalat malam 13 rakaat. Akan tetapi jika seseorang melaksanakan shalat 23 rakaat, maka ia tidak diingkari. Karena Rasulullah Saw tidak membatasi shalat malam dengan jumlah bilangan tertentu. Bahkan ketika Rasulullah Saw ditanya -sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari Ibnu Umar- tentang shalat malam, “Apa pendapatmu?”. Rasulullah Saw menjawab, “Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat (satu salam). Jika salah seorang kamu khawatir (masuk waktu) shalat Shubuh, maka shalatlah satu rakaat, maka engkau telah menutup dengan Witir”. Rasulullah Saw menjelaskan bahwa shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat. Rasulullah Saw tidak membatasi jumlah bilangan rakaat. Jika jumlah rakaat itu wajib dengan jumlah tertentu, pastilah Rasulullah Saw menjelaskannya. Dengan demikian maka tidak diingkari siapa yang melaksanakan shalat 23 rakaat45.

 Contoh Kasus Ketujuh:
Membaca Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat Tarawih.
Syekh Ibnu Baz: Boleh Syekh al-Albani: Bid’ah.
24 ุญูƒู… ุฏุนุงุก ุฎุชู… ุงู„ู‚ุฑุขู† ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ -
ุณ: ุจุนุถ ุงู„ู†ุงุณ ูŠู†ูƒุฑูˆู† ุนู„ู‰ ุฃุฆู…ุฉ ุงู„ู…ุณุงุฌุฏ ุงู„ุฐูŠู†
ูŠู‚ุฑุกูˆู† ุฎุชู…ุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ููŠ ู†ู‡ุงูŠุฉ ุดู‡ุฑ ุฑู…ุถุงู† ูˆูŠู‚ูˆู„ูˆู†
ุฅู†ู‡ ู„ู… ูŠุซุจุช ุฃู† ุฃุญุฏุง ู…ู† ุงู„ุณู„ู ูุนู„ู‡ุง، ูู…ุง ุตุญุฉ ุฐู„ูƒ؟
: ู„ุง ุญุฑ ููŠ ุฐู„ูƒ؛ ู„ุฃู†ู‡ ุซุจุช ุนู† ุจุนุถ ุงู„ุณู„ู ุฃู†ู‡ ูุนู„
ุฐู„ูƒ؛ ูˆู„ุฃู†ู‡ ุฏุนุงุก ูˆุฌุฏ ุณุจุจู‡ ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุชุนู…ู‡ ุฃุฏู„ุฉ

ุงู„ุฏุนุงุก ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูƒุงู„ู‚ู†ูˆุช ููŠ ุงู„ูˆุชุฑ ูˆููŠ ุงู„ู†ูˆุงุฒู„. ูˆุงู„ู„ู‡
ูˆู„ูŠ ุงู„ุชูˆููŠู‚.

24- Hukum Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat.
Pertanyaan: Sebagian orang mengingkari para imam masjid yang membaca doa khatam Qur’an di akhir bulan Ramadhan, mereka mengatakan bahwa tidak shahih ada kalangan Salaf melakukannya. Apakah itu benar?46
Jawaban: Tidak mengapa melakukan itu (boleh). Karena perbuatan itu benar dari sebagian kalangan Salaf melakukan itu. Karena doa itu adalah doa yang ada sebabnya di dalam shalat, maka tercakup dalil-dalil yang bersifat umum tentang doa dalam shalat, seperti doa Qunut dalam shalat Witir dan bencana-bencana. Wallahu Waliyyu at-Taufiq47.

Waktu Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat Tarawih:


ุณ : ู…ุง ู…ูˆุถุง ุฏุนุงุก ุฎุชู… ุงู„ู‚ุฑุขู† ؟ ูˆู‡ู„ ู‡ูˆ ู‚ุจู„ ุงู„ุฑูƒูˆุน
ุฃู… ุจุนุฏ ุงู„ุฑูƒูˆุน ؟
: ุงู„ุฃูุถู„ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุจุนุฏ ุฃู† ูŠูƒู…ู„ ุงู„ู…ุนูˆุฐุชูŠู† ูุฅุฐุง ุฃูƒู…ู„
ุงู„ู‚ุฑุขู† ูŠุฏุนูˆ ุณูˆุงุก ููŠ ุงู„ุฑูƒุนุฉ ุงู„ุฃูˆู„ู‰ ุฃูˆ ููŠ ุงู„ุซุงู†ูŠุฉ ุฃูˆ
ููŠ ุงู„ุฃุฎูŠุฑุฉ ، ูŠุนู†ูŠ ุจุนุฏ ู…ุง ูŠูƒู…ู„ ู‚ุฑุงุกุฉ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูŠุจุฏุฃ ููŠ
ุงู„ุฏุนุงุก ุจู…ุง ูŠุชูŠุณุฑ ููŠ ุฃูŠ ูˆู‚ุช ู…ู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ููŠ ุงู„ุฃูˆู„ู‰
ู…ู†ู‡ุง ุฃูˆ ููŠ ุงู„ูˆุณุท ุฃูˆ ููŠ ุขุฎุฑ ุฑูƒุนุฉ. ูƒู„ ุฐู„ูƒ ู„ุง ุจุฃุณ ุจู‡
، ุงู„ู…ู‡ู… ุฃู† ูŠุฏุนูˆ ุนู†ุฏ ู‚ุฑุงุกุฉ ุขุฎุฑ ุงู„ู‚ุฑุขู†

Pertanyaan: Bila kah doa khatam al-Qur’an dibaca? Apakah sebelum ruku’ atau setelah ruku’?
Jawaban: afdhal dibaca setelah membaca surat al-Falaq dan an-Nas. Jika telah selesai membaca al-Quran secara sempurna, kemudian berdoa, apakah pada rakaat pertama atau pada rakaat kedua atau di akhir shalat. Maksudnya, setelah sempurna membaca al-Qur’an, mulai membaca doa khatam al-Qur’an di semua waktu dalam shalat, apakah di awal, di tengah atau di akhir rakaat. Semua itu boleh. Yang penting, membaca doa khatam al-Qur’an ketika membaca akhir al-Qur’an48.

Ketika Syekh al-Albani ditanya tentang doa khatam al-Qur’an dalam shalat Tarawih, beliau menjawab,

ู„ูŠุณ ู„ู‡ ุฃุตู„... ุฅุฐุง ุฎุชู… ุงู„ู…ุณู„ู… ูŠุณู† ููŠ ุญู‚ู‡ ุฃูˆ ูŠุณุชุญุจ
ุฃู† ูŠุฏุนูˆ... ุฃู…ุง ุฎุชู… ุงู„ู‚ุฑุขู† ู‡ูƒุฐุง ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ، ุตู„ุงุฉ
ุงู„ู‚ูŠุงู…، ูู‡ุฐุง ุงู„ุฏุนุงุก ุงู„ุทูˆูŠู„ ุงู„ุนุฑูŠุถ، ู‡ุฐุง ู„ุง ุฃุตู„ ู„ู‡ ุฅุทู„ุงู‚ุง

Tidak ada dasarnya, jika seorang muslim khatam al-Qur’an, maka ia berhak, atau dianjurkan berdoa. Adapun khatam al-Qur’an seperti ini dalam shalat, saat shalat Qiyamullail, dengan doa yang panjang, ini tidak ada dasarnya sama sekali49.
Syekh al-Albani berkata di tempat lain,

ุฃู† ุงู„ุชุฒุงู… ุฏุนุงุก ู…ุนูŠู† ุจุนุฏ ุฎุชู… ุงู„ู‚ุฑุขู† ู…ู† ุงู„ุจุฏุน ุงู„ุชูŠ ู„ุง
ุชุฌูˆุฒ ؛ ู„ุนู…ูˆู… ุงู„ุฃุฏู„ุฉ ، ูƒู‚ูˆู„ู‡ ุตَ ู„َّู‰ ุงู„ู„ََُّّ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ :
"ูƒู„ ุจุฏุนุฉ ุถู„ุงู„ุฉ ، ูˆูƒู„ ุถู„ุงู„ุฉ ููŠ ุงู„ู†ุงุฑ"

Sesungguhnya konsisten dengan doa tertentu setelah khatam al-Qur’an adalah bagian dari perbuatan bid’ah yang tidak dibolehkan berdasarkan dalil umum seperti sabda Rasulullah Saw, “Setiap bid’ah itu dhalalah (sesat) dan setiap yang sesat itu dalam neraka”50.



Pendapat Syekh Ibnu ‘Utsaimin: Tidak Ada Dasarnya, Tapi Hormati Perbedaan.
  ูˆุฃู…ุง ุฏุนุงุก ุฎุชู… ุงู„ู‚ุฑุขู† ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู„ุง ุฃุนู„ู… ู„ู‡ ุฃุตู„ุงً ู„ุง ู…ู† ุณู†ุฉ ุงู„ุฑุณูˆู„ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…، ูˆู„ุง ู…ู† ุณู†ุฉ ุงู„ุตุญุงุจุฉ,
ูˆุบุงูŠุฉ ู…ุง ููŠู‡: ุฃู† ุฃู†ุณ ุจู† ู…ุงู„ูƒ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ ูƒุงู† ุฅุฐุง ุฃุฑุงุฏ ุฃู† ูŠุฎุชู… ุงู„ู‚ุฑุขู† ุฌู…ุง ุฃู‡ู„ู‡ ูˆุฏุนุง.
ูˆู‡ุฐุง ููŠ ุบูŠุฑ ุงู„ุตู„ุงุฉ, ุฃู…ุง ููŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู„ูŠุณ ู„ู‡ุง ุฃุตู„, ู„ูƒู† ู…ุง ุฐู„ูƒ ู‡ูŠ ู…ู…ุง ุงุฎุชู„ู ููŠู‡ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุฑุญู…ู‡ู… ุงู„ู„ู‡, ุนู„ู…ุงุก
ุงู„ุณู†ุฉ ูˆู„ูŠุณูˆุง ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุจุฏุนุฉ, ูˆุงู„ุฃู…ุฑ ููŠ ู‡ุฐุง ูˆุงุณุง, ูŠุนู†ูŠ: ู„ุง ูŠู†ุจุบูŠ ู„ู„ุฅู†ุณุงู† ุฃู† ูŠุดุฏุฏ ุญุชู‰ ูŠุฎุฑ ุนู† ุงู„ู…ุณุฌุฏ
ูˆูŠุนุงุฑู‚ ุฌู…ุงุนุฉ ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู† ู…ู† ุฃุฌู„ ุงู„ุฏุนุงุก ุนู†ุฏ ุฎุชู… ุงู„ู‚ุฑุขู†

Adapun doa khatam al-Qur’an dalam shalat, saya tidak mengetahui ada dasarnya dari Sunnah Rasulullah Saw, tidak pula dari Sunnah para shahabat. Dalil paling kuat dalam masalah ini bahwa ketika Anas bin Malik ingin khatam al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarganya, kemudian ia berdoa. Tapi ini di luar shalat. Adapun membaca doa khatam al-Qur’an di dalam shalat, maka tidak ada dasarnya. Meskipun demikian, ini termasuk perkara ikhtilaf di antara para ulama, ulama Sunnah, bukan ulama bid’ah. Perkara ini luas, maksudnya, tidak selayaknya seseorang bersikap keras hingga keluar dari masjid dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin disebabkan doa khatam al-Qur’an51.

 Contoh Kasus Kedelapan:
Zikir Menggunakan Tasbih.
Syekh ‘Utsaimin: Boleh. Syekh al-Albani: Bid’ah.
ูุฅู† ุงู„ุชุณุจูŠุญ ุจุงู„ู…ุณุจุญุฉ ู„ุง ูŠุนุฏ ุจุฏุนุฉ ููŠ ุงู„ุฏูŠู†؛ ู„ุฃู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ
ุจุงู„ุจุฏุนุฉ ุงู„ู…ู†ู‡ูŠ ุนู†ู‡ุง ู‡ูŠ ุงู„ุจุฏุน ููŠ ุงู„ุฏูŠู†، ูˆุงู„ุชุณุจูŠุญ
ุจุงู„ู…ุณุจุญุฉ ุฅู†ู…ุง ู‡ูˆ ูˆุณูŠู„ุฉ ู„ุถุจุท ุงู„ุนุฏุฏ، ูˆู‡ูŠ ูˆุณูŠู„ุฉ
ู…ุฑุฌูˆุญุฉ ู…ุนุถูˆู„ุฉ، ูˆุงู„ุฃูุถู„ ู…ู†ู‡ุง ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุนุฏ ุงู„ุชุณุจูŠุญ
ุจุงู„ุฃุตุงุจุง.

Sesungguhnya bertasbih menggunakan Tasbih tidak dianggap berbuat bid’ah dalam agama, karena maksud bid’ah yang  dilarang adalah bid’ah dalam agama. Sedangkan bertasbih menggunakan Tasbih adalah cara untuk menghitung jumlah bilangan (zikir). Tasbih adalah sarana yang marjuhah (lawan rajih/kuat) dan mafdhulah (lawan afdhal). Afdhalnya menghitung tasbih itu dengan jari jemari52.

ุฅู† ุงู„ุณุจุญุฉ ุจุฏุนุฉ ู„ู… ุชูƒู† ููŠ ุนู‡ุฏ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆ
ุณู„ู… ุฅู†ู…ุง ุญุฏุซุช ุจุนุฏู‡

Sesungguhnya Tasbih itu bid’ah, tidak ada pada zaman Rasulullah Saw, dibuat-buat setelah masa Rasulullah Saw53

 Beberapa pelajaran dari uraian di atas:

Pertama, bahwa ikhtilaf dalam memahami nash (teks) bukan perkara baru, sudah terjadi ketika Rasulullah Saw masih hidup, kemudian berlanjut hingga zaman shahabat setelah ditinggalkan Rasulullah Saw, hingga sampai sekarang ini. Maka yang perlu dilakukan bukan menghilangkan ikhtilaf, seperti rendah hatinya Imam Malik yang tidak mau memaksakan Mazhab Maliki, tapi memahami ikhtilaf sebagai dinamika dan kekayaan khazanah keilmuan Islam, selama ikhtilaf itu dalam masalah furu’, bukan masalah ushul, sebagaimana yang dicontohkan para Shalafusshaleh diatas.
Kedua,, berbeda dalam masalah furu’ tidak menyebabkan ummat Islam saling membid’ahkan. Karena Imam Ahmad bin Hanbal tidak membid’ahkan Imam Syafi’i dan para pengikutnya hanya karena mereka membaca doa Qunut pada shalat Shubuh. Kecenderungan membid’ah orang lain ketika berbeda pendapat, ini berbahaya, contoh: orang yang berpegang pada pendapat Syekh al-Albani, ketika akan turun sujud, ia akan mendahulukan tangan. Jika ia tidak dapat menerima pendapat yang mengatakan mendahulukan lutut, berarti ia membid’ahkan Syekh Ibnu Utsaimin dan Syekh Ibnu Baz.

Contoh lain, orang yang datang ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, jika ia berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Utsaimin, maka ia akan melaksanakan shalat Tahyatul-masjid. Orang yang berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Baz yang mengatakan tidak ada shalat Tahyatal-masjid di tanah lapang tempat shalat Ied. Ia mesti dapat menerima perbedaan, jika tidak dapat menerima perbedaan pendapat, maka ia pasti akan membid’ahkan orang-orang yang berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Utsaimin.
Ketiga, seperti yang diwasiatkan al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna,

ู†ุนู…ู„ ููŠู…ุง ุงุชุนู‚ู†ุง ูˆู†ุนุชุฐุฑ ููŠู…ุง ุงุฎุชู„ุนู†ุง

“Mari beramal pada perkara yang kita sepakati, dan mari berlapang dada menyikapi perkara yang kita ikhtilaf di dalamnya”.

Sumber dari file pdf, 37 Masalah Populer oleh Ustad Abdul Somad Lc MA. Jika terdapat kesalahan copy paste dalam tulisan di atas, terutama untuk huruf arab, silahkan merujuk ke sumber aslinya. Download di sini.

untuk dipakai sendiri atau cari cuan dengan jualan lagi?

Daftar Agen Pulsa sekarang juga, gratis!
Advertisement

Postingan Terkait

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

RANDOM POST

Advertisement

Iklan

Close x